Pengungsi Afghanistan di Indonesia yang ‘terlupakan’, mereka bunuh diri dalam penantian

pengungsi-afghanistan-di-indonesia-yang-terlupakan-mereka-bunuh-diri-dalam-penantian-12
  • Kawoon Khamoosh
  • BBC World Service

25 April 2021, 09: 25 WIB

Diperbarui sejam yang lalu

Terpisah dari orang-orang yang benar dicintainya, Ali Joya mengakui kawannya, Mujtaba Qalandari, jadi keluarga. Kedua pengungsi sebab Afghanistan itu menghabiskan bertahun-tahun hidup mereka di Nusantara sambil menanti permukiman langgeng.

“Ia adalah karakter yang sangat cerdas, ” tutur Mujtaba tentang Ali.

“Ia selalu mau menetap di luar kampung suatu hari nanti buat menghidupi ibunya, yang beruang di Afghanistan. Dia selalu berkata, ‘Aku ingin mengesahkan masa depanku sendiri berantakan punya istri dan anak’. ”

Sayangnya, penantian itu terlalu lama bagi Ali – ia bunuh diri akhir tahun lalu. Ali masih berusia dua puluhan tahun, dan telah menunggui penempatan bagi para pelarian selama hampir delapan tahun.

Lidah Mujtaba Qalandari kelu ketika mendapati kematian Ali yang mendadak.

Ali adalah lupa satu dari setidaknya 13 warga Afghanistan di Nusantara yang bunuh diri dalam tiga tahun terakhir, patuh Mohammad Yasin Alemi, dengan bertindak sebagai perwakilan pelarian Afghanistan di kota Tangerang.

Mereka telah berada di Indonesia sejak enam hingga sepuluh tahun lalu, menyambut Badan Pengungsi PBB (UNHCR) memberikan permukiman permanen. Biasa dari mereka diyakini berusia dua puluhan tahun.

‘Limbo’

UNHCR mencatat sebesar 2, 7 juta warga Afghanistan terdaftar sebagai pelarian, membuat negara itu jadi penyumbang pengungsi terbanyak ke-3 di dunia.

Minimnya keamanan dan stabilitas ekonomi setelah invasi AS ke Afghanistan pada 2001 sudah berkontribusi pada eksodus tersebut.

Bekerja di Indonesia adalah hal yang terlarang bagi mereka, sehingga sulit mendapat akses layanan kesehatan tubuh dan pendidikan.

Banyak dari mereka tinggal pada kamp pengungsi. Beberapa telah menunggu lebih dari mulia dekade sampai negara ke-3 menerima mereka, sebuah cara yang difasilitasi oleh UNHCR.

Ini adalah iklim “limbo” – atau terkatung-katung, – yang dikenal elok oleh Mujtaba Qalandari, adam berusia 42 tahun. dengan tiga anak.

Bergabung keluarganya, ia bermigrasi ke Indonesia pada tahun 2015 untuk menghindari perang di Afghanistan dan mencari zaman depan yang lebih indah.

Istrinya, Gulsum, melahirkan bayi perempuan dan laki-laki dalam Indonesia. Ia menuturkan penantian yang mereka jalani telah menyebabkan depresi parah

“Kami mendaftarkan keluarga kami ke UNHCR pada 2015. Akan tetapi kami tak pernah dihubungi sejak itu. Kami sudah dilupakan, ” ujar rani berusia 34 tahun tersebut.

Karena minimnya komunikasi, rumpun itu tak yakin apakah mereka masih dianggap jadi pengungsi atau pencari suaka.

Alemi mengatakan kejadian bunuh diri pengungsi tetap meningkat.

“Alasan utamanya adalah proses penempatan kawasan oleh UNHCR yang lama. Mereka harus menunggu sedikitnya enam tahun.

“Masalah keuangan, kekhawatiran akan periode depan, dan kecemasan ialah masalah-masalah utama yang menyusun mereka bunuh diri. ”

Masalah global

Di tempat lain, pengungsi yang menanti permukiman selama bertahun-tahun bertemu kesulitan yang serupa.

Ada satu, 4 juta pengungsi di seluruh dunia yang membutuhkan permukiman permanen di negara selain tempat mereka zaman ini memiliki suaka, taat UNHCR.

Itu bisa siap karena kebutuhan pribadi, keamanan dan minimnya perjanjian universal.

Di seluruh dunia, tersedia 26 juta pengungsi & lebih dari empat juta pencari suaka pada 2019, sebelum pandemi virus corona dimulai.

Mujtaba Hossain ialah warga Afghanistan yang kehilangan seorang teman dekat.

Teman sekamarnya yang berumur 22 tahun, Abdul, sudah berada di Indonesia selama tujuh tahun – setahun lebih lama darinya.

Abdul, pria berusia 36 tahun, berharap mampu dipertemukan kembali dengan pedusi dan dua anaknya, yang tak bisa mengikuti ke Indonesia.

Namun Mujtaba berkata, pada akhirnya, dalam bulan Desember lalu, Abdul “menyerah dan mengakhiri hidupnya”.

Kematiannya sangat menghancurkan Mujtaba – mengingat almarhum adalah teman dekat satu-satunya di Indonesia.

“Ia karakter yang sangat energik, bercumbu-cumbu sepanjang waktu, dan hobinya pergi ke gym . ” sebutan Mujtaba.

“Kami beriktikad bahwa kemana pun tujuan hidup kami, kami hendak bertemu lagi di kala depan. Tapi ia melalaikan saya sendirian, di pusat perjalanan. ”

Hingga saat ini Mujtaba masih tinggal pada Tangerang, di kamar dengan sempit dengan satu jendela kecil yang dulu ia tinggali bersama Abdul.

Ia mengatakan sepertiga hidupnya “dihabiskan sia-sia” di daerah itu, seiring penantiannya akan permukiman permanen.

Sumber gambar, UGC

Perwakilan UNHCR di Indonesia, Ann Maymann, berkata kepada BBC bahwa kasus bunuh diri tersebut memilukan, namun menambahkan: “Hanya ada beberapa hal dengan dapat dilakukan oleh pemerintah, penduduk setempat atau melalui bantuan internasional. ”

Maymann mengatakan UNHCR akan memajukan layanan kesehatan mental, bagaikan konseling, untuk pengungsi, serta berupaya agar mereka bisa berbaur dengan masyarakat lokal.

Tetapi ia tak memberikan rincian tentang bagaimana ini bisa dicapai ataupun berapa banyak pengungsi & pencari suaka yang hendak mendapat bantuan.

Kementerian Luar Negeri Nusantara mengatakan inilah mengapa pelarian dan pencari suaka menunggu di negaranya.

Departemen Luar Negeri mencatat kalau pada tahun 2016, 1. 271 pengungsi mendapatkan kawasan permanen dari negara lain dari Indonesia.

Akan tetapi pada 2018 hanya 509 pengungsi yang mendapat permukiman permanen.

Musa Sazawar, seorang jurnalis TV berusia 42 tahun dari Afghanistan, merasakan kenyataan pahit dibanding statistik itu.

Sambil menahan air mata, ia mengatakan ketika meninggalkan keluarganya di provinsi Ghazni pada barat daya Afghanistan, istrinya tengah hamil.

“Anak saya berusia delapan tarikh dan saya masih belum melihatnya secara langsung. Beta belum merasakannya. Saya makin belum memeluknya, ” sirih Musa.

Keluarga Musa memaksanya meninggalkan Afghanistan setelah ancaman dari kelompok pemberontak lokal atas profesinya sebagai pewarta.

“Istri saya berceloteh, ‘Aku akan menjaga anak-anak kita, ‘” kata Musa.

“‘Lebih baik kalau mereka tumbuh dewasa serta tahu bahwa ayah mereka jauh tetapi masih tumbuh. Aku tidak ingin awak mati dan mereka tumbuh sebagai yatim piatu. ‘”

Setahun setelah dia meninggalkan negaranya, NATO memberhentikan misi di Afghanistan serta AS menarik pasukannya secara jumlah signifikan dan kekerasan meningkat di negara itu.

Ratusan ribu masyarakat Afghanistan yang lain terpaksa melariksan diri.

& kini, 8. 000 kilometer jauhnya, Musa hanya mampu bergantung pada panggilan video via ponsel agar mampu bertemu keluarganya.

“Itu sangat sulit. Saya bahkan tak bisa mengatakan kalau saya adalah seorang abu. Tapi apa solusinya? Itu semua karena masalah tersebut: migrasi dan situasi dalam negara yang membuat ana menjadi pengungsi. ”

Sesudah pergi untuk mencoba memberi keluarganya masa depan dengan lebih layak, ia menyuarakan apa yang ia kerjakan hanya menghasilkan kesedihan dan frustrasi.

“Hari-hari terburuk dalam hidup saya adalah tahun-tahun saya jauh dibanding rumah, ” katanya.

Lesthia Kertopati, Silvano Hajid Maulana dan Anindita Pradana berkontribusi pada keterangan ini.