Pemerintah klaim abu batu bara bukan limbah B3 sudah berdasarkan ‘kajian ilmiah’, warga terdampak abu PLTU: ‘debu bukan seperti cabe begitu dimakan langsung pedas’

pemerintah-klaim-abu-batu-bara-bukan-limbah-b3-sudah-berdasarkan-kajian-ilmiah-warga-terdampak-abu-pltu-debu-bukan-seperti-cabe-begitu-dimakan-langsung-pedas-10
  • Raja Eben Lumbanrau
  • Wartawan BBC News Indonesia

12 Maret 2021, ’07: 24 WIB

Diperbarui sejam yg lalu

Kementerian Lingkungan Hidup serta Kehutanan (KLHK) mengklaim hasil pembakaran batu bara (FABA) masuk sebagai kategori bukan limbah B3 sudah berdasarkan kajian ilmiah.

“Kami sebagai sebagai instansi teknis pasti punya alasan, saintifiknya. Jadi, semua berdasarkan technological based knowlege, ” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PLSB3), Rosa Vivien Ratnawati, di dalam keterangan kepada media, Jumat (12/03).

Rosa mengatakan, pembakaran batu bara pada PLTU sudah menggunakan pulverize coal . Artinya, kata dia, pembakaran batu bara menggunakan temperatur tinggi sehingga karbon yang tak terbakar dalam FABA “menjadi minimum dan lebih stabil”.

“Hal ini yang mengakibatkan, FABA itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, substitusi semen, jalan, tambang bawah tanah, serta restorasi tambang, ” kata Rosa dalam keterangan kepada media, Jumat (12/03).

Rosa menambahkan FABA yang masuk kategori non limbah B3 hanya dari PLTU saja. Sementara swasta yang sudah menggunakan fasilitas pulverize coal, FABA dari pabrik mereka diharuskan tetap “harus memakai regular, bagaimana pengangkutan, itu diharuskan tetap mereka lakukan dengan baik. ”

Sementara itu, bagi industri swasta yg masih menggunakan metode pembakaran batu bara tungku, hasil pembakaran batu bara mereka masih dikategorikan limbah B3.

“Pembakaran dilakukan pada temperatur rendah, dan sehingga unburned carbon di FABA-nya masih tinggi. Mengindikasikan pembakaran masih kurang sempurna dan relatif tidak stabil saat disimpan, sehingga masih dikategorikan limbah B3, ” lanjut Rosa.

Sementara itu, Edy, warga Cilegon, Banten, yang rumahnya dekat dengan PLTU Suralaya mengaku, setelah ada pabrik warga mengalami persoalan kesehatan.

“Debu fly ash itu bukan seperti makan cabe, begitu dimakan langsung pedas. Tetap debu travel ash kalau terhisap dengan manusia itu prosesnya satu tahun sampai dua tahun, ” kata Edy di dalam sebuah acara Zoom, Jumat (12/03).

Di sana, pada 2019 terjadi hujan debu hasil dari pembakaran batu bara PLTU Suralaya yg sempat mengganggu aktivitas warga. “Setelah hujan debu, di jalan itu sudah ditutup sama debu. Orang-orang yg berkendara sempat berhenti. Bahkan orang-orang kendaraan roda dua, nggak bisa, ” lanjut Edy.

Edy juga mengatakan kehidupan keluarga dan penduduk di sana lebih baik sebelum ada PLTU. “Makanan dulu sebelum ada industri terjamin benar, berani. Akhir-akhir ini petani kesulitan. Jadi seandainya berbicara, menguntungkan sumber kehidupan yang berdampak. itu sesuatu yang bohong, ” katanya.

Sebelumnya, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) melontarkan kritik atas keputusan pemerintah terkait FABA tersebut.

“Jadi dari Jatam kami usul Pak Presiden serta juga yang di Istana, coba berkantor di dekat PLTU batu bara, coba hirup abu batu bara apakah itu limbah B3 atau bukan. Lalu, lihat juga masyarakat sekitarnya mengalami sesak nafas, dan paru-parunya ada yang bolong dikarenakan abu ini. ”

Demikian yang disampaikan Jatam saat merespons keputusan Presiden Joko Widodo yang mengeluarkan limbah abu terbang dan abu dasar hasil pembakaran batu bara, yang disebut FABA ( fly lung burning ash and bottom ash ) dari kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), seperti yang terlampir dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan disahkan awal Februari 2021.

Ini termasuk Peraturan Turunan dari Undang-undang Omnibus Legislation Cipta Kerja. Sebelumnya, Cara Pemerintah (PP) Nomor information Tahun 2014 masih menggolongkan FABA sebagai limbah B3.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menjelaskan, ketika FABA masuk dalam kategori limbah B3 maka maka akan sulit dimanfaatkan di tengah biaya pengelolaan yang besar.

Penghapusan abu batu bara dari limbah B3 merupakan usulan dari 16 asosiasi yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Tahun 2021, pemerintah memperkirakan terdapat 17 juta ton FABA yang dihasilkan dan pada 2050 diperkirakan mencapai 49 juta lot.

Namun, Jatam menyatakan FABA memiliki dampak buruk untuk kesehatan manusia dan lingkungan karena mengandung arsenik, merkuri, kromium, timbal dan logam berat lainnya.

Ahli kesehatan paru juga menyebut abu batu bara dapat mengakibatkan penyakit disebut coal workers pneumoconiosis yang beresiko menimbulkan kematian.

Ilusi pemanfaatan limbah

Dalam bagian penjelasan Pasal 459 Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, abu hasil pembakaran batu bara dri Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan kegiatan lainnya tak termasuk sebagai limbah B3.

Padahal menurut Koordinator Jatam, Merah Johansyah, FABA memiliki beragam partikel beracun, mulai dari arsenik, merkuri, kromium dan logam berat lainnya.

“Dampaknya jika terbang di udara akan menganggu kesehatan pernafasan manusia yg menghirup, lalu kalau mengalir ke air akan merusak biota laut, sungai lalu pesisir, dan air juga menjadi asam, ” kata Johansyah kepada BBC News Indonesia, Kamis (11/03).

Johansyah menjelaskan, saat FABA masuk dalam limbah B3 saja perusahaan telah abai, apalagi jika dikeluarkan.

Ia mencontohkan, 14 orang meninggal dunia akibat FABA yg ditimbulkan PLTU batu bara di Palu. “Mayoritas meninggal karena kanker nasofaring, paru-paru hitam, dan kanker paru-paru. Lalu di Kalimantan Timur, abunya masuk ke sumber air warga saat hujan, dan terbang masuk ke rumah saat musim kering, ” kata Johansyah.

“Perusahaan PTLU akan ugal-ugalan mengelola limbah, terjadi polusi di mana-mana, masyarakat sekitar sakit, dan perusahaan lepas tangan karena tidak termasuk B3 dan bukan tanggungan perusahaan. Lalu terjadi konflik. ” tambahnya.

Ia juga menegaskan, alasan nilai ekonomis FABA menjadi bahan konstrusi dan bangunan misalnya batako, dan semen hanyalah ilusi.

“Itu diciptakan untuk menyembunyikan kepentingan sesungguhnya, yaitu mengurangi biaya perusahaan yang besar dalam mengelola limbah dan melepas tanggungan sosial dan kesehatan ke masyarakat,, ” katanya.

Alasannya adalah pertama, ujar Johansyah, penggunaan FABA sangat berbahaya karena memiliki kandungan racun jika digunakan tuk bahan bangunan yang akan menguapkan saat musim kering.

“Kedua, jumlah FABA yang digunakan itu kecil presentasenya, karena harus dicampur pasir, air, dan unsur lain. Selama ini telah dijalankan juga tapi tidak berhasil. Jadi ini hanyalah alasan dan ilusi pura-pura hijau dan peduli lingkungan, ” kata Johansyah.

Menurut Johansyah, jiak FABA memiliki nilai ekonomis harusnya dikeluarkan regulasi yang memperkuat pemanfaatan, bukan malah mengeluarkannya dari kategori limbah B3.

“Jadi sangat politis mementingkan pengusaha, investor dan oligarki batu bara, selanjutnya tidak ilmiah alasannya serta menimbulkan beban lingkungan, kesehatan dan sosial, ” katanya.

“Jadi dari Jatam kami usul Pak Presiden dan juga yang pada Istana, coba berkantor pada dekat PLTU batu bara, coba hirup abu batu bara apakah FABA itu bukan limbah B3. Lalu, lihat juga bagaimana masyarakat sekitar sesak nafas, serta paru-parunya ada yang bolong karena abu ini, ” tutup Johansyah.

Senada dengan itu, peneliti dri Wahana Lingkungan Hidup Philippines (Walhi) Dwi Sawung mengatakan, keputusan ini merupakan “jalan pintas” yang diambil tuk melepaskan tanggung jawab pengolahan limbah FABA demi efisiensi biaya.

“Di aturan limbah B3 jelas kok, dari pengelolan hingga pemanfaatan. FABA itu banyak unsurnya dan tidak bisa disamaratakan, ada tingkatannya. Jadi harus dites. FABA bisa dimanfaatkan dengan tidak perlu dikeluarkan dari B3 cuma perusahaan mau ambil jalan singkat dan hemat, ” katanya.

Penyakit pernafasan pneumokoniosis

Guru besar pulmonologi dan ilmu kedokteran respirasi dari Universitas Indonesia, Faisal Yunus, menjelaskan abu batu bara dapat menciptakan penyakit pernafasan yang disebut pneumokoniosis pekerja tambang (coal worker pneumoconiosis), karena terjadi endapan elemen dari abu batu bara yang bersifat anorganik (tidak hidup) dalam paru-paru.

“Abu batu bara log in ke tubuh bisa langsung bereaksi dan bisa juga butuh waktu lama 10-15 tahun karena bersifat ‘jinak’, tergantung beberapa syarat, inch katanya.

Abu batu bara berbahaya jika memiliki konsentrasi yang tinggi, mengandung silikon bebas, masyarakat sekitar PLTU memiliki kesehatan yang rendah, dan memiliki penyakit tuberkolosisi.

“Abu batu bara akan menjadi jahat karena terjadi komplikasi. Gejalanya, batuk-batuk, dahak warna hitam, sesak nafas, hingga gagal pernafasan yang menyebabkan kematian, ” katanya.

Apindo sambut baik

Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani, menyambut benar keputusan pemerintah yang mengeluarkan FABA dari kategori limbah B3.

“FABA dri kajian akademik itu tidak merupakan B3, malah bisa didaur ulang dan mempunyai nilai ekonomis, ditimbang ditumpuk oleh karena itu hamparan yang akan mencemari tanah dan timbul masalah baru, ” kata Hariyadi.

Hariyadi menjelaskan, negara lain mendaur ulang FABA untuk dijadikan bahan bangunan dan konstruksi.

“Jadi saya tidak tahu kalau ada aktivis lingkungan yg mempersalahkan itu, ya teknik, kita lihat saja kenyatannya, di negara lain justru diolah dan menjadi berfungsi karena punya nilai komersil, ” katanya.

Pertengahan tahun lalu, 16 asosiasi di Apindo mengusulkan penghapusan abu batu bara dari daftar limbah B3. Industri Indonesia menghasilkan FABA sebanyak 10 to 15 juta ton per tahun dengan tingkat pemanfaatan hanya 0%-0, 96% untuk pemanfaatan fly lung burning ash dan 0, 05%-1, 98% untuk pemanfaatan bottom ash.

Organisasi peduli energi dan lingkungan, Trend Asia, menyebutkan dalam akun Twitter-nya bahwa penghapusan itu bukan terlepas dari desakan simultan Apindo dan Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI-ICMA) yang menjadi bagian di dalamnya sejak pertengahan tahun 2020.

“Keputusan pemerintah menghapus limbah batu bara dri kategori limbah berbahaya lalu beracun (B3) adalah keputusan bermasalah dan sebuah kabar sangat buruk bagi kelestarian lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat, ” twit Craze Asia.

Abu dri proses pembakaran batu bara pada PLTU, boiler, serta tungku industri tersebut selama ini tercantum pada Tabel 4 Lampiran I Cara Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3.

Pemerintah mendorong pemanfaatan FABA

BBC News Philippines telah mencoba mengkonfirmasi ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait oleh dasar penghapusan FABA dari kategori limbah B3. Pimpinan Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, Rosa Vivien Ratnawati, pada Kamis mengatakan akan ada penjelasan mengenai hal tersebut kepada media pada hari Jumat (12/3).

“Sebelum terbitnya PP 22 Tahun 2021, Kemenko Marves telah mendorong adanya revisi Permen LHK Nomor 10 tahun 2020 tentang Uji Karakteristik Limbah B3 untuk mengakomodasi penyederhanaan prosedur uji limbah FABA agar bisa dikecualikan dari status B3. Ini sesungguhnya sudah dibahas secara fine detail dan sudah diakomodir cara pengecualian FABA sebagai B3 dan dapat memanfaatkan FABA sambil menunggu hasil uji karakteristik toksikologi sub kronis yang memerlukan waktu cukup lama” kata Nani secara virtual pada Lokakarya Pemanfaatan Fly Ash Bottom Lung burning ash (FABA) Selasa (02/03).

Dengan regulasi ini, tambah Nani, PLTU yang banyak menghasilkan FABA sudah bisa begerak cepat dalam menyiapkan skenario dan peta jalan pemanfaatannya.

Dalam acara yang sama, penasihat khusus Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Yohanes Surya mengatakan oleh keputusan itu maka dapat menurunkan biaya produksi listrik dan mendapatkan keuntungan dri pemanfaatanya.

Cara penanganan limbah abu batu bara hingga saat ini masih terbatas pada penimbunan lahan sehingga jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan pencemaran.

Aplikasi pemanfaatan FABA yang sudah diterapkan di lapangan sebagian besar terkait oleh bidang konstruksi dan unterbau.

PLTU Paiton 1-2, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) telah memanfaatkan 100 persen fly ash sebagai green pozzolan untuk materials pembangunan jalan tol Manado – Bitung, di Provinsi Sulawesi Utara.

PLTU Asam Asam memanfaatkan FABA sebagai lapisan jalan dalam pembuatan akses jalan.

PLTU Suralaya memanfaatkan FABA sebagai bahan baku batako dan bahan baku di industri semen.