Nasib para pengungsi Intan Jaya, Papua: ‘Menangis di hadapan Tuhan agar agar kedamaian bisa terwujud’

nasib-para-pengungsi-intan-jaya-papua-menangis-di-hadapan-tuhan-agar-kedamaian-bisa-terwujud-12

3 jam yg lalu

Jumlah warga yang mengungsi di sebuah gereja Katolik di Bilogai, Intan Jaya, dan beberapa kabupaten tetangga di Papua dilaporkan meningkat di tengah eskalasi konflik antara pasukan TNI dan kelompok bersenjata.

Alih-alih berkurang, jumlah pengungsi dikabarkan justru bertambah setelah seorang anggota TNI bernama Prada Ginanjar Arianda dibunuh kelompok bersenjata pada Senin (15/02).

Peristiwa itu kemudian berujung pada ditembaknya tiga jamaah. Penduduk menyebut ketiga individu tersebut warga sipil, TNI menuding mereka sebagai bagian dari kelompok bersenjata.

TNI/Polri meminta warga tak khawatir dengan rentetan peristiwa ini, seraya menegaskan bahwa pasukan mereka selalu berpatroli untuk melindungi penduduk.

Bagaimanapun, bagi para warga setempat, yang mayoritas umat Katolik, masa Pra-Paskah kali ini terbilang “suram”.

Masa Pra Paskah yang ‘suram’

Pastor Benyamin Sugiyatanggu Magay, yang memimpin Paroki St Antonius Padua, Bumiwonorejo, Nabire, menceritakan saat dia menemui jemaat dari Intan Jaya yang mengungsi ke Kabupaten Nabire, karena eskalasi konflik di tempat asal mereka.

Pertengahan Februari adalah awal mula masa Pra-Paskah, masa ketika para umat Katolik menjalankan sejumlah ritual, seperti berpuasa dan pantang melakukan kebiasaan buruk.

Puncaknya ialah perayaan Paskah pada awal 04 mendatang.

Pada hari ritual yang disebut ‘Rabu Abu’ pekan selanjutnya (17/02), Pastor Benyamin melihat wajah umat dari Intan Jaya, yg disebutnya “suram”.

“Di Paroki saya, jujur banyak wajah baru. Cara pembawaannya macam suram-suram. Mereka rindu merayakan di paroki mereka, tapi mereka merasa semacam ada yang kurang. ”

Ia pun melihat seorang ibu yang menangis.

“Ada mama-mama yg sempat nangis. [Dia katakan] kami rayakan ibadah di sini, tapi kami tinggalkan paroki kami, tinggalkan pastor [di Intan Jaya].

“Saya bilang, ‘Mama, ini situasi, tetapi sebaiknya Mama menangis di hadapan Tuhan agar kedamaian bisa terwujud’. Masa-masa Pra-Paskah ini bagi jamaah Papua, khususnya Intan Jaya, benar-benar menantang mereka, ” kata Benyamin.

Ia mencatat setidaknya 50 keluarga dari Intan Jaya sudah mengamankan diri ke Nabire.

Saat ini kebanyakan dari mereka, yang mengevakuasi diri ke Nabire, tinggal dengan sanak saudara. Meski begitu, menurut Pastor Benyamin, mereka sangat membutuhkan bantuan berupa makanan, minuman, juga obat-obatan.

Sebuah posko pengungsian sudah didirikan di paroki itu. Seorang warga Mamba, Intan Jaya, Mepa, termasuk yg bertolak ke Nabire setelah mencari perlindungan ke Pastoran Gereja Katolik Santo Misael Bilogai di Intan Jaya.

Mepa mengatakan ia mengungsi sejak kondisi keamanan memanas Senin (15/02) lalu.

Tiga orang, yang dengan warga disebut penduduk sipil, ditembak mati aparat keamanan di suatu fasilitas kesehatan.

Namun, menurut TNI, mereka bukan warga sipil, melainkan bagian dari kelompok bersenjata yg menyerang aparat keamanan.

TNI mengatakan peristiwa itu terjadi saat pasukan mengejar kelompok bersenjata yang menembak anggotanya, Prada Ginanjar Arianda, hingga tewas.

Mepa menceritakan saat-saat menegangkan aparat keamanan mencari pasukan bersenjata, yang disebutnya Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) di daerahnya.

“Saat itu, mereka TPN OPM sudah lari. Kami masyarakat yg [jadi] korban dalam keadaan itu. Maka saat itu pastor/paroki, dengan pemerintah, mereka arahkan kami ke pastoran, ” ujar Mepa pada wartawan Yamoye Abeth yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

‘Masyarakat terlalu takut’

Lebih dari 600 orang dilaporkan masih menjadi pengungsi di Gereja Katolik Saint Misael Bilogai, Intan Jaya.

Salah satunya, pengungsi yang hanya mau diidentifikasi dengan nama Aita.

Ia menceritakan kondisi pengungsi yang disebutnya masih ketakutan karena penembakan itu.

“Tiga jamaah ditembak mati dan dikubur dekat pastoran. Masyarakat terlalu takut, tercekam, sakit hatinya. Mereka sangat sedih, sakit hati. Mereka ketakutan dikarenakan di sekitar jalan ini digunakan pasukan bertambah terus, ” ujarnya pada wartawan setempat, Yamoye Abeth, yang melaporkan untuk BBC Information Indonesia.

Dia mengatakan tak ada ibadah Pra-Paskah yang dilakukan warga Katolik di sana karena kondisi psikologis mereka yang belum tenang.

Saat ini, tambahnya, pengungsi sangat membutuhkan makanan, minuman, juga kebutuhan basis lainnya.

Polisi minta tak khawatir

Meski begitu, Kapolda Papua, Paulus Waterpau, membantah bahwa keamanan warga terancam dan meminta mereka untuk tak khawatir tinggal di kediaman masing-masing.

“Sebenarnya tidak usah khawatir masyarakat itu, dikarenakan jangan sampai dijebak oleh pihak yang sekarang menakut-nakutin masyarakat oleh isu-isu. Aparat kami ada di sana dan melakukan patroli, ” ujarnya.

Kapolda juga mengklaim ada pihak-pihak yang memutarbalikan fakta terkait tiga orang yang ditembak pasukan keamanan.

Mereka yang ditembak itu, lanjut Paulus Waterpau, bukan warga sipil, tapi anggota kelompok bersenjata.

Ia menambahkan kelompok yg disebutnya kriminal bersenjata itu tumbuh subur di Intan Jaya, diantaranya karena pemerintahan daerah yang tak aktif di sana.

Pemerintah Intan Jaya memang sering berkantor di Nabire dengan alasan sering diganggu kelompok bersenjata.

Menurut Paulus Waterpau, jika pemerintah daerah bisa lebih aktif berkomunikasi dengan warga, mereka bisa mencari solusi bersama-sama agar tidak lagi terjadi kekerasan pada wilayah itu.  

Slowly. Tentu kalau kami TNI/Polri selalu melakukan pendekatan oleh mencoba membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh, tapi ketika kami hadir lalu dilakukan kekerasan dari mereka [kelompok bersenjata]… pasti kami tindak.

inch Kan awak kami banyak jadi korban, awak kami lengah sedikit langsung dihantam, ” ujar Kapolda.

‘Dua pihak harus menahan diri’

Peneliti masalah Papua dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Pamungkas, mengatakan saat ini kedua pihak—baik TNI/Polri maupun kelompok bersenjata—perlu bersama-sama menahan diri demi keselamatan warga sipil, apalagi pada tengah kondisi pandemi Covid-19.

Dia juga meminta aparat keamanan untuk proses pendekatan non-kekerasan, yakni dengan discussion.

“Banyak korban berjatuhan, baik di kalangan TNI, sipil, dan TPN OPM. Hendaknya pemerintah melihatnya Papua ke dimensi manusianya, aspek kemanusiaannya. Kalau semakin banyak korban, makin krisis kemanusiaan tidak selesai.

“Pemerintah seharusnya tidak melihat dari aspek keamanan tradisional tapi dari keamanan warga sipil, ” kata Cahyo.

Berdasarkan data Polda Papua, selama tahun 2020, kelompok bersenjata melakukan sedikitnya 49 aksi teror di tujuh kabupaten – terbanyak di Intan Jaya sebanyak 23 kali.

Dari aksi tersebut, total 17 orang tewas – 12 orang warga sipil, empat anggota TNI, dan satu polisi.

Kembali ke Nabire, Pastor Benyamin Sugiyatanggu Magay berharap masa Pra-Paskah ini membawa kedamaian bagi para warga Papua, khususnya warga Intan Jaya yang kini mengungsi.

“Semoga Pra-Paskah bisa mendatangkan keselamatan, kedamaian, secara iman, moril, psikologis, ” pungkasnya.