Iran minta Indonesia jelaskan alasan perebutan kapal tanker yang dituduh ‘melakukan transfer minyak ilegal’ di selat Kalimantan

iran-minta-indonesia-jelaskan-alasan-penyitaan-kapal-tanker-yang-dituduh-melakukan-transfer-minyak-ilegal-di-perairan-kalimantan-4

25 Januari 2021, 17: 20 WIB

Iran telah meminta pemerintah Indonesia untuk memberikan bukti terkait penyitaan kapal tanker berbendera Iran di perairan Kalimantan.

Suruhan ini disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, dalam keterangan pers mingguan hari Senin (25/01) yang disiarkan sebab televisi.

Satu hari sebelumnya, kapal tanker berbendera Iran dan Panama dilaporkan disita di perairan Indonesia.

Kementerian Luar Negeri Indonesia belum memberikan keterangan mengenai kronologi kejadian ini dan mengapa kapal tanker ini disita.

“Masih belum mendapat informasi dari Bakamla (Badan Keamanan Laut) atas perkara tersebut, ” ujar Juru bicara Kemenlu, Teuku Faizasyah, dalam perintah tertulis kepada BBC News Nusantara.

Penyitaan terhadap kapal MT Horse berbendera Iran dan kapal MT Freya berbendera Panama dilaporkan terjadi atas “dugaan transfer minyak ilegal di perairan Indonesia”.

Khatibzadeh mengatakan penyitaan itu terjadi karena “masalah teknis” dan ia sepertinya mengisyaratkan bahwa insiden ini “biasa terjadi di sektor pengiriman oleh kapal”.

“Otoritas Pelabuhan kami dan perusahaan pemilik kapal sedang mencari penyebab perkara dan menyelesaikannya, ” kata Khatibzadeh dalam konferensi pers mingguan yang disiarkan televisi, seperti dilaporkan kantor berita Reuters.

Juru bicara petugas pembela pantai di Indonesia, Wisnu Pramandita, mengatakan kapal tanker yang disita di perairan lepas Kalimantan hendak dikawal ke Pulau Batam dalam Provinsi Kepulauan Riau untuk analisis lebih lanjut.

“Kapal tanker, pertama kala terdeteksi pada pukul 5: 30 waktu setempat (24/01), menyembunyikan nama mereka dengan tidak menunjukkan standar nasional mereka, mematikan sistem identifikasi otomatis dan tidak menanggapi panggilan radio, ” kata Wisnu pada sebuah pernyataan pada hari Minggu.

Wisnu mengatakan kepada Reuters pada keadaan Senin (25/01) bahwa kapal itu “tertangkap basah” mentransfer minyak dari MT Horse ke MT Freya dan terlihat ada tumpahan patra di sekitar kapal tanker penyambut.

Jasad kapal ditahan

Wisnu menambahkan bahwa 61 awak kapal tersebut adalah awak negara Iran dan China dengan telah ditahan.

Organisasi Maritim Internasional meminta kapal menggunakan transponder untuk keselamatan dan transparansi.

Kru bisa mematikan perangkat bila ada bahaya pembajakan atau naas serupa.

Tetapi transponder sering kala dimatikan untuk menyembunyikan lokasi kapal selama aktivitas terlarang.

Kedua supertanker itu, masing-masing mampu membawa dua juta barel minyak dan terakhir terlihat pokok bulan ini di lepas miring Singapura, sebagaimana ditunjukan data Refinitiv Eikon.

Very Large Crude Carrier (VLCC) MT Horse, milik National Iranian Tanker Company (NITC), hampir terisi penuh dengan minyak sementara VLCC MT Freya, yang dikelola oleh Shanghai Future Ship Management Co, kosong, kata data itu.

NITC belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar.

Pencarian oleh Reuters pada direktori perusahaan China menunjukkan bahwa alamat kantor terdaftar Shanghai Future Ship Management Co berada di bawah perusahaan lain bernama Shanghai Chengda Ship Management.

Perusahaan itu pula belum memberikan keterangan terkait kejadian ini.

Iran dituduh menyembunyikan destinasi penjualan minyaknya dengan menonaktifkan sistem pelacakan pada kapal tankernya, sehingga sulit untuk menilai berapa banyak ekspor minyak mentah yang dilakukan Teheran, sementara negara itu berusaha untuk melawan sanksi AS.

Pada tarikh 2018, mantan Presiden Donald Trump menarik Washington dari kesepakatan nuklir Iran 2015 dan menerapkan balik sanksi yang bertujuan untuk menekan ekspor minyak Teheran menjadi hampa.

Iran mengirim kapal MT Horse ke Venezuela tahun lalu untuk mengirimkan 2, 1 juta barel kondensat Iran.