‘Surat wasiat’ pelaku teror bersirkulasi di masyarakat, bagaimana menyikapinya agar tak muncul pelaku baru?

surat-wasiat-pelaku-teror-beredar-di-masyarakat-bagaimana-menyikapinya-agar-tak-muncul-pelaku-baru-12

2 jam dengan lalu

Sumber gambar, ANTARA FOTO / Nyoman Hendra Wibowo

Kepolisian menyebut pelaku teror di Mabes Polri serta pelaku bom bunuh muncul di Makassar meninggalkan pesan tertulis kepada keluarga itu.

Walau pihak puak pelaku belum mengonfirmasi kebenaran pesan atau yang kini banyak disebut sebagai surat wasiat itu, isinya telah viral di media sosial.

Pola meninggalkan pesan sebelum melakukan aksi teror tidak baru kali ini menjelma, kata mantan anggota Jemaah Islamiyah.

Para karakter Bom Bali yang tergabung dalam organisasi teror tersebut dulu meninggalkan pesan lewat rekaman video.

Bukannya menyebar atau merundung pelaku teror, masyarakat, pertama muda-mudi, didorong berempati dan menyelamatkan orang yang berpotensi terjerumus terorisme.

Adapun Lembaga Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendesak Kementerian Komunikasi dan Informasi membatasi peredaran suruhan pelaku teror.

Ali Fauzi, mantan pembuat bom dengan pernah bergabung dengan pola teror Jemaah Islamiyah, membicarakan sejumlah pelaku Bom Bali meninggalkan pesan untuk tim sebelum melakukan aksi.

Suruhan dalam bentuk video tersebut, kata Ali, hampir sepadan dengan pesan Zakiah Aini, pelaku teror di Jakarta dan Lukman Alfariz, yang meledakkan bom di aliran Gereja Katedral Makassar.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIF

“Mereka membuat pesan audio visual untuk orang primitif, istri, anak, dan saudara-saudaranya. Banyak narasi dalam perintah itu adalah harapan kenikmatan surga, ” ujar Ali, Kamis (01/04).

“Jadi tersebut lebih dulu dilakukan para pelaku bom yang digalang Jemaah Islamiyah, ” ucapnya.

Menurut Ali, lewat pesan terakhir itu para pelaku teror berharap ada orang-orang lain yang meniru kegiatan mereka.

“Kalau dibaca oleh orang-orang yang berpikiran hina, pesan itu bisa sangat berbahaya. Jadi sangat penting membuat generasi muda yang kebal terhadap paham ekstrem, ” kata Ali.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Gaya dan tujuan di pulih pesan pelaku teror tersebut juga diamati Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris, bahwa surat wasiat itu dibuat untuk menggaet pelaku terakhir serta menyebarkan wacana perkara surga yang mereka yakini.

Menurut Irfan, menyebarluaskan perintah itu ke publik justru akan membantu para pelaku teror mencapai tujuan mereka, terutama ke sesama karakter muda.

Pelaku aksi teror di Makassar dan Jakarta rata-rata berumur pertengahan dua puluhan tahun.

“Jangan sampai yang sudah bercita-cita melakukan teror terpicu dengan beredarnya pesan semacam itu, ” logat Irfan.

“Generasi muda satu paket dengan militansi. Militansi itu seperti petrol, bisa setiap saat terbakar jika ada yang memicu.

“Yang tidak punya persiapan apa-apa saja bisa mendaftarkan perbuatan itu, apalagi orang yang sudah menekuni simpulan ekstrem, ” ujarnya.

Irfan menduga, Zakia sudah terpapar radikalisme sejak memutuskan beradu kuliah. Ia yakin Zakia terdorong menyerang markas luhur Polri setelah membaca tulisan Lukman Alfariz.

Pesan Lukman beredar di media sosial setelah dia tewas meledakkan diri di Gereja Katedral Makassar. Kini giliran pesan Zakia yang viral.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIF

Irfan berpendapat, Kominfo ialah otoritas terdepan yang perlu mencegah peredaran dan glorifikasi pesan pelaku teror.

Selama ini kementerian itu secara rutin menutup posisi yang mereka anggap mengandung konten ekstremisme.

BBC Indonesia sudah berusaha menghubungi Kepala Humas Kominfo, Ferdinandus Setu, untuk mendapat keterangan soal peredaran pesan pelaku teror itu.

Namun maka berita ini diterbitkan, Ferdinandus belum menanggapi permintaan wawancara.

Sementara saat dikonfirmasi mengenai peradaran pesan itu, pakar bicara Mabes Polri Irjen Argo Yuwono berkata, “Kami lakukan soft power dengan edukasi kepada masyarakat. ”

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Bagaimanapun, di tingkat akar rumput, publik semestinya membuktikan empati saat membaca perintah pelaku teror. Ini dikatakan Mohammad Aan Anshori, Kepala Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD).

Berempati, menurut Aan, bukan berarti mendukung paham serta terorisme.

“Pelaku seolah-olah Zakia ini harus dipandang sebagai korban. Setelah melihat pesannya, kita merundung dan mengecam, ” kata Aan.

“Jika dia sedang hidup, apakah pemikirannya akan sembuh atau dia justru semakin yakin bahwa pemikirannya benar?

“Jadi kita harus menghentikan aneka hujatan dan berempati pada pelaku dan calon pelaku yang sebenarnya korban ekstremisme, ” ujar Aan.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Bertambah dari itu, Aan memajukan agar generasi muda membiasakan diri berbaur dengan penganut agama dan keyakinan asing.

Merujuk sejumlah inspeksi dan penelitian, Aan menyuarakan masyarakat Indonesia lebih mengangkat hidup dalam kelompok seragam.

Padahal hidup di komunitas homogen disebut Aan justru menyuburkan pandangan bias, stereotip negatif, dan syak.

“Generasi muda non-Islam, pertama yang Kristiani, jangan takut dengan aksi teror ini dan justru semakin membaur dengan generasi muda Islam, ” kata Aan.

“Kalau orang muda Islam dibiarkan hidup dalam komunitas itu sendiri, maka mereka letak tunggu waktu untuk mampu terprovokasi.

“Kita perlu silang integrasi, lebih saling berbaur. Mulailah menambah teman yang berbeda agama.

“Jika kita takut berbaur, kita mau semakin hidup secara homogen dan friksi di antarkelompok malah akan semakin garang, ” ujar Aan.

Menurut survei BNPT yang dipublikasi Desember 2020, 85% generasi milenial Indonesia disebut rentan terpapar radikalisme.

Sementara setahun sebelumnya, kajian Lembaga Kupasan Islam dan Perdamaian mengungkap bahwa 52% pelajar membantu radikalisme berbasis agama.