Gempa Mamuju: Puluhan meninggal, ribuan mengungsi karena khawatir tsunami, sementara elektrik padam

gempa-mamuju-puluhan-meninggal-ribuan-mengungsi-karena-khawatir-tsunami-sementara-listrik-padam-10
15 Januari 2021, 10: 45 WIB

Diperbarui 7 jam yang lalu

Gempa kuat yang menerjang Mamuju dan sekitarnya, Sulawesi Barat Jumat (15/01) menyebabkan paling tak 42 orang meninggal dan ratusan lainnya luka-luka.

Ribuan warga mengungsi setelah gempa dengan kekuatan enam, 2 pada Skala Richter mengguncang dengan puluhan kali gempa terusan yang dikhawatirkan dapat memicu terjadinya tsunami.

Gempa merusak setidaknya lebih daripada 300 rumah dan dua hotel serta meratakan rumah sakit serta kantor gubernur setempat.

Aktivitas seismik menimbulkan tiga longsor, memadamkan listrik serta merusak jembatan penting termasuk yang menghubungkan dengan kota Makassar. Hujan deras juga memperparah keadaan, pertama mereka yang mencari tempat berlindung.

Warga Mamuju, Muhammad Ansari Iriyanto, 31, mengatakan warga senewen dan mengungsi ke bukit-bukit dalam seputar.

“Mamuju sekarang sepi, dan seluruh orang mengungsi ke gunung. Penuh gedung hancur dan orang gamang tsunami, ” katanya kepada dewan berita Reuters.

Warga lain, Syahir Muhammad mengatakan, “Sekarang hujan dan kami perlu bantuan. ”

Sementara Sukri Efendy, warga berusia 26 tahun, mengutarakan, “Kami baru saja merasakan gempa susulan, ”

Sampai Jumat siang, jaringan listrik dilaporkan ”masih redup dan komunikasi selular tidak tetap pada dua kabupaten tersebut”.

Korban wafat ini dikhawatirkan akan terus meningkat, karena beberapa laporan menyebutkan peluang ada korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan gedung dengan roboh.

Kantor informasi AFP melaporkan, tim SAR di Mamuju sedang berupaya menolong kira-kira “pasien dan staf rumah rendah yang terjebak di bawah reruntuhan rumah sakit yang roboh. ”

“Kami sekarang berusaha menjangkau mereka, ” kata Arianto, salah-seorang regu penolong, tanpa menyebutkan angka pasti orang-orang yang terjebak.

Seperti apa kerusakan kelanjutan gempa?

Dalam Mamuju, menurut BNPB, gempa ini menyebabkan kerusakan parah pada Hotel Maleo, kantor Gubernur Sulbar, serta RSUD Mamuju.

Sebuah bangunan mini market juga dilaporkan roboh. Jaringan listrik di wilayah itu juga dilaporkan mengalami pemadaman.

Sementara di Kabupaten Majene, gempa itu menyebabkan longsor pada 3 titik di sepanjang jalan poros Majene-Mamuju, yang menyebabkan akses bulevar terputus.

Di wilayah ini dilaporkan pula setidaknya 300 unit rumah hancur, dan jaringan listrik mengalami pemadaman.

Mengenai jumlah orang yang mengungsi sudah mencapai setidaknya 15. 000 nyawa, yang tersebar di sejumlah desa.

Itu mengungsi tersebar di sejumlah tempat, antara lain Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Jalan, Desa Petabean, serta Desa Deking.

Yang lain, mereka mengungsi di sejumlah tempat di Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang, Dukuh Limbua di Kecamatan Ulumanda dan Kecamatan Malunda dan Kecamatan Sendana.

‘Waspadai gempa susulan’

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta masyarakat di Mamuju dan sekitar wilayah Majene untuk mewaspadai gempa susulan sekaligus menjauhi wilayah pantai.

Dia mengatakan gempa yang berlaku di sekitar wilayah Majene tercatat gempa dangkal dengan pusat kedalaman 10 kilometer dari permukaan. Sejak Kamis (14/01) hingga Jumat (15/01), BMKG sudah mencatat 28 kali gempa susulan.

“Masih ada daya gempa susulan berikutnya yang sedang kuat. Bisa mencapai kekuatan semacam yang tadi terjadi [magnitudo] 6, 2 atau kecil lebih tinggi lagi. Itu sebab kondisi batuan sudah digoncang perut kali [magnitude terkuat 5,9 dan 6,2], bahkan 28 kali, sudah rapuh.

“Pusat gempa ada di pantai memungkinkan terjadinya longsor bawah laut sehingga masih ataupun dapat pula berpotensi terjadi tsunami apabila ada gempa susulan berikutnya dengan pusat gempa masih dalam pantai atau di pinggir laut, ” kata Dwikorita pada konferensi pers Jumat (15/01).

Dwikorita meminta warga untuk tak hanya menghindari gedung-gedung, tapi ia juga tempat pantai untuk segera menyingkir daripada area itu jika merasa gempa.

“Tidak perlu menunggu peringatan pra tsunami karena tsunaminya bisa sangat cepat, ” ujar Dwikorita.

BMKG menganalisis gempa itu dikarenakan sesar naik Mamuju (Mamuju thrust) serta merupakan pengulangan dari dua gempa besar sebelumnya, yakni di tahun 1969 (magnitudo 6, 9) dan 1984 (magnitudo 6, 7).

Dalam pangkal informasi, BNPB menyebut sebanyak tiga orang meninggal dunia dan sejumlah bangunan di Mamuju, termasuk dewan Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) jatuh akibat gempa bermagnitudo 6, dua pada Jumat pukul 01. 28 WIB.

Kantor berita Antara melaporkan bahwa bangunan Kantor Gubernur Sulbar berlantai empat nyaris rata dengan desa.

Gedung Rumah Sakit Mitra Manakarra Mamuju juga roboh. Pasien yang selamat langsung dievakuasi ke kedudukan yang dianggap aman. Mal Mamuju dan bangunan pusat perbelanjaan yang lain juga terlihat rusak di sebesar bagian. Kemudian data sementara menuturkan gempa turut merusak sebanyak 62 unit rumah, satu unit Puskesmas dan satu kantor Danramil Malunda.

BPBD Majene menginformasikan longsor di tiga titik sepanjang jalan poros Majene-Mamuju sehingga menyebabkan akses jalan terputus.

Hingga informasi ini diterbitkan, petugas masih menyerempet lokasi terdampak gempa guna mengungsikan korban.

Merespons kondisi ini, BPBD setempat melakukan penanganan darurat, seperti penanganan korban luka, evakuasi, pendataan dan pendirian pos pengungsian. Kebutuhan mendesak saat ini berupa sembako, selimut dan tikar, tenda keluarga, pelayanan medis dan terpal.

Panik keluar sendi

Sebelumnya, BPBD Kabupaten Majene menginformasikan warganya merasakan gempa kuat selama lima hingga tujuh detik. Gempa dengan berpusat 6 km timur bahar Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) menyusun para warga panik. Kepanikan menyusun mereka keluar rumah.

Hal sebangun dirasakan warga Kabupaten Polewali Mandar. BPBD setempat menginformasikan gempa dirasakan warga cukup kuat sekitar 5 hingga 7 detik.

Berdasarkan penjabaran peta guncangan BMKG yang diukur dengan skala MMI atau Modified Mercalli Intensity, gempa M6, 2 ini memicu kekuatan guncangan IV – V MMI di Majene, III MMI di Palu, Sulawesi Tengah dan II MMI dalam Makasar, Sulawesi Selatan.

Skala Mercalli tersebut merupakan satuan untuk mengukur kekuatan gempa.