Perempuan yang menyimpan abu jenazah orang yang salah semasa 10 bulan akibat kebijakan Covid-19 yang ‘amburadul’

  • Karina Medina Salazar
  • BBC News Mundo

dua jam yang lalu

Sumber gambar, Wladimir Torres, Periodistas sin Cadenas

“Mustahil! Abu jenazah ibu saya ada pada rumah. ”

Itulah yang dikatakan Elsa Maldonado, meski ragu-ragu, saat pihak berwenang di Ekuador menghubunginya dan memberi tahu kalau dia bisa mencari pemakaman ibunya, Enma Aguirre, dalam internet.

Enma meninggal pada 26 Maret 2020, di dalam usia 86 tahun, pada Rumah Sakit Los Ceibos di Guayaquil. Ini ialah kota di Amerika Selatan pertama yang tedampak Covid-19.

Tubuh Enma seharusnya dikremasi, dimasukkan ke dalam guci, lalu diberikan kepada keluarganya.

“Sejak baru, saya merasa itu bukan abu jenazah ibu saya, ” kata Elsa.

Setelah telepon itu, Elsa mengambil situs resmi pemerintah buat penanganan Covid-19. Di kian dia menemukan nama ibunya dalam daftar orang yang dikebumikan di pemakaman Parque de la Paz.

Siap abu jenazah siapa dengan dipegang Elsa selama 10 bulan terakhir?

Elsa memberkati abu itu setiap keadaan, tapi sekarang dia tak tahu apa harus tempat perbuat terhadap abu di garasinya tersebut. “Mustahil! Debu jenazah ibu saya ada di rumah. ”

Sumber gambar, Getty Images

Enma adalah satu dari ratusan orang yang meninggal karena Covid-19 di Guayaquil, praja terbesar kedua di Ekuador dengan populasi 2, tujuh juta jiwa.

Dan Enma juga salah satu korban yang keliru dikenali ataupun tidak diidentifikasi sama sekali.

Kekacauan terjadi di empat rumah sakit, termasuk wadah Enma meninggal selama puncak pandemi, antara Maret & April 2020.

Ketika tersebut jenazah mulai menumpuk dalam rumah sakit dan zona mayat. Pemerintah Ekuador langsung menggunakan wadah sampah untuk disimpan jenazah mereka.

Setahun setelah puncak pandemi, sedang ada 227 jenazah tak dikenal yang tersisa dalam kontainer rumah sakit & 62 jenazah di bervariasi kamar mayat Kota Guayaquil.

Selain itu, lebih sebab 100 keluarga tidak mengetahui keberadaan kerabat mereka yang meninggal.

Banyak keluarga tersebut tidak yakin pada identitas jenazah yang mereka kubur atau tidak percaya bahwa kerabat mereka dimakamkan dalam tempat yang diinformasikan negeri.

Akibatnya, kini beberapa keluarga meminta jenazah itu diangkat kembali.

Bagaimana Enma bisa berada di rumah lara yang salah?

Enma menderita anemia kronis. Dia mengandalkan transfusi darah secara tertib agar bertahan hidup. Tetapi ketika pandemi terjadi, pengobatannya berhenti.

Elsa sempat meminta transfusi darah untuk Enma ke Palang Merah & sejumlah rumah sakit.

Meski begitu, dia tidak bisa mendapatkan darah yang dibutuhkan ibunya.

Pada saat itulah dokter keluarga merekomendasikan biar Enma dirawat di sendi sakit.

Pada 25 Maret 2020, Elsa mengunjungi beberapa klinik swasta dan memohon agar mereka bersedia merawat ibunya. Tapi permohonannya gegabah.

Sumber gambar, Wladimir Torres, Periodistas sin Cadenas

Di dalam keputusasaan, Elsa pergi ke rumah sakit umum Los Ceibos. Di sana dia memohon selama berjam-jam pra akhirnya mereka bersedia merawat Enma.

Tapi Enma lalu berkata, “Ambilkan saya keterangan dokter dan bawa aku pulang. ”

Namun Elsa berkata ibunya justru dimasukkan ke bangsal pasien Covid-19.

Pada saat itu, layanan banyak rumah sakit dalam Kota Guayaquil sudah tumbang. Situasi ini disadari otoritas kesehatan lokal. Mereka mendatangkan pertemuan harian dengan bagian tim krisis di pusat-pusat kesehatan.

Di antara yang mengambil langkah gawat perlu itu adalah Paul Granda, mantan pimpinan Layanan Kesehatan tubuh Nasional Ekuador (IESS) & Otto Sonnenholzner, mantan Wakil Presiden Ekuador.

Sonnenholzner kala itu ditunjuk Presiden Lenin Moreno untuk mengarahkan servis kesehatan pemerintah di Guayaquil.

Banyak dokter meminta tumpuan klinik swasta saat pandemi ini, kata seorang tabib kepada BBC. Namun pemerintah hanya memerintahkan rumah lara umum untuk merawat penderita Covid.

Saat dihubungi BBC, Granda membenarkan bahwa perannya adalah “memotivasi” IESS. Tapi dia mengaku tidak peduli permohonan bantuan kepada klinik swasta.

Sumber gambar, Getty Images

Walau begitu, seorang anggota timnya, Mauricio Espinel, menyebut ada penolakan sejak klinik swasta karena ketidaksepakatan mengenai biaya.

Sonnenholzner berkata, beberapa rumah sakit swasta bersedia merawat pasien Covid, tapi tidak melakukannya sebab belum siap.

Para sinse di rumah sakit ijmal yang frustrasi menuding pemerintah tidak cukup tegas & tidak mengakui terjadinya krisis di Guayaquil.

Serangkaian seruan buruk

Di tengah genting, keputusan Kementerian Kesehatan Ekuador justru memberi tekanan tambahan kepada sistem kesehatan dalam Kota Guayaquil.

Pemerintah memerintahkan agar semua korban Covid-19, termasuk yang berstatus terkira, dikremasi. Padahal di kota itu hanya ada tiga krematorium. Mereka bahkan telah tidak mampu mengatasi level kematian akibat pandemi.

Saat di rumah sakit Elsa diberitahu, untuk mengambil & mengkremasi jenazah ibunya, tempat harus pergi ke Junta de Beneficencia.

Ini adalah badan amal swasta dengan bertanggung jawab atas pemakaman umum Guayaquil. Mereka mengarahkan dua krematorium.

“Putra beta berkata kepada saya, ‘Saya akan pergi dan mengatur dokumen, saya tidak mau kamu terinfeksi’, ” sirih Elsa.

“Saya berkata kepadanya untuk membayar berapa pun untuk mendapatkan abunya dengan cepat.

“Anak saya membayar US$570 (Rp8, 3 juta) menggunakan surat kredit, ” kata Elsa.

Tapi baru dua keadaan kemudian keluarga Elsa memperoleh abu jenazah Enma.

Bertambah rumit lagi, pemerintah Ekuador saat itu memberlakukan jam malam. Akibatnya, jam operasional krematorium dan kantor daftar sipil terbatas. Padahal merekalah mengeluarkan akta kematian.

Era kapasitas pasien rumah sakit terlampau dan jenazah berangkat membusuk karena pendingin dengan buruk, kerabat yang berduka mengantre berhari-hari untuk mendapatkan dokumen.

Ombudsman setempat menggugat tiga rumah sakit sesudah mempertimbangkan kesaksian 37 anak.

Pada audiensi Juni 2020, pejabat rumah sakit Guasmo Sur mengklaim tidak bisa mengatasi jenazah yang terus bertambah. Mereka lalu menodong bantuan Kementerian Kesehatan.

Patuh catatan persidangan, kementerian tak menjawab permohonan itu, tatkala otoritas rumah sakit tak memaksakan permohonan mereka.

Semasa persidangan, petugas rumah sakit Guasmo Sur menyimpulkan, kerabatlah yang harus disalahkan pada tumpukan mayat.

Menurut mereka, para keluarga tidak menjemput jenazah tepat waktu. Penjelasan ini memicu kemarahan anak yang berkabung.

Wadah serta penggalian

Seiring meningkatnya total laporan tentang kekeliruan penyerahan jenazah, kecemasan di antara keluarga korban terus meningkat.

Satu keluarga pernah melaporkan keterkejutan mereka. Berharap menerima jenazah saudara laki-laki itu, rumah sakit malah menganjurkan jenazah seorang wanita.

Sumber gambar, Getty Images

Enma adalah satu dari ratusan orang yang meninggal karena Covid-19 di Guayaquil, tanah air terbesar kedua di Ekuador dengan populasi 2, 7 juta jiwa.

Dan Enma juga salah satu korban dengan keliru dikenali atau tidak diidentifikasi sedikit pun.

Kekacauan terjadi di empat rumah melempem, termasuk tempat Enma wafat selama puncak pandemi, jarang Maret dan April 2020.

Ketika itu jenazah berangkat menumpuk di rumah sakit dan kamar mayat. Negeri Ekuador lantas menggunakan medan sampah untuk disimpan jenazah mereka.

Setahun setelah teratas pandemi, masih ada 227 jenazah tak dikenal dengan tersisa di kontainer panti sakit dan 62 jenazah di berbagai kamar pengabuan Kota Guayaquil.

Selain tersebut, lebih dari 100 tanggungan tidak mengetahui keberadaan kru mereka yang meninggal.

Banyak keluarga itu tidak yakin pada identitas jenazah yang mereka kubur atau tak percaya bahwa kerabat mereka dimakamkan di tempat yang diinformasikan pemerintah.

Akibatnya, kini beberapa keluarga meminta jenazah itu diangkat kembali.

Bagaimana Enma bisa berada dalam rumah sakit yang salah?

Enma menderita anemia kritis. Dia mengandalkan transfusi pembawaan secara teratur agar menetap hidup. Namun ketika pandemi terjadi, pengobatannya berhenti.

Elsa sempat meminta transfusi darah untuk Enma ke Palang Merah dan sejumlah panti sakit.

Meski sejenis, dia tidak bisa memperoleh darah yang dibutuhkan ibunya.

Pada saat itulah tabib keluarga merekomendasikan agar Enma dirawat di rumah melempem.

Pada 25 Maret 2020, Elsa mengunjungi beberapa klinik swasta dan memohon supaya mereka bersedia merawat ibunya. Tapi permohonannya sia-sia.

Sumber gambar, Getty Images

Mantan Gubernur Guayaquil, Pedro Pablo Duart, mengecam kesalahan penanganan jenazah di tiga panti sakit kota itu pada April 2020.

Pada saat yang sama, Kejaksaan Agung Ekuador memulai penyelidikan, walau temuan mereka belum terungkap.

Yang diketahui kemudian, jenazah dalam awalnya diberi label. Akan tetapi dalam kekacauan berikutnya, sebutan itu terlepas atau tintanya terhapus.

Elsa takut dia tidak bisa melacak jenazah ibunya jika dia tak bergerak cepat.

“Saya memberi tahu anak saya, ‘Kamu harus cepat mengurus dokumen’. Jadi dia bangun tanda 3 pagi untuk mulai mengantre. Kami takut pokok saya tersesat, ” sebutan Elsa.

Ketika akhirnya memperoleh sebuah guci berisi debu, Elsa berkata bahwa hatinya merasa itu bukan ibunya. Namun saat itu dia merasa lega.

Elsa tak lagi harus melalui apa yang keluarga lain wajar: berdebat dengan penjaga kebahagiaan, menunggu giliran masuk dunia mayat dan rumah rendah, melalui kontainer, atau mencari orang yang mereka cintai di antara ratusan susunan mayat.

Memeriksa kantong jenazah

Bau mayat maupun mengalami takut akan terpapar Covid-19 tidak menghalangi orang-orang tersebut memeriksa kantong jenazah satu per satu.

Beberapa sejak merkea merasa lega masa berhasil menemukan orang dengan mereka cintai, tapi harapan orang-orang yang lain buyar.

Miguel Angel Montero, antropolog di Layanan Forensik Medis Nasional, yang terlibat dalam proses identifikasi jenazah, yakin kekacauan dimulai di sendi sakit.

Menurutnya, rumah kecil tidak menerapkan sistem registrasi yang cermat atau rantai penjagaan yang sesuai buat jenazah.

Semua informasi mengenai jenazah mana yang diambil dan jenazah yang diletakkan di fasilitas kesehatan disimpan petugas keamanan.

Namun kala label mayat terlepas, sebutan Montero, kode nomor dalam daftar kertas tidak tersedia gunanya.

Pakar forensik dengan mencoba mengidentifikasi mayat di rumah sakit Guasmo Sur menemukan daftar ini tak membantu tugas mereka.

Selama persidangan Ombudsman melawanpemerintah, hakim memutuskan bahwa tanggungan tempat jenazah ada pada Kementerian Kesehatan dan rumah sakit.

Hakim menunggu kementerian menyampaikan bukti pengiriman jenazah, tapi akhirnya tetap tidak tersedia dokumen mereka ajukan.

Di akhirnya, hakim memenangkan pihak keluarga.

Sumber gambar, Getty Images

Walau begitu, para ahli forensik melihat urusan lain.

Beberapa pengabuan yang identifikasi tidak dikuburkan terdaftar sebagai yang dikuburkan di salah satu kuburan khusus Covid-19.

Itu sebabnya, pada November 2020 & dalam kerahasiaan, penggalian dilakukan untuk menguatkan identitas.

Dewan kejaksaan memberikan perintah untuk menggali jenazah 45 karakter yang meninggal di sendi sakit Los Ceibos.

‘Aku masih belum bisa melupakannya’

Ketika Elsa menerima telepon dari polisi yang menodong izin untuk menyelamatkan jenazah ibunya, dia sekali lagi diliputi kesedihan.

Elsa menyadari selama ini telah membenahi abu orang asing.

“Saya masih belum bisa melupakannya. Saraf saya hancur. Saya butuh psikolog untuk membantu saya, ” kata Elsa.

Penggalian pertama dilakukan dalam bulan November 2020 serta dilakukan kembali pada Januari dan Februari 2021.

Di akhir bulan itu, rumpun 12 dari 45 jenazah pertama tidak dapat dilacak. Para penyelidik kemudian meneruskan ke tes DNA.

Kesimpulan penyelidik waktu itu, 3 jenazah dikuburkan dengan jati orang lain.

Sumber tulisan, Wladimir Torres, Periodistas sin Cadenas

Hampir sebulan sesudah ditelepon otoritas kota, Elsa menerima pesan melalui WhatsApp untuk mengonfirmasi bahwa jenazah yang digali itu merupakan milik ibunya.

Pada tahap ini, Elsa membutuhkan kurang bukti lebih lanjut.

“Jadi saya meminta penyelidik mengirimkan foto jempol kakinya untuk memastikan. Saya berjanji untuk segera menghapusnya. ”

Akan tetapi tempat diberi tahu bahwa permohonan itu tidak diizinkan.

Barang apa yang Elsa terima merupakan foto dari beberapa kain bercorak berbunga-bunga yang tepat dengan piyama yang dipakai ibunya saat dia wafat.

Elsa mengenali cetakan tersebut. Tapi dia masih tidak memiliki bukti nyata tentang identitas ibunya.

“Itu adalah piyamanya, demi Tuhan! Akan tetapi siapa pun bisa memiliki piyama seperti itu. Saya ingin tahu pasti, ego harus menyingkirkan keraguan itu, ketidakpastian yang aku natural, ” kata Elsa.

Tersebut sebabnya Elsa meminta brevet DNA, jadi dia bisa tahu sekali dan untuk selamanya dan akhirnya bisa membaringkan ibunya untuk beradu.

Disunting sebab Eva Ontiveros