Covid di India: WNI bercerita soal warga kasta arah, orang kaya yang ‘merasa hebat dan boleh langgar protokol kesehatan’

covid-di-india-wni-bercerita-soal-warga-kasta-atas-orang-kaya-yang-merasa-hebat-dan-boleh-langgar-protokol-kesehatan-12
  • Mohamad Susilo
  • BBC News Indonesia

5 tanda yang lalu

Sumber gambar, Arif/Agoes/Ayu

Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tinggal di India bercerita fenomena, antara lain yang unik soal warga bagian atas di Rajkot, Gujarat, yang “merasa hebat dan boleh melanggar protokol kesehatan” di tengah lonjakan urusan yang mencapai ratusan ribu sehari.

Mereka juga bercerita, meski kasus harian Covid-19 di negara tersebut naik tajam, masih ada warga yang “tetap ceroboh dalam menjalankan protokol kesehatan”.

Pada hari Kamis (22/04) kasus positif virus corona bertambah hampir 315. 000, angka harian tertinggi dalam dunia.

Banyak rumah kecil kewalahan dan muncul petunjuk penjarahan tabung-tabung oksigen sebab pasok tabung ini menipis. Yang juga menipis ialah pasok obat-obatan penting.

Meroketnya kejadian positif membuat warga kacau, termasuk warga Indonesia yang berada di India.

Arif Sorayaman Hulu, mahasiswa Indonesia di Rajkot, Gujarat di India barat, mengatakan yang antara lain mewujudkan dirinya khawatir adalah “abainya warga dalam menerapkan aturan kesehatan”. Padahal penerapan adat ini sangat penting di menekan pandemi.

“Aktivitas awak berjalan normal, padahal pemerintah sedang menerapkan lockdown (karantina wilayah), ” kata Cendekia.

Baca juga :

Ia juga melihat di pusat kota banyak warga yang tidak mengenakan masker.

Suatu ketika Arif berharta di rumah sakit pada Rajkot yang menangani pasien-pasien Covid-19.

“Saya muncul di depan rumah kecil itu dan saya tahu ambulans berlalu-lalang… belum siap satu pasien ditangani, telah datang lagi pasien yang baru… saya [juga] melihat ada penderita yang sangat parah, keluarganya menangis sejadi-jadinya, namun penanganannya saya lihat lamban, lamban sekali, ” tutur Pintar.

‘Diperparah oleh sistem sosial’

Sumber gambar, Arif Sorayaman Desa

Arif mengatakan dirinya melihat “fenomena unik” dalam mana kelompok masyarakat sejak kasta atas, dari gerombolan kaya dan elite, “sepertinya boleh melanggar protokol kesehatan”.

“Karena mereka merasa sudah hebat, berasal lantaran kelompok sosial yang luhur, mereka merasa bisa melakukan apa saja, ” prawacana Arif yang mengambil arah hukum.

Menghadapi situasi laksana ini, Arif dan kurang mahasiswa Indonesia di Rajkot, berusaha hati-hati dengan selalu menaati protokol kesehatan.

“Kami tahu, kami sadar Covid-19 ini sangat berbahaya, kami mematuhi protokol, akan tetapi lagi-lagi saya melihat mahasiswa lain kurang serius, ” katanya.

Yang membuatnya kacau adalah ia tinggal di asrama yang dekat secara gedung yang dipakai buat menampung orang-orang yang medium menjalani isolasi karena tersentuh Covid-19.

“Dan mereka dibiarkan keluar [dari gedung]#@@#@!!… sepertinya mereka menganggap Covid-19 itu nothing (tak tersedia bahayanya), ” kata Cerdas.

“Dua teman kepala kamar saya terkena Covid-19 dan harus isolasi [di gedung di depan asrama] dan mereka dibolehkan lalu-lalang, ” kata Arif.

‘Merasa sudah lulus lawan pandemi’

Sumber tulisan, Mohd Agoes Aufiya

Situasi berbeda dirasakan oleh mahasiswa Indonesia di Delhi, Mohd Agoes Aufiya.

Agoes mengatakan karantina wilayah dan sejumlah pembatasan — yang diberlalukan lagi mulai hari Minggu (18/04) — ditaati warga di kota itu.

“Semua warga letak di rumah, tidak ke mana-mana, kecuali bagi mereka yang punya alasan terang untuk keluar rumah, ” kata Agoes.

“Toko yang menyediakan kebutuhan tujuan pokok buka, tapi toko-toko yang menjual bahan atau produk nonesensial tutup… gardu sepatu atau toko ponsel, itu tutup, ” katanya.

Ia mengatakan secara ijmal warga di Delhi mengindahkan protokol kesehatan, misalnya menggunakan masker.

Mengucapkan juga :

“Mungkin kira-kira 95% pakai masker, tapi ya tetap saja masih ada yang tidak memakai masker. Saya merasa ketakukan atau kekhawatiran [warga] tidak seperti saat gelombang pertama, ” sekapur Agoes, mahasiswa doktoral jurusan hubungan internasional ini.

“Ketika itu orang-orang pakai kedok, pakai sarung tangan, pakai face shield dan menerapkan jaga jarak. Tapi dengan berjalannya waktu, mungkin sebab merasa sudah menang [melawan pandemi virus corona], karena angka peristiwa memang sempat turun dalam bulan November, Desember, Januari, Februari, mungkin membuat kewaswasan atau ketakutan warga tidak sebesar dulu, ” sirih Agoes.

Perasaan seperti tersebut ia perkirakan menjadi penyebab masyarakat tak lagi patuh sepenuhnya melaksanakan protokol kesehatan.

Sumber gambar, Reuters

“Saya pernah ke daerah Jakhal di Haryana, itu tidak ada warga yang memasang masker, ” kata Agoes.

Di tengah naiknya nilai kasus, Agoes dan para mahasiswa Indonesia di India mengintensifkan komunikasi melalui grup Whatsapp.

“Kami berbagi bahan, mengingatkan bahwa keadaan saat ini sulit dan kita seluruh harus waspada, terutama pada wilayah-wilayah episentrum, seperti pada New Delhi, Kerala, Karnataka, Tamil Nadu dan Uttar Pradesh… mereka yang ada di kawasan-kawasan itu diminta untuk hati-hati, ” katanya.

Informasi juga dibagikan ke warga Indonesia lain, antara lain soal jika tersedia warga yang menghadapi kesulitan atau terkena Covid-19 untuk memberi tahu pihak KBRI, untuk memastikan tersedia bantuan bagi warga Indonesia dengan memerlukan.

Rumah sakit di Uttar Pradesh kewalahan

Sumber gambar, Ayu Andriyaningsih

Penyekatan juga diterapkan oleh pemerintah di negara bagian Uttar Pradesh. Mahasiswi Indonesia di Lucknow, ibu kota negara bagian, Ayu Andriyaningsih, mengucapkan warga diwajibkan berada dalam rumah.

“Terasa sekali ketika lockdown diberlakukan… jauh lebih sepi. Alhamdulillah, disini masyarakat taat, ” logat Ayu.

“Masyarakat tidak keluar rumah, kecuali untuk urusan atau alasan yang valid… jadi kalau lockdown terasa sekali sepinya, ” imbuh Ayu. “Tak tersedia orang di jalan, kebetulan asrama saya di dekat kalan raya, ” katanya.

Uttar Pradesh, negara periode dengan populasi 240 juta jiwa, sangat terdampak pandemi.

Sejak pandemi bermula, terekam lebih dari 851. 000 kasus di negara bagian ini dengan angka moralitas setidaknya 9. 800 orang.

Rumah-rumah sakit menolak anak obat karena sudah tidak ada tempat tidur, sementara kremasi jenazah seakan tak bakal pernah berhenti.

Sumber tulisan, Reuters

“Pernah dalam utama hari, kasus bertambah kira-kira 30. 000 jadi agak-agak rumah sakit kewalahan, ” kaya Ayu.

“Saya sendiri merasa antara stres tidak stres… sekarang saya juga puasa, kemudian di dalam posisi dikurung dengan status seperti ini, jadi saya misalnya susah cari objek makanan. Sekarang ini suram mencari sayur segar, ” kata Ayu.

“Kadang ada vendor (pedagang) yang hadir ke asrama, tapi kan tidak semuanya 100% hangat, ” katanya.

Ia mengakui dirinya sangat khawatir dengan pandemi yang memburuk.

“Kami khawatir sekali karena kasusnya melonjak, jadi takut… ini membuat kami waspada, ” kata Ayu.

Penuh yang meyakini meroketnya peristiwa dipicu oleh festival-festival keyakinan dan kampanye pemilu negeri bagian, yang dihadiri banyak orang dan penyelenggara malang memastikan protokol kesehatan benar-benar ditaati.

Pemerintah negara arah dan federal mengeklaim situasinya masih bisa dikendalikan, namun banyak pihak mengatakan negeri telah “gagal mengantisipasi aliran kedua” ketika situasi melandai antara Oktober 2020 maka Februari 2021.