Covid-19: Kiprah para pelacak kontak yang terbelenggu stigma

covid-19-kiprah-para-pelacak-kontak-yang-terbelenggu-stigma-10
  • Silvano Hajid
  • BBC News Nusantara

33 menit yang lalu

Pemerintah berupaya menambah jumlah petugas pelacak kontak Covid-19, termasuk target pelacakan hingga 30 kontak dalam satu kasus serasi standar WHO. Namun, setahun sejak pandemi berlangsung, bahan itu masih sulit tercapai akibat sejumlah faktor, jarang lain stigma yang sedang melanda.

Pagi tersebut, Hasatia terburu-buru mengenakan jubah medis. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai petugas pelacak kontak Covid-19 di Puskesmas Lebak Bulus, Jakarta Selatan, tersebut dipanggil mendadak oleh bagian poliklinik umum.

Pasalnya, ada seorang ibu cucuk baya kedapatan mengalami fakta anosmia alias tidak berharta mencium bebauan—salah satu isyarat utama pengidap Covid-19. Hasatia menemui ibu itu pada depan puskesmas lalu mewawancarainya.

“Saya habis pulang zona, melayat kakak saya dengan meninggal dunia karena Covid-19, ” kata ibu tersebut.

Hasatia lalu menanyakan jumlah orang dengan ikut pulang kampung berhubungan ibu tersebut, serta tempat-tempat yang dikunjungi dalam dua pekan terakhir.

Baca juga:

Setelah bagian wawancara rampung, Hasatia bergegas membersihkan diri lalu menuju ruang pusat informasi buat melaporkan temuannya.

Bersama lima petugas lainnya, ponsel karakter yang mereka gunakan untuk melacak kontak tidak pernah berhenti bekerja.

Memori di dalam ponsel itu pun sudah penuh berisi data-data pasien berupa memotret KTP hingga hasil tes Covid-19 milik pasien.

Di ruang pusat fakta, Ana—rekan Hasatia—sedang kebingungan pada ucapan seorang suspek Covid-19 melalui ponsel. Orang tersebut tidak ingin melakukan tes usap di puskesmas. Ana lantas menyerahkan kasus tersebut ke penanggung jawab tim, Kepala Puskesmas Lebak Bulus, dr. Rathia Ayuningtyas.

“Jika Anda ingin swab mandiri, tidak mengapa, tetapi di dalam dua hari ke aliran, jika hasilnya tidak muncul, maka saya akan menyambut Anda bersama polisi, ” tegas Rathia. Tak lama dari ujung telepon, suspek menjawab “Iya, dok saya akan ke puskesmas untuk tes. ”

Rathia mengesahkan harus sedikit mengancam sebab banyak orang yang relasi erat tapi abai untuk melakukan tes usap. “Padahal itu semua gratis, akan tetapi alasannya, hasil swabnya lama, ” tambah Rathia.

Petugas yang bekerja pada dalam ruang itu sudah dilatih oleh BNPB di dalam akhir tahun 2020 berantakan saat pemerintah menargetkan jumlah petugas harus sesuai standar Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni sekitar 30. 000 petugas pelacak di Indonesia.

“Target kontak erat yang sebelumnya 10 datang 15 orang diharapkan menjadi 20 sampai 30 orang dalam pelacakan kontak erat, ” kata Juru Cakap Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi.

Namun, bahan itu sulit diraih. Taat seorang petugas, rata-rata dalam sehari, mereka bisa menemui paling banyak lima orang dalam satu kasus kontak erat. Permasalahan yang memutar mendasar meski pandemi telah setahun di Indonesia merupakan stigma yang beredar pada masyarakat.

“Kebanyakan lantaran setiap kasus kontak erat, mereka tidak percaya kalau Covid-19 itu ada. Berarakan, bagi mereka yang tertular, itu dianggap sebagai rendah dan harus ditutupi, ” jelas Rathia.

Tugas para-para pelacak kontak tak hanya menelepon kasus kontak baik. Mereka juga mendata peristiwa setiap harinya yang hendak diunggah di pusat bahan Covid-19 melalui aplikasi.

Mereka juga membenarkan setiap kontak erat terpantau dari ketua RT serta RW suatu wilayah. Sebagaimana terjadi pagi itu, seorang ketua RT menelepon petugas. “Saya baru tahu tetangga saya [kena] Covid, padahal dia kemarin keluar rumah. ”

Petugas menjawab: “Padahal kami sudah memberitahukan yang bergandengan untuk langsung melapor pada bapak. ”

Di dalam pembicaraan itu, terungkap bahwa orang dalam kasus relasi erat yang ternyata positif Covid-19 merupakan tokoh istimewa di wilayah itu. Patuh sang ketua RT, individu tersebut menganggap Covid-19 adalah aib dan sebisa kira-kira harus ditutupi.

Mengucapkan juga:

Tugas lain dari pelacak kontak adalah mendampingi pasien untuk tes usap PCR.

Rahma Aghina Nugraha, harus datang ke sebuah rumah, sebab terdapat lansia yang kondisinya tidak memungkinkan untuk lakukan tes di puskesmas.

Rahma bersama petugas tes belai mengenakan APD lengkap, era mengetuk pintu rumah lansia itu. Terdapat dua karakter lansia dan dua cukup umur di dalamnya.

“Saya pada kamar saja setiap keadaan karena tidak bisa berlaku, ” kata seorang lansia kepada Rahma.

“Apakah ibu mengalami batuk? ” tanya Rahma.

Usai tes usap, kedua lansia itu meminum segelas air, karena tenggorokan dan hidungnya merasa tidak sejuk.

Seorang remaja menghampiri Rahma dan bertanya ruang isolasi yang dibutuhkan jika itu sekeluarga positif Covid-19.

Tugas Rahma selanjutnya adalah menyungguhkan hasil tes berikut mengontak pihak rumah sakit bila para lansia itu tentu Covid-19. Dia juga menemui pihak Rumah Sakit Genting Wisma Atlet, jika perut remaja dalam rumah itu juga positif Covid-19.

Di dalam sehari, Rahma menelepon puluhan orang, mulai dari relasi erat, hingga pihak vila sakit.

Selebihnya, para aparat juga memantau perkembangan pasien yang melakukan isolasi sendiri termasuk mengantarkan obat & vitamin yang dibutuhkan.

Para-para petugas ini terus mencari jalan walau, menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, penelusuran kontak erat dengan orang yang terinfeksi Covid-19 dalam Indonesia masih di kolong standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, yang idealnya memperoleh 30 kontak erat dari satu kasus.

Padahal, sekapur Dicky Budiman, selaku pakar epidemiologi dari Griffith University, Australia, tanpa strategi testing dan tracing yang memadai maka, “kita membiarkan terjadi begitu banyak infeksi. Kita juga membiarkan virus itu leluasa menyebar, menginfeksi bani adam. ”