KRI Nanggala 402: Dari patungan di masjid beli pesawat selam baru hingga tuntutan revolusi anggaran alutsista MENODAI naik ‘tujuh kali lipat’

4 jam yang semrawut

Sumber gambar, Jarang Foto/Budi Candra Setya

Tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 menjelma “pukulan keras” untuk lekas dilakukannya revolusi kebijakan pembaruan alat utama sistem persenjataan (alutsista), khususnya TNI Pasukan Laut – mengingat Nusantara adalah negara maritim.

Pengamat militer dari Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie mengatakan, revolusi perlu dikerjakan dengan cara meningkatkan secara tajam anggaran dan juga melalui kebijakan geopolitik pertahanan dengan memanfaatkan posisi penting Indonesia di kawasan.

“Harus dilakukan revolutionary on budget affair dengan threat atau capability base , bukan budget base seperti sekarang sebab tidak akan terkejar. Berserakan dengan memanfaatkan kekuatan geopolitik Indonesia seperti yang dilakukan Bung Karno, miiter Indonesia terkuat di bumi bagian selatan, ” kata Connie saat dihubungi wartawan BBC News Indonesia Raja Eben Lumbanrau, Rabu (28/04).

Gaya militer Indonesia termasuk Angkatan Lautnya – yang sempat menjadi terbaik di kala Presiden Sukarno – kini tertatih-tatih untuk menjaga bahar seluas 5, 8 juta kilometer persegi atau 71% dari keseluruhan wilayah Indonesia, tambah Connie.

Musibah ini juga membangkitkan gerakan kepedulian masyarakat berantakan seperti yang dilakukan anak-anak muda dari Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, yang menggalang pemberian untuk membeli kapal selam. Hasilnya, dalam dua keadaan terkumpul hampir Rp800 juta.

“Seyogyanya TNI AL diperkuat dengan armada pesawat yang lebih banyak terutama kapal selam, ” sekapur Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, Muhammad Jazir.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Julius Widjojono mengapresiasi afeksi yang ditunjukkan masyarakat yang melintasi agama, sektoral mematok negara atas duka KRI Nanggala 402.

Terkait secara perlu dilakukannya penambahan perkiraan dan peningkatan alutsista TNI AL, Julius menambahkan bahwa TNI AL menyerahkan keputusan tersebut kepada Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI.

“Kami sudah ajukan keinginan mengacu pada grand desain AL. Keputusan ada dalam pihak atas, mau diberikan apa, seperti apa, awak siap melaksanakannya, ” prawacana Julius.

Sebelumnya, Gajah Pertahanan Prabowo Subianto mengaku, belum dilakukannya modernisasi alutsista dengan cepat dikarenakan “keterpaksaan dan karena mengutamakan pembangunan kesejahteraan”.

Seperti pada tahun 2020, dari sekitar Rp117 triliun anggaran pertahanan, hampir 50% nya atau sejumlah Rp53 trilun digunakan untuk belanja pegawai, dan kira-kira Rp30 triliun untuk belanja barang serta Rp34 triliun untuk belanja modal.

‘Gerakan membeli kapal selam’

Sumber gambar, Antara Foto/Aloysius Jarot Nugroho

Sekumpulan bani muda di Masjid Jogokariyan Yogyakarta yang merasa berkabung dengan musibah Kapal Menghunjam KRI Nanggala 402 berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk santunan dan mengganti kapal selam tersebut.

“Mereka pikir beli kapal seolah-olah beli mobil, tapi ini niat dan imajinasi dengan baik, kami dukung. Morat-marit sorenya, anak-anak bergerak mengumpulkan donasi di pasar sore Ramadhan Kampung Jogokariyan, ” cerita Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, Muhammad Jazir.

Hasilnya, terkumpul Rp15 juta untuk santunan & Rp6, 5 juta buat membeli kapal. Beberapa saat kemudian, muncul antusias lantaran masyarakat agar dibuat rekening donasi.

“Hasilnya, ternyata respon sangat luar pokok. Hari kedua rekening dibuka sudah hampir Rp800 juta, ” tambah Jazir.

Melalui donasi ini pula, Jazir berharap agar gaya alutsista pertahanan dapat diperkuat terutama untuk TNI AL yang memiliki tantangan perintah berat.

“Laut itu sulit sekali diawasi sehingga perlu banyak kapal menghunjam untuk negara maritim dengan sangat luas ini, tengah armada AL kita cuma sedikit. Seyogyanya TNI AL diperkuat dengan armada pesawat yang lebih banyak pertama kapal selam, ” cakap Jazir.

‘Pukulan keras’

Sumber gambar, Antara Foto/Teguh prihatna

Senada dengan itu, menurut pengamat militer dari Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie perlu dikerjakan revolusi anggaran pertahanan dengan menggunakan basis kemampuan maupun basis ancaman – tidak seperti sekarang yang memakai basis anggaran.

“Hitungan dalam disertasi saya itu tujuh persen dari PDB (produk domestik bruto), bermakna tujuh kali lipat sejak hari ini sebesar Rp137 triliun. Jadi dilakukan revolusi modernisasi besar-besaran mengejar ketertinggalan. Lalu tahun berikutnya turun bertahap, karena tinggal pelestarian, ” kata Connie.

Musibah KRI Nanggala ialah “pukulan keras” untuk lekas dilakukan revolusi anggaran pertahanan. Jika tidak dilakukan dan masih menggunakan basis taksiran, maka musibah-musibah di masa mendatang sulit terelakan.

“Kalau masih menggunakan budget base , jangan kaget kalau besok-besok ada musibah lagi, ditambah lagi dari anggaran dengan ada 70%-nya buat anggaran rutin, jadi untuk pembaruan dan peremajaan itu cuma 30%, ” kata Connie.

Connie mencontohkan, Indonesia harusnya memiliki setidaknya 12 pesawat selam, namun kenyataanya cuma ada 5 unit serta satu telah tenggelam. Sementara itu, Indonesia juga memilik 282 kapal perang dengan terdiri dari 7 fregat, 24 jenis korvet, 5 unit kapal selam, 156 kapal patroli dan 10 kapal penyapu ranjau.

Tatkala di sisi lain, merata perairan Indonesia lebih dari 5, 8 juta kilometer persegi sementara daratan hanya 2 juta kilometer persegi yang tersebar di 17. 499 pulau.

Di tahun 2020, anggaran untuk TNI AD juga paling luhur yaitu Rp55, 92 miliar, lalu diikuti TNI AL Rp22, 08 miliar serta TNI AU Rp15, 50 miliar.

Sementara untuk kalender modernisasi alutsista pada tarikh 2020, Kementerian Pertahanan menjatah anggaran sebesar Rp10, 86 triliun, yang terdiri daripada Rp4, 59 triliun untuk matra darat, Rp4, 16 triliun untuk matra bahar dan Rp2, 11 triliun untuk matra udara.

Kecelakaan-kecelakaan alutsista TNI

Sumber tulisan, ANTARA FOTO

Sebelum tenggelamnya KRI Nanggala 402, pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo setidaknya telah terjadi belasan kali kecelakaan alutsista TNI dengan banyak korban jiwa.

Di antaranya adalah jatuhnya Pesawat Hercules C-130 TNI AU pada Medan pada 30 Juni 2015 yang menyebabkan 122 orang meninggal, kemudian jatuhnya pesawat tempur Hawk Mk-209 di Riau 15 Juni 2020.

Lalu, kaum helikopter milik TNI AD jatuh di Papua, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Tengah yang menyebabkan belasan orang meninggal dunia.

Kemudian di TNI AL, beberapa kapal mengalami kesialan.

Memainkan peran geopolitik

Sumber gambar, Antara Foto/Maulana Surya

Setelah melakukan revolusi perkiraan, cara selanjutnya adalah secara cara memanfaatkan posisi geopolitik Indonesia yang memiliki kedudukan penting di kawasan semrawut berada diantara dua samudera dan dua benua berantakan seperti yang dilakukan presiden pertama RI, Sukarno.

“Bayangkan, setelah lima tahun merdeka, di era Bung Karno kita terkuat pada bumi bagian selatan. Apakah kita ada uang? Tidak saat itu, tapi seluruh takut. Jangankan Australia, Amerika saja takut, ” kata pendahuluan Connie

Saat tersebut, Indonesia memiliki 12 pesawat selam jenis Whiskey, puluhan kapal tempur, ratusan pesawat tempur dan alutsista lainnya.

“Kuncinya di mana? Daya memainkan geopolitik, posisi penting Indonesia menjadi nilai di saat itu Perang Lega. Sekarang di tengah penentangan China, fokus Barat ke Asia Pasifik, seharusnya letak tawar kita sangat gede untuk meningkatkan alutsista, ” kata Connie.

Catatan kepedulian masyarakat

Sumber gambar, AMPELSA

TNI Angkatan Bahar sementara itu mengapresiasi afeksi yang ditunjukan masyarakat laksana dilakukan anak muda Langgar Jogokariyan dan pihak lain.

“Kami sangat surprise dengan empati yang diberikan bermacam-macam lapisan masyarakat, lintas pegangan, lintas sektoral bahkan lintas negara, dari beberapa ikatan pelaut luar negeri serupa mau menyumbangkan.

“Jadi jika mau menyumbangkan itu, tidak mungkin TNI AL hendak menerima karena menyalahi UU, yang kami garis bawahi empati ini sangat sungguh biasa dan sangat berterima kasih, ” kata Kadispenal Laksamana Pertama Julius Widjojono.

Sementara itu, terkait dengan perlu dilakukannya penambahan taksiran dan peningkatan alutsista TNI AL, Julius menambahkan bahwa TNI AL menyerahkan keputusan tersebut kepada Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI.

“Kami sudah ajukan kebutuhan mengacu pada grand desain AL, keputusan ada di pihak atas, mau dikasih apa, seperti apa, ana siap melaksanakannya, ” logat Julius.

Sebelumnya, Gajah Pertahanan Prabowo Subianto mengaku, belum dilakukannya modernisasi alutsista dengan cepat dikarenakan pengadannya “cukup mahal” dan “keterpaksaan dan karena mengutamakan pembangunan kesejahteraan”.

Kementeriannya, kata Prabowo, sudah menyusun rencana induk 25 tahun untuk mengatur urusan pertahanan.

“Tapi intinya memang, kita akan investasi lebih besar tanpa memengaruhi usaha pembangunan kesejahteraan. Kita sedang merumuskan pengelolaan pengadaan alutsista untuk lebih aturan, lebih efisien, ” sekapur Prabowo.

Seperti pada tarikh 2020, dari sekitar Rp117 triliun anggaran pertahanan, hampir 50% nya atau sejumlah Rp53 trilun digunakan untuk belanja pegawai, dan sisanya sekitar Rp30 triliun buat belanja barang serta Rp34 triliun untuk belanja pangkal.