Sokongan korban meninggal Covid-19 tak mendatangi cair, Kemensos sebut ‘persoalannya sangat teknis’

santunan-korban-meninggal-covid-19-tak-kunjung-cair-kemensos-sebut-persoalannya-sangat-teknis-8
  • Abraham Utama
  • Wartawan BBC News Indonesia

4 jam yang lulus

Santunan sejak Kementerian Sosial untuk ahli pengampu orang-orang yang meninggal karena Covid-19 tidak kunjung tersalurkan, padahal kaum ahli waris mengajukan sejak pertengahan tahun 2020.

Selain itu, persyaratan kaya rekam medis dan hasil uji laboratorium disebut menyulitkan keluarga korban Covid-19 mengajukan santunan.

Kementerian Sosial cermat bicara saat dikonfirmasi terkait kasus ini. Seorang pejabat di departemen itu bilang hambatan penyaluran santunan ini “sangat teknis”.

Ary, seorang awak Depok, Jawa Barat, menangis zaman bercerita tentang upayanya mendapatkan sokongan dari Kemensos.

Suami Ary yang bekerja sebagai pembela di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, meninggal dunia diserang Covid-19 pertengahan Maret tahun lalu.

Suami Ary mengalami gejala yang sangat persis dengan Covid-19. Hasil uji usap juga menyatakan dia positif mengidap penyakit itu. Dia pun dimakamkan dengan aturan kesehatan ketat.

Meski begitu, kata Ary, pihak rumah sakit ketika tersebut tidak mengeluarkan akta kematian ataupun hasil laboratorium yang menyebut suaminya meninggal karena Covid-19.

Hal itu kini menghambatnya menerima santunan dari Kemensos.

“Pihak Kemensos tanya ke saya kamar sekitar Juni atau Juli tarikh lalu. Mereka maunya ada buatan lab bahwa suami saya tepat Covid-19, ” kata Ary era dihubungi, Rabu (17/02).

“Waktu itu tak dilakukan uji lab karena kedudukan suamiku sudah sangat parah, oleh sebab itu tidak ada surat lab.

“Bukan masalah santunan atau nilainya, tapi mereka tidak tahu bagaimana sakitnya suamiku. Aku enggak bisa menentang jenazah suamiku, aku juga kesudahannya dikucilkan, diisolasi, orang pada takut. Terus mereka berkeras harus tersedia hasil lab.

“Ya sudah aku ikhlas tidak terima bantuan lantaran Kemensos. Mungkin bukan rezekiku, ” ujar Ary.

Ary berkata, hal bertentangan terjadi saat dia mengurus santunan dari Kementerian Kesehatan untuk suku tenaga medis. Dengan advokasi Persekutuan Perawat Nasional Indonsia, Ary mengaku telah menerima santunan itu akhir tahun lalu.

Santunan untuk ahli waris orang yang meninggal akibat Covid-19 telah diumumkan ke publik sejak asal pandemi. Namun dasar hukumnya pertama diterbitkan oleh Kemensos pada Juni 2020.

Aturan itu berupa surat edaran untuk para kepala dinas baik provinsi di seluruh Indonesia. Tulisan itu diteken Adi Wahyono yang ketika itu menjabat Pelaksana Perintah Direktur Perlindungan Korban Bencana Sosial Kemensos.

Tujuh syarat santunan

Dalam surat informasi itu disebut bahwa santunan sejumlah Rp15 juta akan diberikan kepada setiap ahli waris yang memenuhi persyaratan.

Terdapat tujuh syarat yang kudu dipenuhi ahli waris untuk memperoleh santunan, satu di antaranya merupakan surat keterangan meninggal dari panti sakit atau puskesmas atau fragmen akte kematian dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

Ahli waris kudu mengajukan permohonan santunan melalui Biro Sosial di daerah di mana korban meninggal. Dinas Sosial ditugaskan untuk memverifikasi syarat dan mengirimkan yang lolos seleksi ke Kemensos.

Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat setidaknya sudah mengirim permohonan 120 terampil waris korban Covid-19 ke Kemensos. Namun belum ada satupun yang mendapatkan satunan.

Informasi itu dikatakan Besar Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat, Ngapuli Parangin-angin. Dia berkata, sebagian dari ahli waris bahkan sudah mengajukan sejak periode awal pandemi.

“Santunan itu kan langsung dikirim ke rekening ahli waris. Kami belum dapat laporan dari ahli pengampu, bahkan mereka bertanya bagaimana penyampaian santunan untuk orang tua, suami atau saudara saya? ” ujar Ngapuli.

“Kami tidak bisa jawab. Awak tanya ke kementerian, mereka beralasan masih diproses.

“Ada yang sudah mengajukan sejak April tahun lalu. Pangkal tahun ini juga ada yang mengajukan tapi kami bilang ke mereka supaya tidak terlalu berniat. Daripada kami yang dikejar-kejar, ” tuturnya.

Hal serupa juga terjadi di Serang, Banten. Kepala Dinas Sosial Serang, Poppy Nopriadi, mengaku tahu merekomendasikan dua ahli waris memperoleh santunan. Tapi hingga kini itu belum menerimanya.

“Kami pernah dulu pernah mengajukan dua orang. Sampai sekarang belum ada realisasinya jadi awak tidak mengajukan lagi karena tak direspons, ” kata Poppy.

“Sosialisasi soal santunan ini sudah kami kerjakan di awal pandemi, dalam bervariasi kesempatan. Tapi akhirnya karena Kemensos tidak ada respons, kami tak melanjutkannya, ” ujar Poppy.

Dinas Sosial Provinsi Banten mengaku juga telah mengirim 141 permohonan santunan ke Kemensos. Namun hingga saat itu baru sembilan ahli waris yang menerima santunan itu.

“Kami hanya merekomendasikan selalu. Dan semua yang diajukan, kami rekomendasikan ke Kemensos, ” sekapur Plt Sekretaris Dinas Sosial Banten, Budi Darma.

“Pencairannya langsung ke rekening penerima. Kami pun biasanya malah tidak tahu kalau sudah dicairkan, ” ujarnya.

Secara umum, jumlah cakap waris yang telah mengajukan sokongan jauh lebih sedikit ketimbang mutlak orang yang meninggal akibat Covid-19.

Pada Banten misalnya, hingga kemarin tersedia 604 korban meninggal dunia, tapi baru 141 ahli waris dengan mengajukan santunan.

Lantas apa jawaban Kemensos atas persoalan ini? “Penjelasannya sangat teknis, ” kata Penasihat Jenderal Penanganan Fakir Miskin, Asep Sasa Purnama.

Asep meminta BBC Indonesia meminta keterangan yang lebih rinci kepada Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial, Sunarti. Namun maka Rabu malam kemarin Sunarti tak menanggapi pesan singkat dan telepon.

November lalu, kepada pers di Jakarta, Sunarti berkata pihaknya masih membongkar-bongkar metode penyaluran santunan untuk ahli waris korban Covid-19.

Sunarti ketika itu berkata, Kemensos membutuhkan Rp27 miliar untuk program santunan ini.

Dalam riset Koalisi Warga untuk Keadilan Akses Kesehatan yang diterbitkan mula Februari lalu, persoalan dalam pembagian santunan juga mencuat, walau dengan spesifik yang menyasar keluarga gaya kesehatan yang meninggal akibat Covid-19

Mereka mengajukan sejumlah solusi agar program pemberian santunan seperti itu tidak terkatung-katung. Salah satunya, introduksi mereka, pemerintah harus merumuskan pemisah waktu penyaluran santunan.

“Agar tepat zaman dan tepat sasaran, ” tulis mereka.

Hingga 17 Februari kemarin, mutlak korban meninggal akibat Covid-19 pada Indonesia sudah mencapai 33. 596 orang.

W artawan di Serang , Sofyan Hadi, turut berkontribusi untuk liputan ini.