Insiden kebakaran berulang di fasilitas migas, Pertamina didesak benahi ‘sistem pengamanan yang tidak andal’

insiden-kebakaran-berulang-di-fasilitas-migas-pertamina-didesak-benahi-sistem-pengamanan-yang-tidak-andal-22
  • Ayomi Amindoni
  • Wartawan BBC News Indonesia

2 jam yang lalu

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Kobaran api dan kepulan asap masih membumbung tinggi di area kilang milik Pertamina di Indramayu, Jawa Barat, dua hari setelah insiden kebakaran terjadi pada Senin (29/03) dini hari.

Sejumlah warga yang tinggal di dekat kilang melaporkan adanya bau menyengat beberapa jam sebelum insiden kebakaran terjadi.

Kepolisian daerah Jawa Barat dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu menyebut adanya indikasi bahwa kebakaran diduga dipicu oleh kebocoran tangki.

Namun Pertamina menegaskan pihaknya masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab insiden yg membuat hampir 1. 1000 jiwa mengungsi dan sekitar 20 orang mengalami luka bakar.

Kebakaran di kilang minyak Balongan milik Pertamina, menambah daftar panjang insiden kebakaran di fasilitas perusahaan energi milik negara tersebut. Minimalnya, empat kebakaran kilang terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Pengamat energi dan aktivis lingkungan mengatakan insiden yang terus berulang disebabkan “sistem pengamanan yang tidak andal” dan menuntut investigasi yang menyeluruh dan transparan terkait insiden itu.

Sumber gambar, BBC

‘Rasanya saya sudah hampir mati’

Dua malam terakhir, Devi dan keluarganya terpaksa menginap pada GOR Bumi Patra, pusat pengungsian bagi warga terdampak kebakaran tangki penyimpangan BBM milik Pertamina, di Indramayu, Jawa Barat pada Senin (29/03) pukul 00. 45 pagi buta.

Malam saat insiden terjadi, ia mengaku mencium bau menyengat dari region kilang. Ia bersama warga lain kemudian melapor ke kantor Pertamina, namun menurutnya, “tidak mendapat reaksi”.

“Pas jam 11 malem tuh , udah terasa bau sekali, terus pada bangun, terus minta penanganan dari Pertamina tapi enggak ada reaksi, ” tutur Devi, Selasa (30/03).

Sumber gambar, Reza

Kemudian, warga diminta keluar rumah oleh aparat polri dan TNI untuk evakuasi. Tak lama sesudah meninggalkan rumahnya, ia mendengar adanya ledakan dari haluan kilang. Kobaran api terjadi pada pukul 00. 45 WIB.

“Pikiran saya mah , wah kalau lari enggak keburu , soalnya apinya ‘kan gede banget. Saya juga trauma ngelihatnya . Rasanya saya itu udah hampir mati, enggak ada umur lah, ” aku Devi.

Rumahnya di Wisma Jati, Desa Sukaurip yang berjarak sangat dekat dengan region kilang, hancur akibat insiden tersebut.

“Hancur, semua hancur. Deket sih , cuma dua meter dari [kilang] yang meledak. Itu kan dibatasi pagar beton, kalau nggak ada reembolsar beton, kena semua, ” tutur perempuan berusia forty tahun tersebut.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Nasib serupa dialami dengan Indah, ibu muda berusia 19 tahun yang terpaksa mengungsi bersama bayinya yg baru berusia tiga bulan.

“Sampai bergetar rumah, banyak yang rusak. Atap pada jebol ke Kasur, kaca semua pada pecah, ” tutur Indah mengisahkan pengalaman yang ia alami malam itu.

Hingga kini ia masih merasa trauma dan masih enggan kembali ke rumahnya.

“Pengennya pulang, tapi masih bahaya. Takut, enggak mau ambil risiko. Takutnya ke sana, terus gitu lagi, ‘kan repot, ” beta Indah.

Sumber gambar, Reza

Diduga dipicu kebocoran tangki

Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab insiden tersebut. Namun, BPBD Kabupaten Indramayu menduga kebakaran kilang Balongan dipicu kebocoran tangki kilang minyak.

Dugaan ini berdasar keterangan warga yang sempat mencium bau gas sebelum terjadinya tiga ledakan beruntun, menurut pelaksana tugas kepala pelaksana BPBD Indramayu, Dodi Dwi Endrayadi.

“Penyebab kejadian bencana yaitu kebocoran tangki gas, ” ujar Dodi.

“Kebocoran gas / bau menyengat sudah terjadi sejak pukul 23. 00 WIB, warga melaporkan ke humas pertamina sekitar pukul 00. 45 WIB. Ledakan terdengar dua kali, ledakan kekuatan sedang dan satu kali ledakan susulan dengan kekuatan besar, ” jelasnya kemudian.

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Senada, Kapolda Jawa Barat Ahmad Dofiri mengatakan ada laporan mengenai indikasi kebocoran pada tangki kilang.

“Kami mendapat informasi tadi bahwa ada rembesan atau kebocoran di pipa tangki yang terbakar, inch kata Dofiri pada wartawan, Senin (29/03).

“Saya kira akibatnya itu. Tetapi ini informasi awal karena semalam ada petir yang cukup besar juga, ” tambahnya.

Adapun, Pertamina mengatakan pihaknya masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab kebakaran tersebut.

Sumber gambar, BPBD

Sebelumnya, Pertamina mengatakan dugaan sementara petir turut memicu kebakaran.

“Sementara ini kita masih menduga (kebakaran disebabkan) terkena petir, inch ujar Unit Manager Commrel & CSR Pertamina RU VI Balongan Indramayu, Cecep Supriyatna seperti dikutip dri Antara.

Ketika ditanya adanya indikasi kebocoran pada tangki, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan laporan itu akan diselidiki lebih lanjut.

“Semua keterangan dari pihak internal maupun dri warga kita sedang collect semua, ini sebagai dasar untuk kita lakukan investigasi lebih lanjut. Jadi kita tunggu saja karena terkait ada banyak aspek yg harus dilihat, ” kata Nicke.

Sumber gambar, Masa Foto

Sistem keamanan dan keselamatan yang tak bisa diandalkan

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi menyebut ini adalah kali kedua kilang Balongan mengalami kebakaran.

“Kilang sebesar dan sestrategis Balongan mestinya punya cara pengamanan yang bagus bahkan harus berlapis-lapis sehingga saat terjadi percikan api telah bisa memadamkan sendiri, inch kata Fahmy.

“Dan standar internasional mestinya kilang tersebut zero accident , ternyata itu terjadi beberapa kali dan yang sangat saya prihatinkan, pemukiman penduduk terlalu dekat, sehingga bilamana terjadi kebakaran besar tadi mereka lari tunggang langgang untuk mengungsi, ” imbuhnya.

Insiden yang terus berulang, kata Fahmy, disebabkan oleh sistem keamanan dan keselamatan yang tak bisa diandalkan.

“Saya meragukan sistem pengamanan yg dimiliki Pertamina tidak menerapkan standar internasional yang zero accident , karena kenyataannya terjadi berulang, ” jelas Fahmy.

Sumber gambar, ANTARA FOTO

“Kalau Balongan ada ledakan atau karena petir, itu mengindikasikan bahwa yang lemah adalah sistemnya, bukan karena kelalaian.

“Itu pada beberapa kecelakaan sebelumnya, tidak merupakan karena kelalaian, tapi kelemahan sistem pengamanan Pertamina, ” kata Fahmy kemudian.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, setidaknya terjadi empat kali insiden kebakaran di kilang Pertamina, antara lain di Dumai, Cilacap Balikpapan dan yang terbaru di Balongan.

Agar agar insiden serupa tak terjadi kembali, Fahmy merekomendasikan agar agar Pertamina melakukan investigasi penyebab insiden, melakukan perbaikan cara pengamanan agar sesuai standar internasional.

Di sisi lain, ia merekomendasikan agar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan audit secara reguler buat memastikan keandalan sistem pengamanan di kilang-kilang Pertamina.

“Tanpa tiga hal tadi, jangan harap kecelakaan serupa tidak akan terjadi lagi pada kilang-kilang minyak yang membawa korban, ” tegasnya.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Dengan api yang hingga kini belum berhasil dipadamkan, Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak mengatakan kebakaran di kilang Balongan jadi berdampak buruk bagi kondisi lingkungan dan kesehatan penduduk yang tinggal di sekitar kilang.

Ia mengatakan, berbagai polutan berbahaya yang timbul dari kebakaran tak hanya akan mencemari udara sekitar kilang, namun dapat terbawa angin hingga jauh.

“Pertamina harus melakukan langkah mitigasi yang menyeluruh terhadap berbagai risiko kebakaran kilang, termasuk dampaknya untuk perekonomian dan kehidupan penduduk sekitar, ” kata Leonard.

Sumber gambar, Getty Images

Ia menambahkan, apabila terdapat kelalaian atau pelanggaran prosedur kesehatan dan keselamatan di fasilitas Pertamina, mereka harus dikenakan tanggung jawab secara hukum.

“Pemerintah harus menetapkan peraturan yang lebih ketat untuk industri perminyakan agar lebih aman dan lebih bertanggung jawab atas kerusakan yang mereka lakukan, ” ujarnya.

Maka dari itu, pihaknya mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengajukan tuntutan pidana terhadap Pertamina sebagai pelaku berulang bencana lingkungan.

Hal serupa pernah dilakukan KLHK pada 2019 silam ketika menggugat para pihak : termasuk Pertamina – yang bertanggungjawab atas pencemaran di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur yang terjadi pada 2018.

Kala itu Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar menggugat Pertamina dan sejumlah pihak terkait, membayar ganti rugi lingkungan hidup secara tanggung renteng senilai Rp10, 15 triliun.

Pencemaran di Teluk Balikpapan disebabkan tumpahan minyak dari pipa kilang yang rusak akibat ditabrak oleh kapal.

Sang nahkoda kapal kemudian diganjar vonis 10 tahun penjara lalu denda Rp15 miliar.

Ia menambahkan dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup Nomor thirty-two Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup (UUPPLH) disediakan klausul tuk pidana lingkungan untuk proses penuntutan kepada badan hukum korporasi yang melakukan pelanggaran lingkungan.

“Ini bukan pertama kalinya, dan ini tidak akan menjadi yang terakhir kecuali tindakan tegas diambil, ” cetusnya.