Covid-19: Uji klinis terapi plasma darah dimulai, pakar minta donor ‘diseleksi hati-hati’ tapi teknologi ‘belum ada’

Covid-19: Uji klinis terapi plasma darah dimulai, pakar minta donor 'diseleksi hati-hati' tapi teknologi ‘belum ada'

Seorang pakar kesehatan mengatakan donor untuk terapi plasma konvalesen harus “diseleksi secara hati-hati serta diukur kadar antibodinya”. Namun, teknologi untuk melakukan hal itu saat ini masih dikembangkan di Indonesia.

Wakil Direktur Pendidikan dan Studi RS Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tonang Dwi Aryanto, mengucapkan hal itu menyusul pelaksanaan uji klinis plasma tahap dua & tiga yang secara resmi diumumkan pemerintah, Selasa (08/09).

Ia membicarakan tak semua orang yang sembuh dari virus corona memiliki kewenangan antibodi cukup, yang membuat itu ideal sebagai donor.

Di bagian lain, proses pengukuran antibodi tersebut memerlukan teknologi yang masih pada tahap pengembangan, sebagaimana dijelaskan peneliti Lembaga Eijkman, yang digandeng negeri dalam penelitian terkait manfaat plasma darah untuk pasien Covid-19.

Tes khasiat plasma darah

Plt Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Slamet mengatakan uji klinis plasma konvalasen akan merekrut 364 pasien jadi partisipan, dan ditargetkan selesai akhir tahun 2020.

Ia menjelaskan plasma konvalesen adalah bagian darah yang mengandung antibodi dari sejumlah orang dengan sudah sembuh dari Covid-19 & diharapkan dapat membantu penyembuhan anak obat Covid-19.

“Perhatian utama para peneliti ialah keamanan dan efikasi (khasiat) daripada terapi itu sendiri, ” tutur Slamet.

Uji klinis akan fokus dilakukan pada pasien dengan fakta sedang yang mengarah gawat (pneumonia dengan hipoksia) di samping anak obat bergejala berat, dan tak hendak diberikan untuk pencegahan.

Empat vila sakit menyatakan sudah siap mengarahkan uji klinis itu, sementara 25 lainnya juga telah menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi.

Salah satu dengan menyatakan siap adalah Rumah Sakit Umum Pusat dr Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, yang secara mandiri telah menjalankan terapi plasma sejak April lalu.

Menurut Ketua Awak Plasma Konvalensen, Ruswana Anwar, sejauh ini sejumlah pasien yang diberikan plasma darah, dengan digabung wujud terapi lain, menunjukkan perbaikan perihal.

“Kalau dia masuk kriteria padahal dan berat, 40% membaik.

“Kalau sudah kritis dengan gangguan organ, terutama gangguan jantung, irama jantung, selalu sakit ginjal yang berat, lazimnya secara klinis covid-nya menunjukkan pemeriksaan, tapi pasien meninggal juga keputusannya. ”

Kondisi sejumlah pasien dengan membaik setelah diberi plasma darah diklaim pula oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Dokter I Ketut Suyasa.

RS Unud sudah secara mandiri menggunakan bentuk terapi ini sejak beberapa bulan yang lalu.

Bagaimana syarat antibodi sempurna?

Merujuk sejumlah penelitian, Ruswana mengatakan donor ideal adalah mereka yang pernah mengalami gejala parah selama menderita covid-19.

Syarat lain yang harus dipenuhi adalah mereka harus negatif covid-19 minimal selama dua minggu dan maksimal selama tiga bulan.

Mereka juga tak boleh menderita penyakit-penyakit seperti AIDS atau hepatitis, tambah Ruswana.

Tak hanya itu, sarana donor ideal lain dijelaskan Sinse Tonang Dwi Ardyanto, yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

Ia mengatakan pemilihan pasien yang sudah sembuh itu harus dilakukan secara hati-hati karena tak semua memiliki antibodi cukup.

Ia merujuk juga sebuah penelitian di Inggris Juni lalu, yang menunjukkan 2% hingga 8, 5% dari sekitar 100 pasien covid-19 yang dianalisis, tidak mengembangkan antibodi meski sudah sembuh dari virus corona.

Kalau orang seperti itu menjadi donor, plasma mereka tak akan efektif, malah bisa membawa risiko, katanya.

Tonang menjelaskan dua syarat antibodi seseorang bisa digunakan.

“Satu, kurang cukup, dua memiliki daya netralisasi (virus). Kalau dua ini belum terpenuhi sementara virusnya datang, oleh karena itu perlawanannya jadi perlawanan parsial.

“Dia bisa mengikat virus, tapi tak bisa menjinakan atau melumpuhkannya. Jadi justru dalam hal covid, dikhawatirkan membuat virus lebih mudah buat berikatan masuk sel tubuh kita. ”

Ia menyebut kondisi itu sebagai antibody-dependent enhancement (ADE).

“Maka donor dengan akan dipakai untuk memberi plasma konvalasen itu sudah dengan persyaratan ketat. Jadi, tidak semua yang sembuh dari covid-19 bisa menjelma donor.

“Ibaratnya jumlah ‘tentaranya’ cukup, senjatanya ada’.

‘Keterbatasan teknologi’

Sayangnya, teknologi untuk melakukan hal itu masih sangat terbatas.

Rumah Kecil Umum Pusat dr Hasan Sadikin misalnya tak memiliki fasilitas semacam itu.

Meski begitu, ketua tim plasma konvalensen Ruswana Anwar mengutarakan kadar antibodi yang rendah, di dalam beberapa kasus, tetap dapat positif memperbaiki kondisi pasien yang dirawat di ICU.

Ia mengatakan pihaknya juga sangat ketat memeriksa sejarah kesehatan pasien untuk memastikan kepatutan mereka menjadi donor.

Sementara, Peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David H Muljono, yang juga arah dari tim peneliti plasma darah kementerian kesehatan, mengakui keterbatasan teknologi yang ada.

David mengatakan negeri yang memiliki teknologi mumpuni sebagaimana yang disebut Tonang di antaranya adalah Amerika Serikat dan China.

Lebih lanjut, David menjelaskan standar emas untuk melihat daya netralisir antibodi adalah plaque reduction neutralization test (PRNT), yang kini masih dikembangkan sebab Lembaga Eijkman.

Ke depannya, plasma-plasma dari rumah sakit yang menyelenggarakan uji klinis akan dikumpulkan pada lembaganya.

“Sekarang ini kita pantas meneliti… plasma-plasma ini nanti dikumpulkan, sambil diobati itu dikumpulkan, biar nanti tau kadar berapa dengan bisa bunuh virus.

“Kedua ingin tau titernya (dosis antibodinya) berapa. Morat-marit diciptakan metode lain yang mampu dilakukan di laboratorium biasa, ” ujarnya.

Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan mengatakan keselamatan pasien yang menjelma subyek adalah prioritas.

Dalam keterangannya, Departemen Kesehatan mengatakan pemantauan terhadap perihal kesehatan partisipan akan terus dilakukan.