Covid-19: Kisah para penggali kubur buat jenazah virus corona: ‘Kalau kita kena dan mati, siapa dengan kuburkan? ‘

Covid-19: Kisah para penggali kubur buat jenazah virus corona: 'Kalau kita kena dan mati, siapa dengan kuburkan? '

Selain tenaga medis, ada sejumlah orang dengan bekerja keras sepanjang waktu di dalam masa pandemi virus corona. Mereka adalah para petugas pemakaman jenazah Covid-19.

Sehari-hari mereka bertugas merancang lubang makam bagi korban Covid-19 dengan protokol kesehatan yang sendat. Dalam sehari mereka bisa menyelami puluhan lubang, tergantung dari jumlah kematian hari itu.

“Kita menyiapkan lubang paling sedikit 20 lubang, akan tetapi kita pernah sampai 40 lubang gara-gara yang meninggal banyak. Tersebut rekor yang pernah kita lakukan, ” kata Junaedi, seorang penggali makam di Kompleks Permakaman Covid-19 Pondok Ranggon, sebagaimana dilaporkan kantor berita Antara.

Tempat tak menampik bahwa dirinya tetap merasa takut terpapar dan membawa virus corona ke lingkungan keluarga.

Junaedi mengiakan ketakutan terbesar dirinya bukan dari jenazah yang terpapar virus, tetapi dari para ahli waris, ahli, dan teman yang mengantarkan jenazah.

Menurutnya, jenazah yang telah dibawa ke permakaman telah melewati aturan yang ketat termasuk terbungkus plastik secara rapih. Apabila ada keburukan para petugas berhak menolak jenazah untuk dimakamkan. Akan tetapi, para-para pengantar jenazah belum tentu tenang dari virus tersebut.

Hal yang cocok juga disampaikan oleh Ketua persekutuan B petugas gali makam buat jenazah Covid-19, Andi.

Karenanya, mereka telah menyiapkan sejumlah peralatan untuk melindungi diri.

Selain baju hazmat, mereka menyediakan diri dengan pembersih tangan, wadah tangan, dan plastik steril.

Zaman tiba di rumah, sebelum bergabung dengan dengan keluarga, mereka makbul. Adapun seluruh perlengkapan menggali kubur direndam cairan disinfektan.

Pemerintah juga menyampaikan perhatian khusus bagi mereka. Secara besarnya risiko pekerjaan tersebut, pemerintah telah menyiapkan dana insentif sebesar Rp1 juta per orang yang dibayarkan per bulan.

“Selain insentif sebenarnya, sebenarnya pengennya nih Covid-19 buru-buru sempurna. Dan tolong yang pada nganter jenazah jaga jarak, pada pake kedok, dan ikutin protokol kesehatan. Jangan suka marah-marah sama kita. Kalau kita nanti kena dan hancur, terus siapa yang nguburin ? ” tanya pria bertubuh besar tersebut sambil tertawa.

Sebagaimana dilaporkan situs resmi Pemprov DKI Jakarta melalui https://corona.jakarta.go.id, jumlah permakaman jenazah dengan prosedur penanganan Covid-19 meningkat sejak awal Juli 2020.

Terhitung sebanyak 20-an jenazah dimakamkan dengan protap penanganan Covid-19 di dalam awal Juli 2020. Namun, total itu meningkat hingga 60-an jenazah pada pertengahan September 2020.

Pada 16 dan 18 September, misalnya, ada 67 dan 65 jenazah yang dikuburkan dengan protap Covid-19.

Angka itu menurun hingga mencapai 41 jenazah pada 24 September.

Secara keseluruhan, menurut data Kementerian Kesehatan mematok 25 September 2020, terdapat 1. 661 individu yang meninggal dunia akibat Covid-19 di DKI Jakarta. Adapun jumlah nasional tercatat sebanyak 10. 218 orang.

Hal ini sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa kompleks permakaman bakal kehabisan tempat untuk menguburkan jenazah Covid-19.

Namun, Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Administrasi Jakarta Timur sebagaimana dilaporkan situs formal Pemerintah Kota Jakarta Timur pada 9 September lalu, mengimbau masyarakat untuk tidak risau akan kekurangan lahan pemakaman. Sebab, dari 69 hektare lahan yang ada, masih tersisa lahan 7. 000 meter persegi, sehingga dianggap mencukupi buat pemakaman 1. 200 jenazah korban Covid-19.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, juga pernah menyampaikan bahwa selain Pondok Ranggon, ada TPU Tegal Alur sebagai lokasi pemakaman istimewa jenazah Covid-19. Disebutkannya, masih tersedia sisa dua hektare lahan di Tegal Alur yang bisa menampung sekitar 3. 000 makam.

Jika belakang kedua TPU tersebut penuh, Anies menyatakan pihaknya telah menyiapkan tempat pemakaman lain sejak Maret 2020 untuk menampung jenazah korban Covid-19.

“Lokasi semua sudah disiapkan, jadi kita lihat perkembangan sesuai dengan keinginan. Insyaallah tidak akan ada cacat, ” ungkap dia kepada kuli di Gedung DPRD DKI Jakarta, 7 September 2020.

Meski demikian, Anies tidak memaparkan secara rinci pada mana tempat lain yang dia maksud.