Anglo oli bekas sampai mesin ekstraksi tebu, bagaimana memastikan muda-mudi Papua terus berinovasi?

kompor-oli-bekas-sampai-mesin-ekstraksi-tebu-bagaimana-memastikan-muda-mudi-papua-terus-berinovasi-14

sejam yang lalu

Tugas akhir di pucuk jenjang pendidikan strata satunya memberi kesempatan bagi Yason Agapa menjumpai ide membuat kompor berbahan menjilat oli bekas.

Kreasinya itu dasar bukan sama sekali baru. Tetapi, inovasi mahasiswa Universitas Cenderawasih asal Deiyai Papua itu diyakini santun lingkungan, karena mendaur ulang oli bekas yang selama ini dibuang begitu saja.

Muda-mudi asal Papua berulang kali mencuat berkat prestasi cemerlang di bidang akademik. Tahun lalu, sejumlah inovasi yang dianggap sanggup bermanfaat bagi komunitas lokal pula bermunculan dalam ajang pencarian ‘ilmuwan muda Papua’.

Lantas, bagaimana memastikan pada setiap bakat muda Papua berpeluang mendirikan terobosan teknologi? Dan dapatkah permutasi mereka menjadi solusi banyak persoalan di Papua?

Yason, dengan menamatkan kuliahnya akhir tahun 2020, mengungkapkan sempat dipandang sebelah serampangan saat mengajukan gagasan membuat kompor berbahan oli bekas ini.

Namun Yason yakin dapat menerapkan ide tersebut, yang menurutnya tidak sulit dikerjakan.

“Proposal tugas akhir saya pertamanya mengenai mesin parut kelapa. Tapi pengajar tidak setuju karena kakak-kakak tingkat saya sudah pernah membuatnya, ” ujar Yason saat dihubungi, awal Februari lalu.

“Saya lalu maju dengan proposal baru. Dosen pembimbing nanar, ini kompor apa? Kompor membentuk banyak, kata dia. Ini kompor oli bekas, kata saya. ”

“Pembimbing dan penguji waktu itu panik. Saya bilang tidak apa-apa, nanti saya bikin kompor ini datang jadi, ” lanjut Yason.

Dia mengaku tidak menghabiskan waktu lama buat merangkai kompor oli bekas tersebut. Tantangan terbesarnya justru menemukan pedagang mesin peniup angin atau blower di Jayapura.

Mesin ini menjadi bagian termahal kompornya, seharga sekitar Rp1 juta.

“Produksinya selesai dalam satu jam, kalau bahannya sudah lengkap. Mesin blower susah dicari, harus pesan dari luar. Kemarin aku beli di Jayapura, tapi itu bilang cuma ada satu, ” tuturnya.

Proses menyalakan kompor buatan Yason memerlukan waktu sekitar lima menit. Mula-mula, mesin peniup angin harus dioperasikan. Angin dari mesin ini dialirkan menuju tungku melalui pipa sepanjang satu meter.

Yason menampung oli tanda di dalam galon air minum. Galon ini diletakkan dalam kedudukan yang lebih tinggi dari blower dan tungku.

Setelah mesin peniup jalan berputar, oli bekas diteteskan melalui pipa kecil agar mengalir ke tungku. Setelah itu, barulah Yason menyalakan sumbu di tungku memakai korek api.

“Kompor ini aman. Tak akan terbakar atau meledak, ” klaim Yason.

Empat bulan setelah kompor buatannya di- acc tim dosen, Yason mengiakan sudah menjual lebih dari 50 kompor ke warga Jayapura serta Nabire.

Yason berkata, pembeli tidak cuma menggunakannya untuk keperluan sendi tangga, tapi juga untuk membakar babi dalam ritual adat serta acara keagamaan.

Yason menjual kompor tersebut seharga Rp2 juta atau relatif lebih tinggi daripada kompor gas biasa. Dia berkata, angka tersebut muncul karena harga komponen dasar kompor ini, salah satunya instrumen peniup angin, memang mahal.

“Kompor pelik lebih murah, tapi kompor tersebut apinya lebih besar, masak jadi lebih cepat. Bahan bakarnya kalau habis juga tinggal ambil pada bengkel, ” kata Yason.

Pada tahun 2016, tiga mahasiswa Universitas Sriwijaya pada Palembang menciptakan kompor multi pelajaran bakar. Bukan cuma oli tanda, kompor buatan mereka itu serupa bisa menyala dengan memanfaatkan patra jelantah.

Empat tahun sebelumnya, dua pengkaji di Badan Pengkajian dan Implementasi Teknologi (BPPT), juga pernah melaksanakan kompor berbahan bakar minyak jelantah.

Bagaimanapun, Yason ragu inovasinya ini mampu memberikan jaminan masa depan baginya. Sejak lulus kuliah Oktober berarakan, dia masih terus mencari lowongan pekerjaan.

“Penghasilan saya lumayan tapi sampai sekarang pemerintah belum memberikan menjawab, ” kata Yason.

“Saya berharap mereka bisa kasih bantuan dana atau tempat kerja supaya lebih banyak masyarakat yang menggunakan kompor kami, ” tuturnya.

Selain kompor oli bekas, inovasi teknologi juga muncul dalam program pencarian ‘sepuluh Ilmuwan Muda Papua’ tahun 2020 yang diselenggarakan lembaga non-profit, Yayasan Eco Nusa.

Satu dari sepuluh proposal riset yang lolos opsi program itu adalah pembuatan pesawat pengekstraksi sagu model pengaduk berulir yang dilengkapi unit pemarut. Pembaruan ini diusulkan Ian Immanuel Homer, mahasiswa Teknik Pertanian Universitas Papua.

Rina Kusuma, manajer Yayasan Eco Nusa yang mengasuh program ini, berceloteh selama ini penelitian dan riset di Papua didominasi orang-orang dengan tidak lahir dan tinggal pada pulau itu.

Lewat proyek pencarian permutasi dan pembiayaan riset dari lembaganya, Rina berharap muncul peneliti pokok Papua yang memberi dampak membangun untuk komunitas lokal.

“Banyak peneliti di Papua adalah ‘peneliti helikopter’. Mereka datang dari luar Papua, penelitian di sini lalu membawa berangkat ilmu yang mereka dapat.

Kami ingin mendorong anak Papua untuk mengusut di kampung mereka sendiri, ” ujar Rina.

“Awalnya kami bertanya-tanya, apakah akan ada yang mendaftar karena program serupa yang diadakan lembaga lain sebelumnya kurang diminati.

“Kami pikir 40-50 proposal itu sudah bagus sekali, tapi akhirnya mutlak ada 86 proposal yang kami seleksi, ” tuturnya.

Setelah proses studi yang dibiayai Eco Nusa, saat ini sepuluh ilmuwan dalam kalender ini masuk ke tahap penulisan akhir.

Berikutnya, para periset yang seluruhnya berstatus mahasiswa strata utama itu akan diminta menuliskan penelitian mereka secara populer di satu diantara situs penerbitan riset ternama.

Rina berniat hasil seluruh riset itu dilanjutkan pemerintah daerah agar benar-benar bermanfaat bagi masyarakat lokal.

Pertanyaan selanjutnya, apakah iklim riset dan penelitian sudah memungkinkan banyak muda-mudi di Papua berinovasi?

Belum, kata George Saa, putra asal Papua pemegang titel strata dua ilmu teknik mekanik dari University of Birmingham, sekaligus pemenang First Step to Nobel Prize in Physics tahun 2004.

“Saya satu diantara ketua rombongan anak muda Papua yang bertemu Presiden Jokowi, September 2019. Anak Papua dari seluruh dunia waktu itu dikumpulkan.

“Presiden berkata, kami mau bikin apapun akan didukung penuh. Pertemuan itu juga mendorong pendirian pusat riset Papua, tapi saya tidak setuju dengan cara mereka mendorong riset dan cara mengelolanya.

“Dengan kompleksitas persoalan anak muda Papua saat ini, menurut saya cara mencapai gagasan tadi tidak bagus. Itu tidak akan mencakup semua elemen anak Papua, ” kata George.

Pusat riset itu dikelola PT Papua Muda Inspiratif, yang dipimpin Billy Mambrasar, staf khusus presiden asal Papua.

“Gagasan besar dibangunnya Papua Youth Creative Hub yang ada di Jayapura nanti akan menandai pentingnya lompatan-lompatan besar anak-anak muda Indonesia, khususnya anak-anak muda Papua dalam rangka berkompetisi di dunia worldwide, ” kata Jokowi kepada pers ketika itu.

“Dan saya sangat menyambut baik sekali yang pintar-pintar, yang kreatif, yang inovatif, itu dikumpulkan dalam sebuah wadah besar yang namanya Papua Muda Inspiratif. Itu betul-betul nanti memberikan dampak yang besar kepada Tanah Papua, ” ujarnya.

Bagaimanapun, menurut George Saa, sampai sekarang belum ada kemajuan berarti dalam memastikan peluang untuk muda-mudi Papua untuk berinovasi.

“Kalau bicara riset dan pengembangan teknologi yang dibuat anak Papua, pemerintah tidak memiliki itikad untuk mendorong itu, ” kata George

“Mereka tidak pernah melihat bagaimana supaya orang Papua tidak bergantung pada ekstrasi sumber daya alam atau bergantung pada pekerjaan di perusahaan, tapi penerapan riset yang bisa menciptakan produk.

“Kalau memang anak Papua tidak bisa ditolong pemerintah daerah, bagaimana pemerintah pusat memperpendek jarak dengan kami, ” lanjutnya.

George juga mendorong program bantuan untuk ilmuwan Papua berfokus pada riset yang hasilnya dapat berguna untuk beberapa orang.

“Saya harap riset itu berujung pada produk yang bisa menghasilkan uang. Penelitian itu ada dua, menemukan fenomena baru atau yang ada aspek praktikal. Kalau penelitian bagus tapi tidak aplikatif, belum jelas ujungnya, ” kata George.

September tahun lalu, Jokowi menerbitkan Instruksi Presiden 9/2020 yang diklaim akan menjadi pedoman pembangunan Papua yang inovatif dan inklusif.

Lewat instruksi itu, Jokowi menugaskan sejumlah sejumlah menteri memastikan pembangunan dan pengelolaan inovasi serta kreativitas anak muda asli Papua lewat Papua Youth Creative Hub.

Secara khusus, Menteri Riset dan Teknologi ditugaskan untuk mengembangkan inovasi teknologi produksi yang dapat berguna pada proses pemanfaatan sumber daya alam.

Inovasi itu difokuskan pada bidang pertanian, perikanan, dan sosial.