Covid-19: Kasus baru Indonesia tembus 3000 dua hari berturut-turut, 32 daerah masih zona merah

Covid-19: Kasus baru Indonesia tembus 3000 dua hari berturut-turut, 32 daerah masih zona merah

Indonesia mencatat lebih dari 3.000 kasus baru Covid-19 selama dua hari berturut-turut.

Pada hari Sabtu (29/08), terdapat 3.308 kasus baru, menurut data Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Itu menyusul pertambahan harian sebesar 3.003 kasus sehari sebelumnya.

Data terbaru membawa jumlah total kasus Covid-19 ke 169.195. Dari jumlah tersebut, 120.900 telah dinyatakan sembuh dan 7.261 meninggal dunia.

Angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat dua jumlah kasus terbanyak di Asia Tenggara setelah Filipina, dan ke-23 di dunia, menurut data Universitas John Hopkins.

Pertambahan jumlah kasus terbesar ada di DKI Jakarta, 861 kasus, disusul Jawa Timur, 641 kasus, dan Jawa Barat, 287 kasus.

Sebanyak 32 kabupaten/kota ditetapkan sebagai zona merah atau risiko tinggi. Sementara lebih dari 200 dinyatakan zona oranye atau risiko sedang.

Pembatasan Sosial Berskala Besar transisi masih diberlakukan di Jakarta – terus-menerus diperpanjang sejak bulan Juni – dan delapan kabupaten/kota di wilayah Jabodetabek.

Sementara Jawa Timur sudah mengakhiri PSBB pada bulan Juni, kendati jumlah kasus terus bertambah.

Sejak pertama kali dikonfirmasi pemerintah pada 2 Maret, kasus konfirmasi positif virus corona terus naik dan belum ada tanda akan turun.

Sejak bulan Juni, pertambahan kasus harian berkisar di angka 1000-an dan 2000-an seiring pemerintah memperbanyak spesimen yang diuji. Presiden Joko Widodo telah memasang target sebanyak 30.000 spesimen per hari.

Jumlah spesimen yang diuji dalam 24 jam mencapai 33.082 pada hari Jumat (28/08) namun turun lagi menjadi 28.905 keesokan harinya.

Berikut kurva penularan virus corona di Indonesia.

Kasus Indonesia lampaui China

Jumlah kasus di Indonesia resmi melampaui China pada 19 Juli, ketika terdata 86.521 kasus, melampaui China.

Berikut ini adalah data penularan virus corona di berbagai negara. Anda dapat menggulung tabel untuk melihat data negara yang Anda ingin ketahui.

Scroll tabel untuk data lebih lanjut

Silakan perbaharui browser Anda untuk pengalaman lengkap

Informasi ini diperbaharui dari waktu ke waktu namun tidak merefleksikan kondisi terkini dari masing-masing negara.

** Data untuk kasus baru rata-rata diperbaharui tiga hari sekali. Karena banyaknya revisi dari angka kasus, rata-rata kasus tidak dapat dihitung untuk tanggal ini.

Sumber: Johns Hopkins University (Baltimore, Amerika Serikat), Kementerian Kesehatan

Data terbaru 29 Agustus 2020 17.02 WIB

Kapan terakhir kali terjadi angka kenaikan positif tertinggi?

Rekor kasus harian tertinggi sebelumnya yakni 2.719 kasus pada Kamis (27/08).

Penambahan kasus positif di Indonesia mulai melaju cepat sejak 6 April yakni sekitar 200-300 orang per hari, lalu bergerak naik 300-400an kasus baru per hari. Dan pada bulan Juni, bergerak fluktuatif antara 400-an kasus hingga lebih dari 1.000 kasus baru per hari.

Berikut gambaran kasus harian virus corona di seluruh provinsi Indonesia. Anda dapat menggeser peta dan tabel untuk mengetahui data provinsi tempat tinggal Anda.

Provinsi

Kasus

Sembuh

Meninggal

Jawa Timur

31.696

(+367)

24.990

(+341)

2.282

(+30)

Jakarta

36.213

(+760)

28.288

(+1.538)

1.146

(+11)

Jawa Tengah

13.225

(+252)

8.581

(+215)

937

(+33)

Sulawesi Selatan

11.680

(+42)

8.894

(+93)

356

(+6)

Kalimantan Selatan

8.013

(+39)

5.821

(+184)

343

(+2)

Sumatra Utara

6.541

(+104)

3.559

(+117)

295

(+6)

Jawa Barat

10.002

(+154)

5.997

(+86)

263

(+0)

Sumatra Selatan

4.248

(+25)

3.015

(+59)

236

(+3)

Sulawesi Utara

3.652

(+39)

2.539

(+20)

155

(+0)

Nusa Tenggara Barat

2.662

(+21)

1.942

(+21)

155

(+3)

Kalimantan Timur

3.626

(+206)

2.214

(+51)

144

(+9)

Kalimantan Tengah

2.464

(+18)

1.901

(+24)

106

(+1)

Banten

2.725

(+59)

1.857

(+21)

104

(+0)

Maluku Utara

1.825

(+16)

1.561

(+53)

63

(+2)

Bali

4.808

(+82)

4.189

(+74)

58

(+2)

Sumatra Barat

1.864

(+41)

1.138

(+55)

53

(+2)

Gorontalo

2.023

(+53)

1.603

(+11)

51

(+0)

Papua

3.709

(+23)

3.036

(+12)

42

(+0)

Aceh

1.399

(+108)

191

(+0)

38

(+0)

Kepulauan Riau

825

(+50)

533

(+7)

37

(+4)

Yogyakarta

1.306

(+42)

923

(+31)

36

(+0)

Maluku

1.781

(+33)

1.099

(+16)

33

(+0)

Sulawesi Tenggara

1.452

(+50)

991

(+45)

25

(+1)

Riau

1.460

(+99)

872

(+18)

25

(+3)

Bengkulu

305

(+2)

171

(+0)

25

(+1)

Lampung

376

(+5)

321

(+11)

14

(+0)

Papua Barat

720

(+9)

555

(+9)

12

(+1)

Sulawesi Tengah

239

(+0)

213

(+1)

8

(+0)

Sulawesi Barat

368

(+6)

248

(+4)

7

(+0)

Jambi

296

(+7)

137

(+0)

5

(+0)

Kalimantan Barat

611

(+6)

509

(+41)

4

(+0)

Kalimantan Utara

361

(+0)

320

(+2)

2

(+0)

Kepulauan Bangka Belitung

235

(+0)

212

(+0)

2

(+0)

Nusa Tenggara Timur

174

(+1)

155

(+6)

2

(+0)

Dalam verifikasi

0

(+0)

0

(+0)

0

(+0)


Sumber: Kementerian Kesehatan.

Covid-19 di Jakarta bertambah terus di masa transisi

Jakarta dalam masa perpanjangan transisi PSBB bulan Juli, masih terdata di tiga besar provinsi dengan tambahan kasus harian terbanyak, antara 100-400an kasus baru per hari.

Pada Selasa (28/07), terdata kementerian kesehatan seluruh wilayah Jakarta dalam status merah dengan kasus tinggi. Kepulauan Seribu yang sebelumnya berstatus berisiko rendah kini berstatus sedang.

Pada masa sebelum transisi, penambahan kasus positif di Jakarta sempat bergerak di kisaran 70-100an kasus per hari.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan kembali memperpanjang masa transisi PSBB untuk ketigakalinya hingga 13 Agustus, karena ‘belum ada perbaikan’. Setelah itu masa transisi PSBB diperpanjang lagi hingga 27 Agustus.

Saat memperpanjang masa transisi PSBB untuk kedua kalinya pada pertengahan Juli, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan masih ada ‘ketidakdisiplinan masyarakat dalam mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak’. Jakarta ‘awasi ketat pasar tradisional dan KRL’ dalam masa perpanjangan transisi PSBB ini.

Awalnya Anies menetapkan bulan Juni sebagai masa transisi dengan pelonggaran kegiatan secara bertahap di berbagai sektor. Namun masa transisi ini diklamin ‘bisa dihentikan setiap saat’ ketika ada indikator yang buruk.

Salah satu indikator yang biasa dipantau adalah angka reproduksi R yang ditargetkan di bawah 1. Target tersebut bermakna satu orang positif berpotensi tidak akan menularkan pada orang lainnya.

Perkantoran dan rapat jadi sumber penularan

Pada Senin (20/07), juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 saat itu, Achmad Yurianto, menegaskan sumber penularan ditemukan berasal dari perkantoran, terutama aktivitas rapat atau pertemuan di ruang rapat di perkantoran.

“Aktivitas ini kalau toh harus dilakukan, lakukan di ruang dengan sirkulasi udara yang baik di pagi hari. Buka semua jendela, matikan sementara AC. Batasi kapasitas ruang, bila perlu sebagian bisa menggunakan metode daring. Batasi pembicara. Hindari sajian makan dan minum yang dapat membuat peserta rapat membuka masker,” kata Yurianto dalam jumpa pers daring.

Sebagai langkah penanggulangan penularan virus corona yang terus bertambah di Indonesia, pemerintah juga meminta perkantoran memberlakukan jam masuk dua gelombang. Hal itu disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, pada hari Minggu (19/07).

Yuri menjelaskan, gelombang pertama masuk kantor dilaksanakan pada pagi hari pukul 07:00-07:30, dan gelombang kedua lebih siang pukul 10:00-10:30.

“Ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa ketersediaan kapasitas sarana transportasi massal bisa memberikan ruang untuk physical distancing, tidak terlalu ketat, bisa dilaksanakan dengan baik,” ujarnya dalam konferensi pers perkembangan penanganan Covid-19.Ia juga mengingatkan bahwa sepanjang perjalanan di transportasi massal masyarakat harus menggunakan masker dan berusaha tidak membuat percakapan sama sekali, serta tidak makan dan minum.

Banyak perusahaan kembali meminta pegawainya bekerja dari kantor setelah beberapa daerah melonggarkan aturan pembatasan sosial.

Achmad Yurianto meminta perusahaan memastikan bahwa hanya pegawai sehat yang bekerja di kantor, serta membatasi waktu rapat hingga 30 menit.

Jawa Timur yang sempat ‘menyalip’ Jakarta

Tambahan kasus baru positif virus corona di Jawa Timur juga masih jadi sorotan.

Dari sebelumnya 200-300an kasus baru, pada Minggu (05/07) ada 552 kasus, Kamis (09/07) ada 517 kasus baru, dan Minggu (12/07) ada 518 kasus baru.

Situasi ini terjadi di tengah tenggat waktu dua pekan sejak 29 Juni hingga 12 Juli yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo untuk Jawa Timur menanggulangi Covid-19.

Pada 2 Agustus, Jawa Timur masih catatkan tambahan kasus baru sebanyak 180 orang dengan total kasus positif terbanyak di Indonesia yakni 22.504 orang.

Namun pada 7 Agustus, Jakarta kembali menjadi provinsi dengan kasus Covid-19 terbanyak dan pada 27 Agustus jumlah positif virus corona di Jawa Timur sebanyak 31.696 orang dan Jakarta sebanyak 36.213 orang.

Sebagai catatan, Selasa (09/06), Kota Surabaya, Kab. Gresik dan Kab. Sidoarjo resmi menghentikan PSBB dan menyatakan hanya menerapkan protokol Covid-19 secara ketat.

‘Bahaya kalau merasa normal-normal saja’

Di tengah terus bertambahnya kasus, Presiden Joko Widodo pada 29 Juni mengatakan, “Jangan sampai kita masih merasa normal-normal saja, berbahaya sekali.”

Dalam pertemuan dengan Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur, Presiden Joko Widodo memperingatkan akan dua ancaman krisis selama pandemi, yakni krisis kesehatan dan krisis ekonomi.

International Monetary Fund (IMF) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi semua negara akan anjlok pada 2020, dengan Amerika Serikat diperkirakan tumbuh -8%, Jepang -5,8%, Prancis -12,5%, dan Jerman -7,5%.

Kondisi pandemi, lanjut Jokowi, akan mempengaruhi permintaan luar negeri sehingga pasokan dan produksi sudah pasti akan terganggu.

“Artinya demand, supply dan produksi rusak dan gagal. Ini yang harus kita ketahui bersama dalam proses mengendalikan Covid-19, yang merupakan urusan kesehatan, tapi kita juga ada masalah lain urusan ekonomi,” kata Presiden.

Untuk itu, dia mengingatkan semua pihak agar memiliki “perasaan yang sama” bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi krisis kesehatan, sekaligus krisis ekonomi.

“Jangan sampai kita masih merasa normal-normal saja, berbahaya sekali,” tegasnya.

“Jangan sampai masyarakat yang memiiki perasaan yang masih normal-normal saja, sehingga ke mana-mana tidak pakai masker, lupa cuci tangan, masih berkerumun di dalam kerumunan yang tidak perlu, ini yang harus kita ingatkan,” ujar Jokowi.

Awal keputusan kebijakan ‘new normal’

Seiring jumlah kasus terus bertambah, pemerintah meminta masyarakat ‘beradaptasi dan hidup berdampingan dengan virus corona’ dengan protokol new normal atau kenormalan baru.

Berawal dari rapat kabinet Selasa 18 Mei, skenario tatanan kehidupan baru new normal terus dimatangkan pemerintah. Presiden Jokowi, pada 26 Mei, meninjau persiapan penerapan new normal di stasiun MRT, Jakarta dan mal di Bekasi, Jawa Barat. TNI dan Polri diminta mengawal transisi menuju new normal.

Ada 340.000 orang personal TNI-Polri yang diturunkan untuk ‘berada di setiap kerumunan’. Mereka ditugaskan memastikan protokol Covid-19 dipatuhi masyarakat.

‘New normal’ salat Jumat

Setelah mengevaluasi pelonggaran penyelenggaraan salat Jumat berjamaah dalam dua pekan berturut-turut, Kementerian Agama pada Kamis (18/06) menyatakan belum akan mengeluarkan kebijakan baru.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, mengatakan ‘hasil evaluasi sementara menunjukkan tren yang membaik’ dalam pelaksanaan salat Jumat.

Pelaksanaannya sesuai protokol kesehatan dan Surat Edaran Menteri Agama No. 15 Tahun 2020, walaupun masih ada beberapa tempat yang tidak sepenuhnya sesuai protokol Covid-19.

Sebelumnya dalam jumpa pers di media center Gugus Tugas pada Kamis (11/06), ia mengatakan “Banyak laporan, pada pekan pertama, terutama yang paling kelihatan saf yang rapat, tapi secara umum bagus, menuruti protokol yang sudah ditetapkan.”

Pada 30 Mei, Menteri Agama Fachrul Razi menerbitkan surat edaran tentang panduan penyelenggaraan kegiatan keagamaan di rumah ibadah.

Disebutkan surat edaran itu sebagai panduan “selama masa kenormalan baru atau new normal“.Menurut Fahcrul, panduan ini mengatur kegiatan keagamaan di rumah ibadah, berdasarkan “situasi riil Covid-19 di lingkungan rumah ibadah tersebut”, dan “bukan hanya berdasarkan status zona yang berlaku di daerah”.

“Meskipun daerah berstatus Zona Kuning, namun bila di lingkungan rumah ibadah tersebut terdapat kasus penularan Covid-19, maka rumah ibadah dimaksud tidak dibenarkan menyelenggarakan ibadah berjamaah,” katanya.

WHO: Pandemi ini memburuk

Setelah menembus angka 3 juta penderita pada 28 April, jumlah kasus secara global terus bertambah hingga kini total lebih dari 24,1 juta orang pasien berdasar data Johns Hopkins University, Kamis (27/08).

Dari negara Asia, India tercatat menjadi negara ketiga di dunia dengan kasus Covid-19 terbanyak.

Sementara Indonesia terbanyak kedelapan di Asia.

Berikut ini gambaran perkembangan kasus Covid-19 di dunia termasuk Indonesia. Anda dapat melihat data per wilayah dengan meng-klik tanda panah pada peta.

Kasus positif di seluruh dunia

Tampilkan

Group 4

Upgrade browser Anda untuk melihat data interaktif

Lingkaran menunjukkan jumlah kasus positif virus corona per negara

Sumber: Johns Hopkins University (Baltimore, Amerika Serikat), Kementerian Kesehatan

Data diperbaharui pada 29 Agustus 2020 17.02 WIB

Meski terdapat kemajuan dalam memerangi virus tersebut di Eropa, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (09/06) menyatakan pandemi ini “memburuk” di seluruh dunia.

“Pandemi ini telah berlangsung selama lebih dari enam bulan, ini bukan saatnya bagi negara manapun untuk bersantai,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Total angka kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia pada saat WHO memberikan pernyataan ini telah lebih dari 400.000 orang.

Bermula di China, virus corona kemudian berjangkit di 200 lebih negara. Dalam waktu sekitar empat bulan, Amerika Serikat, Brasil, Rusia, Spanyol, Italia, Inggris, India menjadi negara-negara dengan kasus tertinggi.

Data infografis ini diperbaharui sesuai perkembangan yang terjadi.