Presiden Filipina Rodrigo Duterte perintahkan militer dan polisi ‘habisi’ pemberontak komunis, 9 karakter tewas dibunuh aparat

presiden-filipina-rodrigo-duterte-perintahkan-militer-dan-polisi-habisi-pemberontak-komunis-9-orang-tewas-dibunuh-aparat-4

3 jam yang lalu

Sejumlah kelompok hak asasi manusia mendesak pemerintah Filipina menyelidiki kematian sembilan orang dan penangkapan empat orang lainnya dalam rangkaian gerak-gerik yang digelar kepolisian, di Minggu (07/03). Seorang politisi menyebut operasi tersebut “banjir darah”.

Rentetan perihal ini berlangsung setelah Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, meruah kepada kepolisian dan militer untuk “menghabisi” pemberontak komunis dan mengabaikan hak asasi manusia.

Mengaji juga:

Belum sahih apakah mereka yang mati dalam rentetan aksi alat merupakan pemberontak bersenjata ataupun aktivis sayap kiri.

Menurut sejumlah grup aktivis, di antara sembilan jenazah terdapat seorang motor lingkungan serta koordinator kaum kiri, Bagong Alyansang Makabayan.

Lembaga Human Rights Watch mengatakan aparat tak lagi membeda-bedakan antara pemberontak bersenjata dan aktivis.

“Rangkaian razia ini tampak menjadi bagian dari rencana terkoordinasi aparat dalam menggerebek, menangkap, atau bahkan membunuh para aktivis di rumah dan kantor mereka, ” sebutan Deputi Direktur Human Rights Watch di Asia, Phil Robertson.

Insiden-insiden ini, menurutnya, “jelas bagian dari propaganda perlawanan balik pemerintah yang kian brutal”.

“Masalah mendasarnya adalah kampanye ini tidak lagi membedakan antara pemberontak bersenjata, aktitivis nonkombatan, kepala buruh, dan pembela hak-hak, ” cetusnya sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam laporannya menyebutkan bahwa “mencap merah” atau melabeli orang dan kelompok sebagai komunis atau teroris, serta penghasutan aksi kekerasan semakin terang di Filipina.

“Pemerintah Filipina harus bertindak sekarang untuk menyelidiki penggunaan kekerasan membekukan dalam operasi ini, meniadakan kekisruhan, dan pembunuhan yang sejalan dengan praktik label merah, ” kata Robertson.

Apa kata Duterte?

Pemimpin Rodrigo Duterte, dalam pernyataannya pada Jumat (05/03), memerintahkan polisi dan militer “menghabisi” dan “membunuh” semua pengacau komunis di Filipina.

“Saya telah memerintahkan kepada militer dan polisi, bila mereka kontak senjata dengan pemberontak komunis, bunuh mereka, pastikan Anda membunuh itu, dan menghabisi mereka jika mereka hidup, ” kata Duterte.

“Hanya saya pastikan jenazah mereka dikembalikan ke keluarga masing-masing. ”

“Lupakan hak asasi manusia. Tersebut perintah saya. Saya bersedia masuk penjara, itu tidak masalah, ” seru Duterte dalam bahasa Visaya.

Bagaimana reaksi berbagai kalangan?

Sekretaris Jenderal Lembaga HAM Filipina, Cristina Palabay, mengecam aksi aparat.

“Tiada yang lebih cocok dari sebutan ‘Minggu Berdarah’, ” logat Palabay.

Baca serupa:

Letnan Jenderal Antonio Parlade selaku ketua satuan tugas antipemberontakan mengatakan pada kantor berita Reuters bahwa pihaknya melakukan “operasi penegakan hukum yang sah” & aparat bertindak menggunakan surat penggeledahan untuk mencari senjata api dan bahan peledak.

“Seperti biasa, kelompok-kelompok ini begtu cepat berasumsi kalau mereka [yang tewas] adalah para aktivis serta mereka dibunuh. Jika motifnya membunuh, seharusnya mereka seluruh tewas. Namun, ada juga mereka yang tidak melayani saat ditangkap sehingga mereka ditahan, ” kata Parlade.