‘Ibu-ibu takut memeriksakan anaknya’ – Dampak pandemi pada Posyandu dan angkatan masa depan

ibu-ibu-takut-memeriksakan-anaknya-dampak-pandemi-pada-posyandu-dan-generasi-masa-depan-18
  • Pijar Anugerah
  • BBC News Negara sendiri

4 jam yang maka

Pandemi Covid-19 menghambat program Posyandu, yang memberikan bantuan kesehatan penting bagi ibu da anak di daerah. Hal kita, ditambah dampak ekonomi dari pandemi, diperkirakan meningkatkan kasus anak kerdil alias stunting di Indonesia.

Pada Kamis (11/02), Posyandu Mawar di Kelurahan Derwati, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, lagi dibuka setelah hampir setahun tutup. Bulan Februari adalah jadwal pemberian vitamin A untuk anak balita.

Posyandu dibuka sejak pukul 08: 00 WIB di Balai Pertemuan RW dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Selain diberi vitamin A, anak-anak balita juga ditimbang berat badannya serta diukur tinggi badannya, lingkar kepala, dan lengan atasnya.

Para orang tua, mayoritas kaum ibu, tampak antusias membawa anak-anak mereka ke Posyandu. Mereka dilayani oleh 12 kader PKK yang kompak memakai baju merah dan kerudung hijau.

Salah seorang ibu yang datang ke Posyandu adalah Rike Isnawati. Perempuan berusia 24 tahun itu melahirkan dua anak kembar selama pandemi. Ia mengaku baru pertama kali ini datang ke Posyandu.

Sewaktu hamil, ia mengecek kesehatan diri dan janinnya dengan datang ke dokter pada rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dan ongkosnya mahal. Akibatnya, ia hanya periksa ke dokter saat waktu imunisasi.

Setelah melahirkan, kata Rike, pemantauan berat badan anak-anak balitanya ia lakukan sendiri.

“Paling divvt timbangan yang besar sama ego ditimbangnya. Nah nanti nggak bawa bayi, berapa aku kiloannya. Nanti dikurangi, ” ujarnya.

Saat kegiatan Posyandu tidak berjalan, ibu muda itu mengaku sempat merasa khawatir apabila tumbuh-kembang anaknya tidak terpantau dgn baik.

“Kalau ada kekhawatiran, paling searching dalam Google. Tidak ada yang bisa ditanya, diajak komunikasi, ” ungkapnya.

Ketua Posyandu Mawar Kelurahan Derwati, Teti Sulastri, mengatakan selama kegiatan Posyandu tak bisa dilaksanakan karena pandemi. Pemantauan ibu hamil dan anak balita dilakukan melalui grup RT.

Dalam setiap RT, ada dua kader Posyandu yang senantiasa mengingatkan pra ibu untuk menimbang berat awak anak-anaknya. Jika ada laporan akan anak yang tinggi atau berat badannya kurang, mereka akan ada ke rumahnya untuk memeriksa.

Dalam September, kata Teti, para kader Posyandu memberikan obat cacing untuk anak-anak usia satu hingga 9 tahun dengan datang dari pintu ke pintu.

Teti mengakui bahwa tidak semua ibu dan anak bisa terpantau saat kunjungan door-to-door . Hambatannya melimpah. “Kalau ada orang baru, momento ada di rumah, anak-anak ngak dikeluarkan, seperti apa di di kita nggak tahu, ” ungkapnya.

Pandemi Covid-19 telah menghambat program Posyandu dalam banyak daerah di Indonesia. Berdasarkan survei Kementerian Kesehatan terhadap amat dari 4. 600 Puskesmas untuk penghujung 2020, sebanyak 43% Puskesmas tidak melaksanakan Posyandu. Namun demikian, lebih dari 60% tetap menjalankan kunjungan ke rumah untuk pemeriksaan ibu hamil dan balita.

Plt. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat di Kementerian Kesehatan, dr. Kartini Rustandi, mengatakan pemerintah telah membuat pedoman sebagai melaksanakan Posyandu di masa pandemi. Namun angka kunjungan ke Posyandu tetap berkurang.

“Tidak semua keluarga berani membawa anaknya untuk datang ke Posyandu, ” ujar Kartini.

Padahal, Posyandu memainkan peran penting dalam bantuan kesehatan bagi ibu dan buah hati selama 1. 000 hari pertama kehidupan. Ini krusial dalam pencegahan stunting , seperti kondisi ketika tinggi badan buah hati lebih pendek dari anak-anak lainnya seusianya akibat kekurangan gizi.

Stunting tidak hanya berdampak pada perkembangan fisik anak seandainya juga kognisi. Maka dari tersebut, pemerintah menganggap prevalensi stunting berpotensi menyia-nyiakan bonus demografi di Dalam negri yang mencapai puncaknya pada 2030.

Sempat turun, naik lagi

Uzur pada Posyandu, ditambah dampak redovisning dari pandemi, diperkirakan menyebabkan lonjakan angka stunting yang sempat turun yang beberapa tahun terakhir.

Setidaknya, hal tersebut terjadi di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Pada 2018, Takalar akhirnya menjadi salah satu kabupaten dengan angka stunting tertinggi di provinsi, dikategorikan yang merupakan “zona hitam”.

“Karena dengan persentase [ stunting ] 40, 1 100, Takalar masuk ke dalam urutan ke 10 kabupaten yang tertinggi angka stunting -nya untuk provinsi, ” istilah kepala Dinas Kesehatan Takalar, Rahmawati.

Untuk tiga tahun terakhir, pemerintah Kabupaten Takalar sukses menurunkan persentase ini hingga 13, 6%. Namun dalam masa pandemi mereka kembali menderita lonjakan kasus stunting , yakni sebanyak 4. 306 anak balita yang tersebar di sembilan kecamatan.

Rahmawati menjelaskan, pada depan pandemi, pemerintah menerapkan pembatasan sosial ketat di Kabupaten Takalar dalam dikategorikan sebagai zona merah. Akibatnya, ada beberapa target Posyandu yg tidak tercapai, antara lain penimbangan bayi dan balita minimal satu bulan sekali.

Di Desa Bentang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Posyandu buka harus bulan selama pandemi. Namun kuantitas kunjungan berkurang drastis. Dari 50-60 orang tua yang biasa datangi untuk menimbang anaknya, paling berlimpah 10 orang tua yang datang. Alasannya, para orang tua takut datang ke Posyandu.

“Itu karena munculnya isu ketika ke Posyandu dapat dilakukan tes rapid, tes swab…ini membuat ibu-ibu tidak mau ke Posyandu. Mereka takut di-Covid-kan, micron kata dr. Radiah, kepala Puskesmas Bontokassi yang menaungi pelayanan kesehatan di Desa Bentang.

Beberapa kader Posyandu, seperti Fitriani (24), rutin proses kunjungan ke rumah-rumah untuk memantau tumbuh-kembang balita penderita stunting .

Dalam setiap kunjungan, ia menanyakan sejumlah pertanyaan tentang pemberian asupan makanan dan perawatan balita kepada orang tua, atau menimbang berat badan serta mengukur tinggi badan anak-anak.

Jumat lalu ia berkunjung ke rumah seorang ibu yang kedua anak balitanya menderita stunting . Buah hati pertamanya adalah laki-laki berumur a couple of tahun, dengan berat badan fjorton kilogram dan tinggi badan dalam terbilang pendek dibandingkan anak-anak lainnya seusianya. Sementara anak keduanya perempuan berumur 1, 5 tahun, hanya berat badan sembilan kilogram da tinggi badan 71 sentimeter.

Sekilas keduanya terlihat normal. Namun menurut standar Kementerian Kesehatan, si anak laki-laki dikategorikan berat badan luar biasa kurang ( severely underweight ), sementara si putra perempuan sangat pendek ( severely stunted ).

Fitriani menjelaskan yakni anak penderita stunting rata-rata berasal di keluarga miskin. “Biasa kendalanya kurang kasih makan buah-buahan… faktor makanan, ” ujarnya.

Faktor lain yang selalu ditemui ialah “kadang-kadang anaknya malas makan karena ibunya malas makan, juga faktor dari anak-anak dimana rewel sering sakit naik turun timbangan badannya, ” kata Fitriani.

Did ibu, Kasmiati (27), mengaku bilamana anaknya sering menderita demam tinggi dengan gejala flu ringan, yang berakibat pada penurunan berat badan anak-anaknya.

“Iya sering bawa ke Posyandu kalau sakit demam. Biasa naik turun timbangan BB (Berat Badannya). Kalau lagi sehat banyak rato makan, sayur. Tapi kalau sakit begini susah makan…dan itu yang kasih turun badannya, timbangannya” katanya.

Peran Posyandu

Menurut Profesor Endang Laksminingsih, pakar gizi dari Fakultas Kesehatan Penduduk Universitas Indonesia, posyandu berperan yang identifikasi masalah gizi dan tindak lanjutnya. Salah satu kegiatan paling penting di Posyandu adalah pemantauan berat badan anak setiap bulan.

Prof. Endang menjelaskan, salah satu indikasi stunting merupakan berat badan anak tidak naik selama dua bulan. Hal sekarang perlu dicari tahu penyebabnya — apakah karena sakit, kurang gizi, atau hal lain. Jika Posyandu dilaksanakan setiap bulan, bisa segera dilakukan tindakan.

“[Terganggunya] Posyandu itu menyebabkan identifikasi masalah tak optimal, maka penanggulangan lebih lanjut terhadap pemantauan masalah gizi ini menjadi tidak optimal, ” ujarnya.

Selain menimbang berat badan anak, Posyandu memberikan layanan lain seperti imunisasi, vitamin A, dan suplementasi Zinc untuk mencegah penyakit. Ibu hamil juga mendapat pelayanan kesehatan, termasuk tablet tambah darah untuk mencegah anemia dan makanan tambahan.

Beberapa ibu dapat pergi ke rumah sakit atau klinik untuk mendapatkan pelayanan tersebut. Namun banyak ibu yg tidak punya akses atau tidak mampu membayar untuk pergi ke klinik sangat mengandalkan pelayanan cuma-cuma dari Posyandu. Dan kelompok inilah yang, menurut Prof. Endang, amat berisiko.

“Justru mereka yang memerlukan, dalam harus diidentifikasi itu adalah kelompok yang tidak berkemampuan dan pengetahuannya tidak optimal. Justru di sini yang risiko stunting lebih besar, inches ujarnya.

Ia menambahkan, Posyandu juga bertambah dekat dengan komunitas. “Biasanya ibu-ibu Posyandu mengabari, kalau sudah saatnya Posyandu mereka keliling. Jadi dicariin , mereka proaktif. ”

Mungkinkah target mengatasi stunting tercapai?

Iing Mursali, ketua Bernard Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (TP2AK) yang berada di bawah Sekretariat Wakil Presiden, mengakui bahwa bener-bener ada prediksi bahwa angka stunting tetap naik setelah pandemi. Namun kaga diketahui seberapa besar.

Menurut Iing, dampak pandemi pada kasus stunting perlu dilihat dalam jangka panjang, kaga bisa dalam satu-dua bulan doank. Ia menambahkan bahwa dampaknya tergantung pada lamanya pandemi dan besaran bantuan sosial alias social safety net yang diberikan pemerintah.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia sudah berhasil menurunkan angka stunting dari 30, 8% kepada 2018 menjadi 27, 7% untuk 2019. Pada 2020, diperkirakan angka itu kembali naik. Namun ia menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen pada target menekan angka stunting hingga 14% pada 2024.

“Pencegahan stunting selalu menjadi prioritas nasional, ” ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Iing mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mencapai target tersebut, termasuk menambah penerima manfaat bantuan sosial dan menyusun panduan bagi servis Posyandu selama pandemi. Pemerintah juga telah melakukan realokasi anggaran Kementerian/Lembaga untuk berbagai program sosial dimana berkaitan dengan stunting, ia menambahkan.

“Secara add untuk stunting yang awalnya 27T naik jadi sekitar lebih dari 38T, ” ungkapnya.

Bagaimanapun, Prof. Endang merasa hendak sangat sulit mencapai target angka stunting 14% dalam keadaan pandemi. Pasalnya, stunting bukan sesuatu yang gampang diturunkan karena merupakan hasil kekurangan gizi dan infeksi yang kronis da berulang. “Sehingga menanggulanginya tidak mampu cepat, ” ujarnya.

Ia berharap sepenuhnya pimpinan daerah segera gencar bertindak untuk mengatasi masalah stunting , yang dampaknya meraih dirasakan dalam tiga generasi.

Itu karena ketika ibu hamil menderita masalah, pembentukan janin termasuk penis reproduksi – sel telur atau sperma – tidak optimal. Menyebabkan, anak si janin juga berisiko mengalami stunting.

“Artinya kalau dia ada masalah sedikit saja, anak yang dulu orang tuanya kekurangan gizi, dia atas lebih mudah terserang penyakit jantung, pendek, nggak pintar, ” Prof. Endang menjelaskan.

Jika ini dibiarkan, sambung Ma?tre. Endang, akan terjadi efek spin out of control yang memperbesar kesenjangan antara mereka yang kaya dan yang fakit.

Wartawan di Bandung, Yuli Saputra, dan wartawan di Makassar , Riza Salman, berkontribusi dalam laporan kita.