Kudeta Myanmar membuat layanan kesehatan tubuh nyaris kolaps: ‘Saya tak akan kembali bekerja’

kudeta-myanmar-membuat-layanan-kesehatan-nyaris-kolaps-saya-tidak-akan-kembali-bekerja-8
  • Nick Marsh
  • BBC News

3 jam dengan lalu

Sumber gambar, Getty Images

Para tenaga kesehatan Myanmar kini berada pada kondisi dilematis, antara kewajiban merawat pasien dan bekerja untuk pemerintahan junta militer yang melakukan aksi brutal kepada rakyatnya sendiri.

Moe* berusia 53 tahun dan kini mengidap kanker payudara stadium tiga.

Dia menjalani perawatan terapi penyinaran setiap tiga pekan sekadar di Rumah Sakit Umum Mandalay milik pemerintah di Myanmar utara.

Namun, ketika militer melengserkan tadbir sipil Myanmar yang terbatas melalui pemilu demokratis di dalam 1 Februari, rumah sakit tersebut mendadak tutup.

Para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan tubuh lain melangkah ke sungguh dari fasilitas itu sebagai aksi protes. Sampai zaman ini mereka belum balik ke rumah sakit itu.

Akibatnya, perawatan Moe terkatung-katung. Dia tidak mampu menutup biaya sekitar US$700 (Rp10, 1 juta) untuk mengakhiri terapi penyinaran di vila sakit swasta.

Tanpa perawatan itu, dia meyakini umurnya tersisa satu tahun teristimewa.

Walau demikian, Moe tak menyalahkan para dokter. “Ini salah militer, ” katanya kepada BBC.

“Kalaupun aku meninggal akibat kanker, saya menerimanya. Rakyat Myanmar mempunyai mendapatkan demokrasi. ”

‘Nyaris kolaps’

Sistem layanan kesehatan adalah salah satu zona paling terdampak parah pascakudeta pada 1 Februari. Saat itu militer mengambil mendaulat kekuasaan yang kemudian ditanggapi sebagian rakyat dengan menerapkan rangkaian demonstrasi.

Para peserta aksi-aksi tersebut beragam, termasuk ribuan dokter. Mereka serta sejumlah pegawai negeri sipil turut ambil bagian pada gerakan pembangkangan sipil, yakni mogok bekerja di bawah junta militer.

Mayoritas dari 54 juta warga Myanmar bergantung pada bentuk layanan kesehatan umum Myanmar yang mencakup sekitar 80% dari semua rumah lara dan klinik di negara itu melalui sistem sumbangan.

Sehingga ketika ribuan dokter ambil bagian dalam mogok nasional di pusat pandemi global, sistem itu tiba-tiba lenyap.

“Situasinya samar-samar, ” kata Dr Mitchell Sangma, yang berada dalam lapangan untuk organisasi Tabib Lintas Perbatasan (MSF) pada Kota Yangon.

“Sistem kesehatan umum nyaris kolaps, ” tambahnya.

Akan tetapi, para dokter merasa hanya punya sedikit pilihan.

Sumber tulisan, Getty Images

“Selama junta militer memegang kekuasaan, kami tidak akan kembali berjalan, ” cetus Kyi Kyi, seorang dokter di Mandalay yang telah mogok kerja selama hampir tiga kamar.

“Saya tidak ingin mengiakan kewenangan mereka dalam wujud apapun, ” lanjutnya.

Semasa hampir tiga pekan prima setelah kudeta, Kyi Kyi menawarkan pemeriksaan gratis pada rumah sakit swasta.

Tetapi, dia segera menyadari bahwa tindakannya terlalu berbahaya. “Kami mulai menyaksikan tentara ditempatkan di sekitar rumah rendah, menunggu kedatangan kami. ”

Tenaga kesehatan diincar

Sebanyak laporan menyebutkan militer mengincar para tenaga kesehatan yang mogok dengan menggerebek fasilitas medis gratis. Mereka menangkap, menahan, dan dalam beberapa kasus, memukuli para gaya kesehatan.

“Kami harus sangat hati-hati, ” ujar Kyi Kyi.

“Setelah kudeta, kami semua dipaksa melupakan akomodasi milik pemerintah dekat rumah sakit. Jadi sekarang saya tinggal bersama kurang kawan di tempat lain di kota. Kami benar takut, ” imbuhnya.

Beberapa layanan kesehatan umum dengan masih buka telah dipelihara oleh tentara.

Militer mencari jalan membujuk para dokter untuk kembali bertugas. Baru-baru ini militer bahkan meminta penguasa senior rumah sakit-rumah melempem besar untuk turun tangan.

Namun, sejauh tersebut upaya tersebut kurang jadi.

Dr Mitchell Sangma mengucapkan ada upaya menggelar layanan mendasar di dalam bangsal yang kekurangan staf dan di lahan parkir sendi sakit.

Namun, kurang pengamat memandang bahwa penuh warga terlalu takut mengakses layanan dasar ini sebab risau dengan keberadaan tentara atau takut ada lagak balasan dari sesama awak karena mereka berinteraksi dengan militer.

Situasi ini membuahkan beberapa rumah sakit swasta—yang banyak terdapat di kota-kota besar—benar-benar kewalahan. Awalnya sebanyak RS itu mencoba menanggung biaya untuk para anak obat, tapi langkah ini sudah berhenti.

“Hal ini memproduksi sebagian besar masyarakat tidak punya akses ke servis vital yang kadang menyelamatkan nyawa, ” kata Joy Singhal, ketua delegasi Myanmar untuk Federasi Palang Abang Internasional dan Bulan Sabit Merah.

‘Sistem yang rusak’

Kudeta yang berlaku di tengah pandemi malah memperparah keadaan.

Dr Singhal mengatakan sistem layanan kesehatan Myanmar memulai jadwal vaksinasi pada Januari morat-marit. Namun, orang-orang yang berperan dalam rencana itu kini “tidak lagi di sini”.

“Kami menghadapi krisis dengan bakal terjadi di pusat Covid, ” kata Dr Singhal.

“Perkumpulan massa, tidak testing, dan kurangnya akses ke perawatan, semuanya membuat risiko besar bagi kesehatan masyarakat, ” tambahnya.

Sumber gambar, Getty Images

Petunjuk statistik resmi Kementerian Kesehatan dan Olahraga yang kini dikendalikan junta militer menjadi tidak dapat diandalkan. Namun, sekilas, laporan rata-rata penularan menunjukkan sistem pengujian telah rusak.

Pada Januari, sebulan sebelum kudeta terjadi, Myanmar mencatat 15. 515 kasus Covid-19.

Pada bulan Maret, atau sebulan setelah kudeta, Myanmar hanya mencatat 538 kasus—penurunan 97%.

Patuh para pakar, tanpa pertimbangan secara epidemiologi, kemungkinan Covid-19 di Myanmar telah menyebar luas dan punya hasil mematikan.

‘Mengerikan’

Kudeta juga berdampak pada penyebaran aib lainnya. Berdasarkan keterangan sebesar dokter, jumlah pengidap aib mematikan, seperti HIV & tuberkolosis, telah menurun dengan perlahan selama 20 tahun terakhir.

Akan tetapi, keadaan ini bisa berubah 180 bagian.

HIV, misalnya, merupakan genting yang berkembang di Myanmar pada 1990-an. Tapi jumlah penularan dan kematian terpaut Aids merosot, sebagian sebab program pemerintah yang disokong bantuan internasional.

Program itu malah dibekukan pascakudeta, logat Pavlo Kolovos, mantan kepala MSF di Myanmar.

“Ini mengerikan. Benar-benar tragis tahu kemajuan yang dibuat Myanmar di bidang kesehatan umum menghilang secara cepat laksana ini, ” kata Kolovos.

Ditambahkannya, pendonor besar global enggan berurusan dengan Departemen Kesehatan dan Olahraga jadi mereka menarik bantuan pemberian dari program-program kunci dengan menyediakan jaring pengaman untuk jutaan pasien.

Sumber gambar, Getty Images

Pertanyaan untuk mereka di dalam maupun di luar Myanmar adalah berapa lama negara itu bisa terus-terusan dalam suasana seperti ini.

“Kami berlaku ke pinggir jurang serta kami tidak tahu bagaimana mengatasinya, ” kata Dr Singhal.

“Layanan kesehatan berpegang adalah tulang punggung masyarakat di manapun. Dan masa ini layanan itu terjelabak. ”

Kyi Kyi belum digaji sejak Januari tetapi dia mengaku punya pas tabungan dan sokongan daripada pengampu untuk bertahan hidup sementara.

Namun dia cakap bahwa sesungguhnya pasien yang membayar harga dari masa ini.

“Semakin banyak awak memikirkan pasien-pasien, semakin ana menderita. Namun, walaupun kami menderita, kami tidak mau tinggal diam, ” tegasnya.

“Kami yakin negara ana adalah hal paling penting saat ini. Jika kami tidak peduli, kami tahu kami akan menderita buat 20 tahun atau 30 tahun mendatang. ”

* Nama-nama telah diubah