Proyek peluncuran roket di Biak-Papua dinilai penting tapi masih ditolak masyarakat, apa masalahnya?

proyek-peluncuran-roket-di-biak-papua-dinilai-penting-tapi-masih-ditolak-masyarakat-apa-masalahnya-17

38 menit yang cerai-berai

Sumber tulisan, Dok. Forum Peduli Kawasa Byak

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan memulai pembangunan tengah peluncuran roket atau gembong antariksa di Biak, Papua, sebagai langkah awal membuat bandar antariksa internasional. Namun, langkah ini mendapat penolakan dari masyarakat setempat.

Sementara pengamat teknologi serta komunikasi dari ICT Institute berpendapat langkah awal tersebut baik bagi penelitian antariksa di Indonesia, namun perlu diawali dengan kajian risiko dan penyampaian yang terang ke masyarakat.

Sumber tulisan, SPACEX

Kenapa LAPAN terakhir sekarang membangun pusat peluncuran roket di Biak?

Kepala Biro Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Umum, LAPAN, Chris Dewanto, mengatakan dasar pembangunan pusat peluncuran berpandu di Biak, Papua, bukan pertama kali diwacanakan.

Kata pendahuluan Chris, sejak 1980an, LAPAN sudah memiliki tanah pada Desa Saukobye, Distrik Tumbuh Utara seluas 100 hektar yang sudah siap dijadikan pusat peluncuran roket. Agenda ini akan direalisasikan tahun ini karena masuk pada rencana strategi LAPAN, selalu merupakan amanat Undang Menjemput No. 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan.

“Diturunkan menjadi rencana sari keantariksaan nasional, kita harus menyiapkan bandar antariksa, ” kata Chris kepada BBC News Indonesia, Senin (22/03).

Saat ini LAPAN hanya memiliki satu-satunya tempat peluncuran roket di Pantai Cilauteureun Cikelet Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Namun, lokasi ini sudah padat penduduk, “Sehingga tidak memungkinan untuk roket-roket yang lebih besar. ”

“Oleh karena tersebut, kita mengembangkan roket sonda, dan nantinya ada berpandu peluncur satelit ke depannya, kita harus menyiapkan letak yang lebih pas, lebih strategis, lebih cocok, bertambah sepi, tidak ada penduduknya dan segala macam, ” kata Chris.

Fasilitas laksana apa yang akan dibangun?

Sumber gambar, Dok. LAPAN

Tahun ini, LAPAN mau memulai pembangunan dengan Telaah Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Saat ini tanah yang diklaim milik LAPAN sedang berupa hutan produksi dengan masih bisa dialih fungsikan.

Targetnya pembangunan itu selesai pada 2023 ataupun 2024 mendatang.

“Kalau di Biak ini (arahnya) langsung ke pantai. Jadi setelah tempat peluncuran setara laut, tidak ada apa-apa. Jadi sudah aman, ” kata Chris.

Lebih lanjut Chris mengatakan pembangunan infrastruktur di lahan seluas 100 hektar ini “tidak terlalu kompleks”. LAPAN hanya melaksanakan bangunan permanen yang tak terlalu banyak, dan perlengkapan yang bisa berpindah tempat.

Sumber gambar, Dok. LAPAN

“Semua pakai mobile system. Jadi tracking-nya pakai mobile. Nanti bentuknya kayak truk membawa container di dalamnya ada komputer-komputer, ada antena, ” kata Chris.

“Saat ini kita sudah dialog dengan PUPR, soal sarana dan prasarana infrastruktur, karena nggak mungkin kita menerbitkan roket, tapi tanahnya nggak siap, atau jalannya nggak siap. ”

Proyek induk peluncuran untuk roket sonda tingkat dua ini akan dibiayai oleh pemerintah. Peluncuran roket dilakukan 1-2 kala setahun.

Apakah ini arah dari proyek SpaceX?

Sumber gambar, Getty Images

Kaum waktu lalu, Presiden Joko Widodo menjajaki Indonesia menjadi tempat investasi dari perusahaan bos perusahaan mobil elektrik Tesla, Elon Musk. Lengah satunya adalah penawaran terkait dengan pembuatan pusat peluncuran roket.

Juru bicara LAPAN, Chris Dewanto, tak menelantarkan hal ini. Akan tetapi, pihak SpaceX belum tertarik untuk membangun pusat peluncuran roket di Indonesia. “Dia (SpaceX) tidak akan melakukan investasi di bidang peluncuran satelit. (Tapi) mulai membahas soal launch site untuk transportasi manusia dari praja ke kota, ” katanya.

Apa langkah selanjutnya?

Sumber gambar, Reuters

Proyek pendirian di Biak ini mau menjadi langkah awal buat menarik investasi pembangunan was-was peluncuran roket internasional.

Disebut Chris, saat itu Turki dan konsorsium sejak sejumlah negara sudah tergiring untuk berinvestasi membuat bandar antariksa internasional yang kemungkinan di Biak.

“Itu pantas kita jajaki. Belum ada hal defitinitf di akan kertas, proposalnya belum tersedia. Baru intensi saja, ” katanya.

Kenapa sebagian klub Biak menolak?

Sumber tulisan, Dok. Forum Peduli Kawasa Byak

Koordinator Forum Peduli Kawasa Byak, Maichel Awom, mengklaim rencana pembangunan tersebut dilakukan secara sepihak. Menurutnya, masyarakat khawatir pembangunan nantinya akan menggusur masyarakat, mengundang konflik horizontal dan merusak lingkungan.

“Karena belum ada kajian-kajian, sosialisasi mengenai dampak dari pembangunan itu, ” kata Maichel Awom pada BBC News Indonesia, Senin (22/03).

Penolakan ini tidak pertama kali, tapi sudah dilakukan pada 2006. Semenjak lama LAPAN berniat untuk membangun fasiltias peluncuran berpandu, tapi langkah ini dinilai sebagai “langkah sepihak”.

“Sehingga di dalam itu, kalau pemerintah mau bangun tersebut buka ruang duduk secara semua masyarakat biak, elok dewan adat, semua komponen, baru kita bicara. Tidak bisa ambil keputusan sepihak, ” tambah Maichel.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Apa tanggapan LAPAN?

Sejauh ini LAPAN tidak melihat adanya penolakan yang dilandasi alasan dengan kuat dari sebagian awak. “Kalau ada penolakan secara politis saya tidak mempunyai menanggapi itu, ” cakap Chris.

Sejauh ini Chris mengklaim pemerintah daerah sudah setuju pada rencana pendirian fasilitas peluncuran roket, tercatat DPRD setempat.

Sementara tersebut, Kepala Balai Kendali Satelit, Pengamatan Antariksa dan. Suasana, dan Penginderaan Jauh dalam Biak, Dian Yudistira mengatakan, pihaknya sudah “sosialisasi sebanyak 3 kali kepada klub. ”

“Memang ada beberapa bapak yang belum mendukung, mungkin harus ada pendekatan dari pemda setempat, ” kata Yudistira.

Seberapa besar risiko keberadaan pusat peluncur roket?

Sumber gambar, Getty Images

Umumnya, bandar antariksa internasional harus memiliki tempat yang cukup besar. Sebagai gambaran, Pusat Antariksa Tanegashima di Jepang yang memiliki luas 8, 64 kilometer persegi.

Pengamat teknologi sekaligus Direktur Eksekutif Nusantara ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan jarak aman pusat peluncuran roket itu ke pemukiman masyarakat sejauh 30 kilometer.

Ia memperhitungkan Biak menjadi tempat dengan strategis sebagai lokasi pembangunan pusat peluncuran roket. Lokasinya di khatulistiwa yang mempercepat jarak orbit, juga depan dengan laut sebagai tempat pembuangan sisa roket.

Mau tetapi, semua itu kudu dikaji terkait standard kesejahteraan bagi lingkungan sekitar, termasuk manusia. Hasil kajian itu, kata dia, perlu disampaikan kepada masyarakat.

“Dibutuhkan kepala lingkungan yang memang nihil. Agar ketika sesuatu dengan hal yang tidak diinginkan terjadi, ini tidak mendatangkan dampak ke lingkungan, konsekuensi ke manusia, ” sekapur Heru kepada BBC News Indonesia, Senin (22/03).

Dampak yang tidak diinginkan itu antara lain ketika roket meledak di darat, atau terjadi persoalan kala dalam perjalanan menuju angkasa. “Harus dikaji secara mendalam dampaknya seperti apa, lalu kalau terjadi hal-hal dengan tidak diinginkan bangaimana mengatasinya? Mitigasi seperti apa? Gres menyimpulkan akan di sana, ” lanjut Heru.