Covid-19: Setahun sejak karantina wilayah dalam Wuhan, bagaimana China mengatasi pandemi?

covid-19-setahun-sejak-karantina-wilayah-di-wuhan-bagaimana-china-mengatasi-pandemi-11

22 Januari 2021, 19: 53 WIB

Satu tahun kelam, pada 23 Januari 2020, karantina wilayah pertama untuk mencegah penyaluran virus corona diterapkan di Wuhan. Kota di Provinsi Hubei itu diyakini sebagai awal mula penyebaran virus corona.

Pada waktu tersebut berbagai kalangan terkejut dengan pemisahan ketat yang dijalankan pemerintah China. Sejak Januari hingga Juni, Wuhan ditutup dari mobilitas orang dengan hendak masuk atau keluar ke kota lain.

Walau kebijakan ‘lockdown’ itu memicu dampak di berbagai zona untuk warga lokal, siasat tersebut terbukti sangat sukses untuk menyalahi penyebaran virus corona.

Setahun setelahnya, China adalah satu dari sedikit negara yang memiliki kisah sukses menanggulangi pandemi.

Lantas apa saja yang sebenarnya diraih China dalam setahun terakhir? Dan bagaimana mereka mengatasi pandemi yang terjadi?

Barang apa yang dilakukan pemerintah China?

Otoritas China lambat menindaklanjuti laporan awal mengenai penyakit misterius yang beredar di pasar basah di Wuhan, tutup tahun 2019.

Ketika itu, mereka sedang mengizinkan jutaan penduduk Wuhan berpergian keluar kota jelang tahun anyar China, pada Januari 2020. Pada China, perayaan Imlek setiap tarikh menjadi periode dengan mobilitas penduduk tertinggi.

Awal pekan ini, dalam petunjuk sementara yang disusun panel swasembada yang ditunjuk oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebijakan China itu dikritik.

“Kebijakan di bidang kesehatan publik waktu itu semestinya bisa diterapkan lebih tegas, ” begitu bunyi laporan tersebut.

Namun kala itu otoritas China akhirnya menyadari masalah yang muncul. Mereka pun menerapkan pengetatan yang tegas.

Pada 23 Januari 2020 atau dua hari sebelum Imlek, jalan-jalan di Wuhan berganti sunyi. Sekitar 11 juta karakter dikarantina secara ketat. Penggunaan masker wajah dan jarak sosial menjadi hal wajib.

Untuk memutar gambar ini, aktifkan JavaScript atau jika di mesin pencari lain

Ketika kapasitas rumah sakit di Wuhan berangkat anjlok, China saat itu mengherankan publik internasional. Mereka mendirikan rumah sakit darurat dalam beberapa keadaan.

Tetapi beberapa warga Wuhan, salah satunya Wenjun Wang, saat itu mengaku cemas. Dia menceritakan bagaimana pamannya meninggal. Di sisi lain, orang tuanya yang jatuh sakit kubra mendapatkan bantuan medis.

Pengetatan yang diterapkan di Wuhan pada bulan-bulan berikutnya diberlakukan di kota lainnya. China mengisolasi sejumlah kota besar seolah-olah Beijing dan Shanghai. Tes Covid-19 juga digelar secara massal.

Di bagian lain, arus masuk orang dari luar negeri ke China diperketat. Mereka yang baru tiba ke China pun diwajibkan menjalani karantina.

Tetapi pada periode itu, China serupa berusaha mengendalikan penyebaran informasi.

Persoalan yang disebabkan kebijakan sensor negeri China ini terus-menerus muncul mematok. BBC memeriksa fakta-fakta di pulih pembatasan informasi yang itu.

Kaum dokter yang mencoba mengingatkan terbuka tentang bahaya virus corona itu ditegur dan diperintahkan untuk lestari diam. Dokter yang paling mencuat adalah Li Wenliang. Belakangan dia dikabarkan meninggal setelah terpapar virus corona.

Media pengikut, yang awalnya diberi ruang untuk meliput di Wuhan, menghadapi sejumlah larangan baru. Sementara itu, jurnalis warga yang mencoba menyebarkan informasi tentang situasi terkini dari Wuhan juga dibungkam.

Baru-baru ini, lengah satu jurnalis warga itu dijatuhi hukuman penjara selama empat tarikh.

Apakah langkah-langkah China berhasil?

Walau karantina daerah di China awalnya dianggap berpenat-penat dan membatasi hak warga, bukti resmi yang dipublikasikan satu tahun setelahnya membenarkan kebijakan itu.

Merujuk keterangan medis resmi, jumlah kematian & kasus positif Covid-29 di China relatif rendah.

Hanya terdapat kurang sejak 100. 000 kasus positif. Total kematian akibat Covid-19 di negara itu mencapai sekitar 4. 800.

Tidak seperti banyak negara asing, setelah gelombang pertama pandemi Covid-19 berlalu, kurva kasus positif China pada gelombang kedua cenderung latar.

Namun, data China itu dituding tak memasukkan kasus positif Covid-19 tanpa gejala. Sejumlah kalangan akhirnya meragukan kesahihan data tersebut.

Bagaimana kehidupan dalam Wuhan sekarang?

Setahun setelah karantina daerah pertama, kehidupan di Wuhan hampir kembali ke kondisi normal. Pasar lalu BBC pergi ke kota itu dan berbincang dengan sebanyak orang tentang kehidupan mereka sekarang.

Namun, kebijakan pemeriksaan informasi menyulitkan upaya memahami bagaimana Wuhan dan wilayah lain di China menghadapi karantina wilayah dengan ketat.

Yang pasti, peristiwa setahun final menimbulkan dampak psikologis, begitu kata beberapa warga Wuhan. Beberapa pada antara mereka cemas jika benar berbicara dengan media internasional.

“Pandemi benar menimbulkan dampak, walau itu tak terlihat di permukaan, ” introduksi warga Wuhan bernama Han Meimei.

“Tapi pastinya trauma mendalam dialami penuh orang di kota ini, tercatat banyak hal tahun lalu dengan tidak ingin saya lihat datang sekarang. ”

Namun, ada pula awak yang menilai kebijakan China mengerjakan pandemi lebih baik daripada umum negara lain. Ini dikatakan kurang warga Beijing kepada BBC belum lama.

Masyarakat China lainnya menyebut rasa bon dan hubungan yang lebih indah kini terjalin di masyarakat.

“Sebelum pandemi, semua orang tampak agak pemarah, sering terburu-buru, tapi setelah pandemi, mereka menjadi lebih bersyukur berasaskan kehidupan dan jauh lebih santun, ” kata mahasiswa di Wuhan, Li Xi.

“Bencana seperti tersebut sebenarnya mempertemukan lebih banyak karakter, ” kata Han. “Jika karakter ada di sana, kota itu masih ada. ”

Bagaimana situasi di seluruh China?

Pemerintah China kini mewaspadai munculnya sejumlah kasus positif perdana di Qingdao dan Kashgar. Itu menerapkan karantina wilayah dan tes massal di daerah itu.

Meski jumlah kasus positif tetap sangat sedikit, peningkatan kasus dalam beberapa pasar terakhir membuat otoritas di China cemas.

Awal Januari lalu, jumlah urusan positif harian terbesar terjadi di dalam lima bulan terakhir.

China kini fokus ke kawasan timur laut. Sekitar 19 juta orang di kota Shijiazhuang, beberapa provinsi Hebei, Jilin, dan Heilongjiang kini menjalani karantina wilayah.

Pandemi dan karantina wilayah secara berkala pula berdampak signifikan perekonomian China. Jutaan orang kehilangan pekerjaan dan kemajuan ekonomi China mengalami periode terlambat dalam 40 tahun terakhir.

Namun, China pulih dengan cepat dan menjelma satu-satunya negera besar yang ekonominya bertumbuh pada tahun 2020..

Kehidupan pada sebagian besar wilayah China hampir kembali normal. Perhatian kini balik menuju peringatan tahun baru Imlek. Jutaan penduduk China kini bersiap mudik.

Ada kekhawatiran bahwa periode mudik saat Imlek pekan depan akan memicu penyebaran Covid-19.

Jelang imlek, semua mata pun saat ini tertuju pada vaksinasi.

Perusahaan farmasi milik China, Sinovac dan Sinopharm, pertengahan tahun 2020 sudah mendapatkan izin penggunaan darurat di tingkat domestik untuk vaksin mereka.

Mereka memberikan vaksin itu pada karyawan, pekerja medis, dan masyarakat yang bersedia membayar sebelum uji klinis selesai.

Oktober lalu, BBC merekam peristiwa saat ratusan orang bergegas mendapatkan vaksinasi.

Tingkat efikasi vaksin buatan Sinovac dan Sinopharm sangat bervariasi. Pejabat China di dunia kesehatan menyebut pihaknya akan memvaksin 50 juta orang sebelum Imlek.

Dalam sisi lain, pemerintah China serupa berusaha mengarahkan narasi tentang asal dan penyebab pandemi global tersebut.

Tersedia tuduhan bahwa China berusaha menutupi tingkat keparahan pandemi selama hari-hari pertama.

China mulai mengklaim, meskipun Wuhan adalah tempat klaster pertama terdeteksi, virus corona belum berasal sejak kota ini.

Kantor berita milik China baru-baru ini menyebut pandemi itu mungkin bermula di Spanyol, Italia atau bahkan Amerika Serikat.

Berita tersebut juga telah mengklaim bahwa virus corona telah memasuki China melalui impor makanan beku. Banyak spesialis meragukan pernyataan itu.

Tahun lalu, BBC pergi ke Wuhan untuk membuntuti bagaimana klaster Covid-19 pertama pegari. Kami berbicara dengan orang-orang dengan keluarga pada masa awal pandemi.

Januari ini, tim WHO tiba pada Wuhan untuk menelisik asal muasal virus corona. Tapi tetap tersedia kekhawatiran soal data dan kanal yang akan diberikan otoritas China kepada mereka.

Beberapa pengamat juga khawatir, penyelidikan yang dilakukan satu tarikh setelah kasus pertama di Wuhan tidak akan menemukan fakta dengan komprehensif.

Liputan ini disusun oleh Andreas Illmer, Yitsing Wang & Tessa Wong.