Ulangan antigen bekas di Kualanamu: Epidemiolog peringatkan bahaya lemahnya pengawasan di bandara, Kemenhub janji akan evaluasi

tes-antigen-bekas-di-kualanamu-epidemiolog-peringatkan-bahaya-lemahnya-pengawasan-di-bandara-kemenhub-janji-akan-evaluasi-8
  • Pijar Anugerah
  • BBC News Nusantara

3 jam yang lalu

Sumber gambar, Antarafoto

Epidemiolog memperingatkan bahwa lemahnya pengawasan di bandara sanggup membuat pandemi Covid-19 semakin sulit dikendalikan, apalagi memasuki masa mudik lebaran.

Pandu Riono, epidemiolog lantaran Universitas Indonesia (UI), mengatakan pengawasan yang lemah hendak meningkatkan kemungkinan masuknya kasus dari luar negeri, indah yang dibawa oleh warga negara asing (WNA) maupun warga negara Indonesia (WNI).

Hal itu, ditambah tingginya mobilitas masyarakat saat pegangan – meski pemerintah telah resmi melarangnya – bisa menyebabkan lonjakan kasus sesudah lebaran seperti yang terjadi tahun lalu. “Setiap mobilitasnya masif akan diikuti dengan kenaikan kasus yang pas tinggi, ” kata Pandu.

Kelemahan dalam pengawasan di bandara terekspos oleh besar insiden yang terjadi belum lama. Polisi mengungkap kasus penggunaan alat bekas pakai untuk tes usap (swab) antigen di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Sementara itu dalam Bandara Soekarno-Hatta, empat karakter ditangkap karena diduga positif delapan orang yang gres tiba dari India menghindari karantina.

Tukang bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, mengatakan bahwa menyusul dua insiden tersebut, pihak berwenang akan melakukan evaluasi terhadap proses pengawasan pada bandara. Proses yang dievaluasi termasuk pemberian kartu pas bandara yang diduga digunakan oleh pelaku di Bandara Soekarno-Hatta. “Kami akan menolong agar kejadian tersebut tidak terjadi lagi, ” sebutan Adita.

Mengantisipasi lonjakan penumpang di masa mudik lebaran, Adita mengatakan Kemenhub hendak “meningkatkan koordinasi antar jawatan yang melakukan pengawasan pada prasarana transportasi dan menyelenggarakan sosialisasi intensif kepada operator transportasi. ”

Protokol kesehatan selama penerbangan

Insiden dengan mengungkap kelemahan dalam perlindungan, seperti yang terjadi dalam Bandara Kualanamu dan Bandara Soekarno-Hatta, menimbulkan kekhawatiran beberapa masyarakat akan keamanan bepergian dengan pesawat di era pandemi.

Ferry Rusli, dengan rajin bepergian untuk kesibukan pekerjaan sejak Agustus tarikh lalu, mengatakan beberapa kongsi penerbangan ekonomi atau low-cost carrier agaknya belum ideal menerapkan protokol kesehatan di dalam pengaturan tempat duduk.

Sumber gambar, Ferry Rusli

Taat Ferry, maskapai premium bagaikan Garuda Indonesia biasanya mengosongkan kursi tengah di di setiap barisan. Tetapi ketika tempat pergi ke Sumba menumpang Batik Air Oktober berarakan, dia kaget mendapati pesawatnya penuh. ” Full banget dan super rapat [tempat duduknya], ” ungkapnya kepada BBC News Indonesia.

Maskapai setimbang Garuda pun, kata Ferry, masih memberikan makanan selama penerbangan, yang membuat kurang penumpang mencopot masker pada atas pesawat untuk makan. “Baru belakangan ada imbauan sebaiknya makannya nanti sekadar, ” ujarnya.

Hal tersebut membuat protokol kesehatan terasa seperti formalitas belaka, sirih Ferry. “Oke ini prokes dijalanin jadi aturan aja, tapi dalam fungsinya tersedia yang miss . ”

Danang Zona Prihantoro, corporate communications strategic PT Lion Air, yang merupakan induk maskapai Menulis Air, mengatakan bahwa surat edaran Kementerian Perhubungan no. 3 tahun 2021 tak mengharuskan ada batasan kapasitas maksimal penumpang di di dalam pesawat, namun operator penerbangan wajib menyediakan tiga jalur kursi yang akan dipergunakan sebagai area karantina untuk penumpang yang terindikasi bergejala Covid-19 selama penerbangan.

“Pelaksanaan operasional penerbangan telah dijalankan sesuai aspek-aspek yang memenuhi unsur keselamatan dan kebahagiaan, serta sesuai dengan prinsip protokol kesehatan di sedang masa pandemi, ” sirih Danang melalui pesan wacana kepada BBC News Nusantara.

Sumber gambar, Antarafoto

Adita Irawati menjelaskan bahwa Kemenhub tidak lagi mengharuskan kapasitas pesawat maksimum 70% karena syarat untuk penumpang motor sudah sangat ketat. Misalnya, hasil tes baik PCR maupun antigen kini cuma berlaku 1 x 24 jam dibandingkan sebelumnya 3 x 24 jam. Selain itu, kata Adita, sirkulasi udara di pesawat juga sudah baik karena menggunakan filter HEPA seperti yang ada di ruangan ICU.

“Tentunya protokolnya memang kudu diketatkan. Protokol yang saya ketatkan itu antara asing masker tidak boleh dilepas selama di dalam pesawat, tidak ada makanan buat penumpang di penerbangan pada bawah dua jam, serta juga tidak dibolehkan berunding, ” ujarnya.

Adita mengatakan, pihaknya juga terus menunjukkan kepada maskapai agar awak kabinnya lebih tegas menyusun penumpang saat hendak terbang dan turun supaya tak terbentuk kerumunan. “Kami langsung meminta maskapai melakukan pemeriksaan dalam pengawasannya, ” ujarnya.

Sumber gambar, Antarafoto

Kacau seperti India

Memasuki era mudik Lebaran, pengawasan adat kesehatan di moda transportasi menjadi krusial demi mencegah lonjakan kasus.

Usai Lebaran tahun lalu, meskipun pemerintah juga sudah melarang pegangan, terjadi kenaikan jumlah kasus harian dan kumulatif mingguan sekitar 69 sampai 93 persen dalam 10 maka 14 hari setelah libur Idul Fitri.

Tri Yunis Miko Wahyono, epidemiolog sejak UI, memperkirakan pergerakan asosiasi akan tetap tinggi selama libur Lebaran. Menurutnya, tidak tidak mungkin akan terjadi lonjakan seperti di India.

Miko, begitu dia lazim dipanggil, mengatakan pemerintah menetapkan mengantisipasinya dengan menggencarkan penelaahan kontak dan tes beserta memperketat pembatasan sosial.

“Mudik ini mungkin tidak seperti India, tapi tetap berlaku peningkatan yang bisa lebih besar dari perkiraan sebab kasus yang tidak di- contact tracing atau OTG (orang tanpa gejala) itu akan memperbesar penularannya, ” ujar Miko.