Pemimpin Jokowi disuntik vaksin CoronaVac keluaran perusahaan China, vaksinasi massal dimulai di tengah kendala cuaca hingga kapasitas lemari pendingin

presiden-jokowi-disuntik-vaksin-coronavac-buatan-perusahaan-china-vaksinasi-massal-dimulai-di-tengah-kendala-cuaca-hingga-kapasitas-lemari-pendingin-12
  • Abraham Utama
  • BBC News Indonesia

13 Januari 2021, 08: 17 WIB

Diperbarui 13 Januari 2021, 19: 42 WIB

Presiden Joko Widodo menjalani vaksinasi Covid-19 perdana desain perusahaan asal China, Sinovac, dalam Rabu (13/01), di Istana Negeri, Jakarta, yang menandai dimulainya program vaksinasi massal Covid-19 di Nusantara.

Presiden Jokowi mengatakan pada petugas bahwa dia tidak pernah terdeteksi positif Covid-19 dan menderita penyakit bawaan, seperti diabetes maupun penyakit jantung.

“Nggak terasa sama sekali, ” ujarnya setelah menerima vaksin CoronaVac.

Dalam kesempatan itu, Pemimpin Jokowi menegaskan vaksinasi Covid-19 penting dilakukan dalam upaya memutus pertalian penularan virus corona.

“Meskipun telah dilaksanakan vaksinasi, saya ingin mengingatkan kembali tentang pentinya peraturan terhadap protokol kesehatan. Ini pasti terus kita lakukan dengan mengindahkan masker, mencuci tangan, menjaga jangka dan hindar kerumunan, ” introduksi Jokowi, tanpa menyinggung tes serta pelacakan kontak yang disebut WHO sebagai tulang punggung respons penanganan pandemi Covid-19.

Menurut Jokowi, vaksinasi hendak dilanjutkan “di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota di seluruh Indonesia”.

Epidemiolog Masdalina Pane, kepada kantor informasi Reuters, mengatakan bahwa vaksinasi kudu disertai dengan peningkatan pengetesan serta pelacakan kontak.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan tes dan pencarian memang perlu ditingkatkan. Ia mengutarakan ada kesenjangan tes dan pencarian di antara kawasan-kawasan di Indonesia.

Vaksin yang dipakai di Indonesia merupakan CoronaVac yang dikembangkan perusahaan China, Sinovac.

Uji di Indonesia menunjukkan tingkat efikasi vaksin ini 65, 3% sementara di Brasil mengutarakan 50, 4%.

Kendala lain yang diutarakan sejumlah pihak adalah distribusi vaksin.

Ahli vaksin memprediksi pelaksanaan vaksinasi periode pertama di berbagai wilayah dalam Indonesia akan menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam proses distribusi serta penyimpanan.

Di sejumlah kawasan di Aceh dan Sulawesi Selatan, beberapa puskesmas harus bergantung pada genset dan panel tenaga matahari agar lemari pendingin vaksin terus-menerus beroperasi. Alasannya, listrik tak mengalir 24 tanda di daerah itu.

Persoalan vaksinasi Covid-19 secara umum akan terjadi di proses distribusi, menurut Jane Soepardi, ahli imunisasi sekaligus mantan pejabat tinggi Kementerian Kesehatan.

Apa kendala distribusi?

Jane berkata, peluang munculnya hambatan terjadi era vaksin didistribusikan ke lingkup terbawah, yaitu dari otoritas kabupaten ataupun kota ke puskesmas. Armada serta peralatan yang tidak menjamin kestabilan suhu, kata dia, rentan merusak vaksin.

“Masalah bisa terjadi pada jalan distribusi, saat vaksin keluar lantaran satu depo ke depo asing, ” ujarnya saat dihubungi, Selasa (12/01).

“Dari Bio Farma sampai ke depo provinsi pasti aman, sebab standarnya gunakan pesawat atau truk khusus berpendingin.

“Lalu biasanya biro kesehatan kabupaten mengambil ke daerah. Standarnya kabupaten punya mobil berlemari es yang khusus mengangkut vaksin, tidak boleh untuk angkut dengan lain.

“Rata-rata kabupaten punya tersebut. Mereka mengambil dengan kendaraan dengan memadai. Di Papua harus memakai pesawat.

“Nah yang terakhir dari kabupaten ke puskesmas dan rumah kecil. Biasanya puskesmas ambil menggunakan mesin. Di situlah kemungkinan terjadinya perkara. Itu praktik di lapangan, ” kata Jane.

Setelah vaksinasi terhadap Jokowi di Jakarta, pemberian vaksin secara resmi juga akan mulai digelar di berbagai daerah, meski tidak sekaligus. Pejabat publik berada di urutan pertama walau vaksinasi tahap kepala ini menargetkan tenaga kesehatan.

Bagaimana ciri cuaca dan pasokan listrik?

Di Aceh, vaksinasi pertama akan dilakukan 15 Januari mendatang. Namun hingga saat ini beberapa puskesmas dan rumah sakit mengaku belum mendapat kejelasan soal jatah dan proses pembagian vaksin yang akan mereka terima.

“Sampai sekarang kami belum mendapat info dari dinas, vaksinator juga belum dilatih, ” kata Misriadi, tenaga kesehatan di puskesmas Pulo Aceh, sebuah pulau di Kabupaten Aceh Besar, yang hanya bisa diakses lewat perjalanan laut.

Merujuk program vaksinasi tahun-tahun sebelumnya, seperti campak & rubella, Misriadi menyebut kendala pembagian ke pulaunya bukan armada maupun kotak pendingin, melainkan faktor iklim.

“Biasanya kami yang mengambil vaksin ke kabupaten. Kami bawa dalam kotak pendingin. Kalau sesuai SOP, bagian pasti aman. Kalau kotak tersebut rusak, misalnya menghantam kapal sebab badai, berarti itu faktor zona, ” kata Misriadi.

Potensi kerusakan vaksin juga bisa muncul, menurut Misriadi, jika aliran listrik ke pulaunya putus. Selama ini mereka menyiapkan genset agar lemari pendingin buat vaksin tetap bisa beroperasi.

“Kami punya lemari pendingin. Ukurannya 40×40 sentimeter. Bulan September kemarin ada metode perawatan. Kendalanya, listrik di sini 24 jam, tapi kalau mati bisa sampai dua hari. Memutar kami hanya bisa menggunakan genset, ” ucapnya.

Hal serupa juga diutarakan, Tomy Drajat, pengurus puskesmas di Bahan Lompo, sebuah pulau di rangkai kepulauan Kota Makassar.

Tomy berkata, cara pengambilan vaksin ke depo hak dinas kesehatan bergantung cuaca. & meski puskesmasnya memiliki satu kulkas besar untuk menyimpan vaksin, deraian listrik di pulaunya hanya mengalir dari pukul 6 sore sampai 6 pagi.

“Kondisi kulkas kami masih bagus. Kami kan pakai gaya surya, jadi ketika listrik mati di pagi hari, suhu kulkas tetap terkendali. Kami juga ada genset, ” kata Tomy.

“Kemarin saya dapat lagi bantuan satu cooler box khusus vaksin Covid-19, untuk transfer dari gudang farmasi ke puskesmas kami. Jadi kami saat tersebut punya enam kotak pendingin, empat ada di puskesmas pembantu, dua di puskesmas.

“Jadi kami insya tuhan siap, hanya saja mungkin dengan kami tunggu adalah cuaca. Buat Pulau Barang Lompo, Barang Caddi, dan Bonetambung bisa kami salurkan secepatnya.

“Tapi kondisinya berbeda untuk pulau-pulau lain seperti Langkai karena jaraknya lebih jauh dan bisa terkendala cuaca, ” tutur Tomy.

Ada persoalan lain?

Tetapi persoalan yang diprediksi muncul tidak cuma soal distribusi, tapi serupa kapasitas alat penyimpan vaksin.

Walau hampir seluruh puskesmas dan rumah sakit memiliki lemari pendingin, Jane Soepardi menyebut sebagian sarana penyimpanan vaksin saat ini penuh bervariasi jenis vaksin penyakit lain.

“Program imunisasi selama pandemi ini agak tertahan. Orang tua rata-rata takut mendatangkan anaknya ke puskesmas karena was-was tertular Covid-19, ” kata Jane.

“Karena layanan imunisasi berkurang, vaksin tidak terserap sehingga menumpuk. Dampaknya tidak ada ruang yang cukup untuk vaksin Covid-19.

“Vaksin Covid-19 yang didistribusikan ini dikemas dosis tunggal, artinya satu botol untuk mulia orang, jadi volumenya jadi gembung.

“Nantinya, Coronavac akan diproduksi Bio Farma. Mereka akan masukkan ke botol-botol dengan konsep multi ukuran. Kalau tidak, puskesmas harus membeli lemari es baru.

“Maka yang wajib diatur adalah waktu pengirimannya. Cold room di provinsi besar, vaksin mampu ditahan di situ, sedikit-sedikit tapi sering. Begitu juga di kabupaten. Dampaknya mahal di ongkos transmisi, ” ujar Jane.

Lemari pendingin pada RSUD Aceh Besar, misalnya, saat ini digunakan untuk beragam macam vaksin dan darah. Karena gaya tampung minim, direktur rumah rendah itu, Bunayya Putra, menyebut lembaganya hanya bisa menyimpan vaksin Covid-19 untuk penggunaan satu hari.

“Kalau misalnya kami harus menyimpan 200 vaksin, kami siap. Tapi kalau kudu, katakanlah menyimpan 2000 atau 3000 dosis, harus bertahap distribusinya. Kami belum mampu, ” ujarnya.

Prosedur pra-pelaksanaan vaksinasi itu juga dilakukan dalam Papua, kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aaron Rumainum.

Pada provinsi itu, tahap pertama vaksinasi Covid-19 hanya akan digelar di Kota dan Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Timika, untuk total tujuh. 340 orang.

“Kami jamin untuk Jayapura dan Timika aman, karena aparat sudah dilatih. Mereka harus catat suhu pagi dan sore, cara penyimpanan yang benar, mana vaksin berbahan dasar virus yang dimatikan, mana yang bahan dasarnya virus yang dilemahkan, ” kata Aaron.

“Kalau yang dilemahkan butuh dingin, kudu diletakkan di dekat kompresor, akan tetapi vaksin seperti Sinovac ini harus jauh dari kompresor.

“Nanti dengan jalan apa cara membawanya, menggunakan vaccine carrier , kotak dengan isinya air es, tidak bisa yang isinya es batu, ” ujarnya.

Mengapa rantai dingin begitu krusial?

Pada periode pertama Januari ini, PT Bio Farma (Persero) menyalurkan tiga juta dosis vaksin Covid-19 ke seluruh provinsi.

Kementerian Kesehatan sebelumnya membuktikan rantai dingin untuk tiga juta dosis itu dipastikan terjamin selama proses distribusi hingga penyimpanan.

Ahmad Yani, Pelaksana Harian Kepala Balai Tumbuh Badan Pengawas Obat dan Sasaran (BPOM) Makassar, menyebut pihaknya hendak turut mengawasi proses distribusi vaksin hingga ke puskesmas.

“Petugas, termasuk kami, akan memastikan kondisi sarana dan prasarana penyimpanannya, apakah seusai secara yang ditentukan. Itu paling sari, ” kata Ahmad.

“Sejak tiba, tiba dari bandara sampai tiba di tempat penyimpanan, kami selalu memeriksa kondisinya. Tentu tidak 24 tanda di situ, tapi kan ada petugasnya.

“Jangan sampai terjadi ada mutasi suhu yang drastis yang mampu mempengaruhi efektivitas dari vaksin tersebut sendiri, ” ujarnya.

Merujuk penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun kegagalan rantai dingin menyebabkan kerusakan hingga 50% vaksin di seluruh dunia.

Sementara dalam studi manajemen vaksin yang efektif (EVM) jarang Kementerian Kesehatan dan UNICEF tahun 2011 hingga 2012, banyak peralatan dalam rantai dingin di Nusantara tidak dirawat sehingga memicu kebobrokan vaksin.

Namun perbaikan telah digenjot, kata pendahuluan Jane Soepardi, sebelum program vaksinasi campak dan rubella massal tahun 2017 dan 2018.

Hingga tarikh 2018, merujuk data Kemenkes, 92, 2% atau sekitar 9. 800 puskesmas telah memiliki rantai santai yang sesuai standar.

Sementara lewat instrumen VIRAT ( Vaccine Introduction Readiness Assesment Tool ) yang disusun WHO, setiap dinas kesehatan diminta memantau kesiapan rantai dingin vaksin Covid-19.

Wartawan di Aceh, Hidayatullah dan jurnalis di Makassar, Darul Amri, berkontribusi buat artikel ini.