100 Women: Salsabila Khairunisa, remaja Indonesia penggerak ‘Mogok Sekolah untuk Hutan’

100 Women: Salsabila Khairunisa, remaja Indonesia penggerak 'Mogok Sekolah untuk Hutan'

Gelombang protes besar yang dimulai Greta Thunberg di Eropa menginspirasi seorang taruna asal Indonesia, Salsabila Khairunisa. Tepat pada 13 Januari 2020, muda 17 tahun ini untuk kala pertama melancarkan aksinya: ‘Mogok Sekolah Untuk Hutan’.

Sebelumnya ia membangun sebuah platform di jalan sosial bernama Jaga Rimba —yang menjadi wadah bersama bagi anak-anak seumurnya berdiskusi tentang perlindungan asosiasi adat dan bagaimana menjaga hutan. Apakah segala aksinya berdampak?

Senin pagi, 13 Januari tahun 2020, takkan sudah dilupakan Salsabila Khairunisa.

Remaja 17 tahun itu untuk kali mula-mula melancarkan aksinya, bolos sekolah perlu menjaga lingkungan. Dari rumahnya dalam daerah Jakarta Selatan, ia terbang bus TransJakarta menuju satu wadah, Gedung Manggala Wanabakti di Jakarta Pusat.

Begitu sampai, ia membentangkan sepotong kardus bertuliskan ‘Mogok Madrasah Untuk Hutan’ tepat di depan pintu Menteri Siti Nurbaya berkantor.

Tak sampai dua jam datang di depan gedung Kementerian Dunia Hidup dan Kehutanan (KLHK), Abil dikerubuti satpam dan polisi daripada Polres Tanah Abang.

Ia dicecar tentang maksud dari aksinya.

“Setelah agak alot, akhirnya jam 10 pagi itu saya pulang. Kardus saya disita dan humas KLHK suruhan saya bikin surat audiensi. Beta manggut-manggut aja , ” ceritanya sambil terkekeh menetapi kejadian itu.

Selang tiga hari, tepatnya 17 Januari 2020, cukup umur yang biasa disapa dengan sebutan Abil ini kembali datang dan lagi-lagi diusir. Awalnya dia bersungguh-sungguh tidak mau pulang, namun belakangan dia mengalah dengan berdemonstrasi di luar gedung.

“Dari situ saya selalu kirim surat ke Polsek Tanah Abang kalau mau aksi, siap nggak bisa asal usir. ”

“Saya serupa kirim surat audiensi ke Gajah. ”

Dari dua hari bolos madrasah itu, pihak SMA Negeri 34 Jakarta menanyakan kabar muridnya itu ke orang tua.

Orang primitif Abil menagih janji anak sulungnya itu agar bertanggung jawab berasaskan tindakannya dan berani menanggung akibatnya. Abil menawarkan solusi tak terkira, keluar dari sekolah.

Farida, ibu Abil, membenarkan cerita itu. Dia bahkan mendatangi wali kelas serta teman-teman Abil agar mengurungkan niat anaknya.

Tapi Abil keras di sikapnya dan perempuan 45 tarikh ini tak bisa berbuat apa-apa lagi.

“Karena dia semangat banget , nggak bisa disetop ataupun dilarang dan dia meyakinkan aku akan terus sekolah. Ya telah saya izinkan dia dan membantu karena kegiatannya positif, ” cakap Farida.

Kepala sekolah, kata Abil, sebenarnya berniat ia tetap bersekolah di kian. Tapi tekadnya sudah bulat untuk terus menjalankan kampanye ‘Mogok Sekolah Untuk Hutan’.

Pada 30 Januari 2020, Abil pun resmi berhenti menjelma siswa IPA Kelas 3 di SMA Negeri 34 Jakarta serta beralih ke homeschooling .

Mengapa tertarik pada persoalan lingkungan?

Alam dan lingkungan bukan situasi baru bagi anak Jakarta itu. Setiap kali libur sekolah, ia diajak orang tuanya liburan ke kampung halaman mereka di Bandung, Jawa Barat.

Tiap kali menjelajahi daerah dengan penduduk terbesar di Nusantara itu, Abil selalu takjub pada gunung, riam, dan hamparan hutan.

Sepadan kali, ia mendengar kampanye SaveCiharus yang digaungkan kelompok masyarakat Ingat Kawasan.

“Jadi hutan lindung Ciharus mau diturunkan statusnya menjadi Rajin Wisata Alam. Waktu saya menimbrung aksi ke hutan Ciharus, saya merasa tidak berdaya. Saya lihat langsung pembangkit listrik panas bumi dekat dengan cagar alam. ”

“Hutan yang menjelma rumah bagi satwa dimasuki mesin trail . Tersebut seminggu saya nangis karena kok ada manusia sejahat itu, ” imbuh Abil.

Kesadarannya akan makna penting hutan menguat ketika melihat video-video masyarakat adat Laman Kinipan di Kalimantan Tengah dan kebakaran hutan di Kalimantan pada 2019.

‘Men-Jaga Rimba’

Karena pernah memimpin organisasi dalam sekolah dan terlibat di sistem lingkungan, Abil terpikir membangun suatu platform di media sosial dengan menjadi wadah bersama bagi anak-anak seumurnya berdiskusi tentang perlindungan masyarakat adat dan bagaimana menjaga hutan.

Wadah itu pun lahir pada Maret 2019 dan dinamai Jaga Rimba.

Mula-mula, hanya segelintir kawan-kawan sekelasnya yang tertarik pada ide Abil.

Tapi karena promosi dari keras ke mulut, pengikut Jaga Rimba membesar dan kini hampir 4. 000 pengikut di Instagram.

“Intinya kami mau belajar lewat medium tersebut tapi juga merangkul teman-teman yang punya concern yang sama minus takut dibilang ‘ah anak kecil, sok tau’. ”

Mulai daripada saling kenal di Instagram berlanjut ke kongko bersama, Abil & teman-temannya berdiskusi mengenai kondisi hutan di Indonesia. Dari situ mereka mulai mengampanyekan persoalan Cagar Negeri Ciharus dan masyarakat adat Laman Kinipan di Instagram Jaga Rimba.

Kini, Jaga Rimba mencoba mengutarakan perjuangan masyarakat adat yang tumbuh di hutan Akejira di Maluku Utara.

“Selain itu ada rusaknya hutan di Sumatera Utara, food estate , dan deforestasi di Papua. Tahun depan kami mau fokus ke sana, ” kata pendahuluan Abil.

Segala permasalahan itu, diakui Abil tak gampang dicerna anak bujang. Apalagi anak-anak muda Jakarta.

Itu mengapa ia menggunakan media sosial terutama Instagram untuk menggaet perhatian dengan bahasa yang mudah dicerna dan infografis yang kekinian.

Kadang-kadang, teman-teman di Jaga Rimba mengambil alih ruang kelas untuk mempresentasikan isu-isu mereka.

“Tapi yang paling sakti media sosial. ”

“Bagaimana kami bisa kemas jadi suatu bacaan yang enak dicerna teman-teman seumuran. Rupanya bosan nggak yah kalau baca begini… ”

“Misalnya kerusakan hutan dikonteks-kan dengan banjir di Jakarta. Dari situ kan kayak, ‘gila juga kalau banjir terus terowongan nggak bisa main, nonton… ”

Salah satu teman di Bangun Rimba, Thoriq Yahya, ikut aliran ini sejak tahun lalu. Dia terdorong karena isu yang dibawa bersentuhan dengan kehidupan sosial.

“Di Jaga Rimba nggak hanya bahas hutan yang harus dilindungi tapi masyarakat adat dibahas. Isu-isu sosial berkaitan dengan hutan, ” ucap Yahya.

Lewat Jaga Rimba jugalah, pandangan remaja 17 tahun ini terhadap masyarakat adat berganti.

“Saya dulu nggak punya ide apa itu masyatakat adat. Yang saya terang mereka tinggal di hutan dan primitif. Setelah join , saya pada ide dengan jalan apa kunci perlindungan hutan adalah klub adat. ”

Dikira ‘Greta Wanna Be’, tapi ‘saya punya cerita sendiri’

Gelombang protes dan mogok sekolah tiap Jumat yang digaungkan seorang gadis muda asal Swedia, Greta Thunberg, pada September 2019, menyadarkan Abil bahwa “ia tak sendirian”.

Baginya, tak apa mengorbankan apa yang baginya penting kala itu, yakni madrasah asalkan keresahannya didengar.

Lagi pula, era depan tak melulu soal kegiatan di perusahaan ternama dan hidup mapan.

“Masa depan apa dengan menunggu saya ketika keluar madrasah? Sementara kerusakan hutan terus berlaku, ” tukas Abil.

Meluasnya gerakan bolos sekolah tiap Jumat oleh Greta, setidaknya menginspirasinya melakukan hal serupa, Macet Sekolah Untuk Hutan.

Setiap Jumat, Abil dan kawan-kawannya mogok di depan kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta Pusat.

Karena poster tulisan ‘Mogok Sekolah Untuk Hutan’ itu, kadang-kadang pejalan kaki atau pengendara motor menepi dan bertanya apa target kata-kata itu.

Abil senang kalau ada yang bertanya, sebab paling tidak aksinya menarik perhatian.

Sejak kelakuan mereka pula, audiensi dengan dilayangkan ke Menteri Siti Nurbaya membuahkan hasil.

Pada 5 Februari 2020, Jaga Rimba beraudiensi secara Wakil Menteri Alue Dohong. Era itu, belasan anak-anak sekolah mengirimkan konflik hutan adat Laman Kinipan di Kalimantan Tengah dan kasus di hutan lindung Ciharus Jawa Barat.

Sejak melancarkan ‘Mogok Sekolah Untuk Hutan’ Abil acap disangka Greta-nya Indonesia. Tapi ia menolak nama itu.

“Saya kurang suka disamakan secara Greta, karena saya punya jati sendiri dan punya cerita sendiri yang berbeda dengan cerita Greta, ” imbuhnya.

“Dengan label Greta Wanna Be , secara tidak langsung menghapus bahana teman-teman yang tidak terdengar. ”

Ia pun berharap makin banyak bujang muda yang peduli pada lingkungan sebagai tabungan masa depan.

BBC 100 Women mengangkat 100 perempuan berpengaruh dan inspiratif setiap tahun dan membagikan kisah itu. Temukan kami di Facebook, Instagram dan Twitter, dan gunakan # BBC100Women.