Jacob Blake, pria kulit hitam AS yang ditembak ‘tujuh kali’ oleh polisi hingga ‘lumpuh’, picu kemurkaan berujung kerusuhan

Jacob Blake, pria kulit hitam AS yang ditembak 'tujuh kali' oleh polisi hingga 'lumpuh', picu kemurkaan berujung kerusuhan

Dua orang ditembak mati dan satu lainnya cedera pada malam ketiga kerusuhan di kota Kenosha, Amerika Serikat, dengan dipicu oleh penembakan polisi terhadap seorang pria kulit hitam.

Petugas mengatakan ketiga orang itu ditembak, tetapi tidak memberikan rincian tentang siapa saja yang terlibat.

Laporan-laporan lantaran media lokal sebelumnya menyebutkan kebengisan itu diyakini berasal dari perkara antara pengunjuk rasa dan pria bersenjata yang menjaga sebuah pompa bensin.

Kerusuhan pecah di Kenosha setelah Jacob Blake ditembak oleh polisi pada hari Minggu (23/08).

Sebagian awak semenjak saat itulah menentang kebijakan darurat berupa jam malam pada kota.

Mereka lantas bergabung pada aksi protes, yang terkadang berganti menjadi aksi kekerasan.

Dalam pernyataannya, Kepolisian Kenosha memberikan keterangan resmi menanggapi “beberapa laporan terjadinya aksi penembakan & adanya beberapa korban akibat tembakan” di kota itu sekitar pukul 23: 45 waktu setempat hari Selasa (25/08).

“Penembakan itu mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan korban tembakan ketiga dilarikan ke panti sakit dengan luka serius, namun tidak mengancam jiwanya, ” begitu isi pernyataan itu.

Ditambahkan bahwa jati para korban masih dicari kepastiannya, namun tidak diberikan rincian bertambah lanjut. Sejauh ini penyelidikan tengah dilangsungkan.

Rekaman video yang beredar dalam media sosial memperlihatkan seorang pria bersenapan dikejar oleh kerumunan massa sebelum dia terjatuh ke jalan.

Adam itu kemudian terlihat melepaskan tembakan beberapa kali ke arah kawula.

Video lain memperlihatkan sekelompok orang warga sipil membawa senjata, yang beberapa besar berseragam militer, berkumpul dalam luar pusat bisnis yang disebutkan akan mereka lindungi.

Rekaman video juga menunjukkan orang-orang berlarian di jalan-jalan ketika terdengar suara tembakan, serta sejumlah orang yang terluka tergelintang di jalan.

Gubernur Wisconsin Tony Evers mengatakan pada Selasa (24/08) kalau dia sedang mengirim lebih banyak pasukan Garda Nasional menuju kota tersebut di tengah kerusuhan.

Bagaimana laku protes itu terjadi?

Beberapa jam setelah penembakan Jacob Blake pada hari Minggu, ratusan orang berunjuk rasa di markas polisi Kenosha.

Sejumlah kendaraan roda empat kemudian dibakar, dan kepolisian meminta supaya berbagai pusat bisnis yang sibak 24 jam untuk menghentikan aktivitasnya, karena “banyak” laporan adanya perampokan bersenjata dan bunyi tembakan.

Pada Senin (24/08), Gubernur Evers menelepon pasukan Garda Nasional untuk membantu polisi setempat dan memberlakukan jam malam dalam Kenosha.

Aparat polisi, yang didukung pasukan Garda Nasional, menggunakan udara air mata, peluru karet dan bom asap, ungkap para pengunjuk rasa.

Sejumlah demonstran terlihat menggempur mobil-mobil dan bangunan dengan pemukul bisbol, demikian laporan kantor informasi Reuters.

Pada Selasa, ratusan orang pengunjuk rasa melakukan demonstrasi di bermacam-macam sudut kota. Sekelompok kecil pengikut melemparkan kembang api dan botol air ke arah polisi, yang membalas dengan memuntahkan peluru karet dan gas air mata.

Dalam sebuah pesan yang diunggah di Twitter, polisi mendesak agar warga pada Kenosha untuk “menjauhi jalanan”.

Sejumlah bangunan dan mobil mengalami kerusakan setelah laku protes terhadap aksi penembakan pada kota berpenduduk sekitar 100. 000 di kawasan barat daya Kolam Michigan.

Pada Selasa, Gubernur Tony Evers mengatakan dia akan mengirim bertambah banyak pasukan Garda Nasional ke Kenosha untuk melindungi gedung-gedung pemerintah dan mendukung tim kesehatan dan petugas pemadam kebakaran.

Keadaan kritis juga telah diumumkan di Wisconsin.

Aktivitas protes juga menyebar ke sejumlah kota lainnya, termasuk Portland, Oregon dan Minneapolis, di negara periode Minnesota.

Apa perkembangan baru kasus Jacob Blake?

Pengacara Ben Crump mengatakan pada konferensi pers pada Selasa bahwa tim dokter mengatakan Blake mengalami kelumpuhan akibat penembakan itu.

“Keluarganya percaya pada keajaiban, tetapi diagnosa medis saat ini adalah bahwa dia lumpuh dan, karena pelor itu memutuskan sumsum tulang belakangnya dan menghancurkan beberapa tulang punggungnya, akan membutuhkan keajaiban bagi Jacob Blake Jr untuk bisa berjalan lagi, ” katanya.

Pria berusia 29 tahun, yang ditembak ketika anaknya duduk bersamanya di dalam mobil, pula mengalami lubang di perutnya, cedera lengan dan kerusakan pada ginjal dan hatinya.

Sebagian besar usus besar dan usus kecilnya kudu diangkat, kata pengacaranya kepada wartawan.

Ibunya, Julia Jackson mengatakan pada konferensi pers bahwa putranya telah “berjuang demi hidupnya”, tetapi mengatakan kalau dia “tahu apa yang terjadi sejauh ini, yaitu kekerasan serta kehancuran, dia akan sangat tak senang”.

Penembakan Blake terjadi ketika GANDAR bergumul dengan perlakuan terhadap klub Afrika-Amerika di tangan penegak adat, serta pertanyaan yang lebih besar tentang rasisme di masyarakat.

Masalah tersebut mengemuka semenjak kematian seorang adam kulit hitam lainnya, George Floyd, dalam tahanan polisi di Minneapolis, Mei lalu.

Dalam pidatonya, Julia Jackson berbicara secara langsung tentang rasisme dan menyerukan apa yang disebutnya sebagai “upaya penyembuhan”.

“Apa kau mengerti apa yang akan terjadi bila kita jatuh – karena vila yang berseberangan tidak bisa jadi. ”

Apa yang kita ketahui mengenai penembakan itu?

Polisi mengatakan mereka merespons sebuah “insiden domestik” masa mereka menuju ke lokasi penembakan hari Minggu, tetapi hanya memberikan sedikit rincian lainnya.

Sejauh tersebut tidak jelas siapa yang menelepon polisi, berapa aparat polisi yang terlibat, serta apa yang berlaku sebelum penembakan.

Rekaman video menunjukkan Blake membuka pintu dan bersandar ke dalam mobil, di mana seorang petugas menarik bajunya dan lalu melepaskan tembakan.

Tujuh tembakan merebak dari rekaman video tersebut, masa sejumlah saksi berteriak histeris.

Tunangan Blake, Laquisha Booker, mengatakan anak-anak – yang menyaksikan semuanya saat mereka duduk di belakang mobil – berteriak saat ayah mereka ditembak.

Pengacara Blake mengatakan dia mencoba untuk “tidak begitu mengindahkan insiden domestik”. Bukti mata mengatakan hal yang serupa kepada sejumlah media lokal.

Catatan meja hijau menunjukkan ada surat perintah interpretasi terhadap Blake atas pelecehan erotis dan tuduhan pelecehan dalam sendi tangga.

Namun demikian, kepolisian belum mengatakan apakah petugas mengetahui hal itu ketika mereka menanggapi panggilan itu pada hari Minggu.

Departemen Kehakiman Wisconsin sedang menyelidiki insiden di Kenosha, sementara para petugas yang terlibat telah diberi cuti administratif.

Sebuah petisi yang meminta mereka buat didakwa telah berhaisl mengumpulkan puluhan ribu tanda tangan.

Ayah Blake mengatakan dia tidak percaya pada pengkajian tersebut.

“Siapapun yang berkulit putih, yang melakukan penyelidikan tentang seorang pemuda kulit hitam yang ditembak tujuh kali di punggungnya, dan belum memberikan jawaban atau komentar di saat ini, tidak dapat diterima, ” katanya kepada wartawan.