Aung San Suu Kyi dan Pemimpin Myanmar ‘ditahan oleh militer’ di tengah kekhawatiran akan kudeta

aung-san-suu-kyi-dan-presiden-myanmar-ditahan-oleh-militer-di-tengah-kekhawatiran-akan-kudeta-12

sejam yang lalu

Aung San Suu Kyi, pemimpin partai Gabungan Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang memerintah Myanmar, telah ditangkap oleh militer, kata juru bicara partai tersebut.

Penangkapan itu terjadi dalam tengah ketegangan antara pemerintah biasa dan militer, yang memicu kekhawatiran akan adanya kudeta.

Dalam pemilu pada November tahun lalu, NLD memimpin cukup kursi di parlemen buat membentuk pemerintahan, namun militer menganggap pemungutan suara itu curang.

Militer telah meminta pemerintah untuk menunda wasit parlemen, yang akan berlangsung di hari Senin (01/02).

Juru bicara NLD, Myo Nyunt mengutarakan kepada kantor berita Reuters via sambungan telepon bahwa Suu Kyi, Presiden Win Myint dan para atasan lainnya telah “dibawa” pada Senin (01/02) dini hari.

“Saya ingin memberitahu orang-orang kami untuk tidak menanggapi dengan gegabah dan saya mau mereka bertindak sesuai dengan asas, ” ujarnya, seraya menambahkan kalau ia juga diperkirakan akan ditahan.

Koresponden BBC Asia Tenggara, Jonathan Head, mengatakan ada tentara di jalan-jalan ibu tanah air, Naypyitaw, dan kota utama, Yangon.

Media telepon dan internet di Naypyitaw telah diputus, lapor BBC Burma.

Tentara juga mendatangi rumah sejumlah gajah utama di beberapa daerah dan membawa mereka pergi, kata anggota keluarga.

Pada hari Sabtu (30/01), bala bersenjata Myanmar berjanji untuk mengindahkan konstitusi karena kekhawatiran yang meningkat bahwa mereka bersiap untuk menyelenggarakan kudeta.

Apa yang terjadi dalam pemilu?

NLD memenangkan 83% kursi parlemen dalam pemilu dengan digelar 8 November 2020 di dalam apa yang disebut sebagai referendum atas pemerintahan sipil Suu Kyi.

Tersebut merupakan pemilu kedua sejak berakhirnya kekuasaan militer pada 2011.

Namun militer menolak hasil pemilu tersebut, serta mengajukan gugatan ke Mahkamah Besar terhadap presiden dan ketua bayaran pemilihan.

Ketakutan akan kudeta meningkat sesudah militer belum lama mengancam akan “mengambil tindakan” atas dugaan kecurangan pemilu. Namun KPU membantah tuduhan tersebut.

Siapakah Aung San Suu Kyi?

Aung San Suu Kyi adalah putri pahlawan kemerdekaan Myanmar, Jenderal Aung San. Ayahnya mati dibunuh ketika Suu kyi berusia dua tahun, tepat sebelum Myanmar memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948.

Suu Kyi pernah dianggap sebagai simbol hak asasi manusia – seorang aktivis berprinsip dengan menyerahkan kebebasannya untuk menantang jenderal militer yang kejam yang mengurus Myanmar selama beberapa dekade.

Pada tarikh 1991, ia dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian, saat masih dalam benduan rumah, dan dielu-elukan sebagai “contoh luar biasa dari kekuatan yang tak berdaya”.

Suu Kyi menghabiskan hampir 15 tahun di tahanan kurun tahun 1989 dan 2010.

Pada November 2015, tempat memimpin partai NLD meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum prima Myanmar yang diperebutkan secara terbuka selama 25 tahun.

Konstitusi Myanmar melarangnya menjadi presiden karena ia mempunyai anak yang merupakan warga negara asing. Tapi Suu Kyi, dengan kini berusia 75 tahun, secara luas dipandang sebagai pemimpin de facto.

Namun, sejak menjadi penasihat negeri Myanmar, kepemimpinannya ditentukan oleh perlakuan terhadap etnis minoritas Rohingya dengan sebagian besar beragama Muslim dalam negara itu.

Pada 2017, ratusan seperseribu etnis Rohingya melarikan diri ke negeri tetangga Bangladesh karena tindakan represi militer yang dipicu oleh serbuan mematikan di kantor polisi dalam negara bagian Rakhine.

Mantan pendukung Suu Kyi dalam kancah internasional menuduhnya menutup mata terkait pemerkosaan, pembunuhan, dan peluang genosida yang yang dialami etnis Rohingya. Sebab, Suu Kyi menolak mengutuk militer atas tindakan mereka atau mengakui laporan kekejaman kepada etnis itu.

Beberapa orang awalnya berpendapat bahwa ia adalah seorang politikus pragmatis, mencoba untuk memerintah negeri multi-etnis dengan sejarah yang kompleks.

Namun pembelaan pribadinya atas tindakan prajurit di sidang Mahkamah Internasional di dalam tahun 2019 di Den Haag dipandang sebagai titik balik yang melenyapkan sedikit yang tersisa sebab reputasi internasionalnya.

Di negaranya sendiri, bagaimanapun, “Nyonya”, begitu Suu Kyi dikenal, tetap sangat populer diantara kebanyakan umat Buddha yang memiliki kecil simpati untuk etnis Rohingya.

Informasi ini akan terus diperbarui.