Vaksin AstraZeneca: Belanda tunda penerapan karena kekhawatiran akan ekor samping

vaksin-astrazeneca-belanda-tunda-penggunaan-karena-kekhawatiran-akan-efek-samping-11
12 Maret 2021

Diperbarui 4 jam yang morat-marit

Belanda menjadi negara terbaru yang menangguhkan penggunaan vaksin virus corona Oxford-AstraZeneca karena kekhawatiran hendak kemungkinan efek samping.

Pemerintah Belanda mengatakan kiprah tersebut, yang akan berlangsung setidaknya hingga 29 Maret, adalah tindakan pencegahan.

Republik Irlandia sebelumnya membuat keputusan serupa atas laporan perihal pembekuan darah pada orang dewasa yang divaksin dalam Norwegia.

Tetapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan tidak ada hubungan antara vaksin dan risiko pembentukan gumpalan darah.

Badan Regulasi Obat Eropa (European Medicines Agency / EMA) – yang era ini sedang melakukan peninjauan terhadap insiden penggumpalan darah – mengatakan manfaat vaksin melebihi risikonya.

Denmark, Norwegia, Bulgaria, Islandia, dan Thailand telah menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca.

Tindakan apa dengan diambil pemerintah Belanda?

Di sebuah pernyataan, pemerintah Belanda mengatakan mereka mengambil aksi berjaga-jaga menyusul laporan daripada Denmark dan Norwegia tentang kemungkinan efek samping yang serius.

“Kami tidak bisa membiarkan keraguan tentang vaksin itu, ” kata Menteri Kesehatan Belanda Hugo de Jonge.

“Kita harus menetapkan semuanya benar, jadi bijaksana untuk berhenti sejenak sekarang. ”

Keputusan hari Minggu itu menjadikan penundaan program vaksinasi Belanda.

Pemerintah Belanda telah memesan 12 juta dosis AstraZeneca di muka, dengan dekat 300. 000 suntikan dijadwalkan dalam dua minggu ke depan.

Apa yang dianggap AstraZeneca?

Dalam sebuah penjelasan, AstraZeneca mengatakan tidak tersedia bukti peningkatan risiko pemekatan akibat vaksin.

Dikatakan kalau di seluruh Uni Eropa dan Inggris telah terjadi 15 peristiwa trombosis vena dalam (DVT) dan 22 peristiwa emboli paru di antara mereka yang divaksinasi.

“Sekitar 17 juta orang di UE dan Inggris saat ini telah menerima vaksin kami, dan jumlah kasus pemekatan darah yang dilaporkan di kelompok ini lebih nista daripada ratusan kasus dengan diperkirakan terjadi pada warga umum, ” kata Ann Taylor, kepala petugas medis perusahaan.

“Sifat pandemi telah menyebabkan peningkatan perhatian pada kasus individu dan awak melampaui praktik standar buat memantau keamanan obat-obatan berlisensi dalam melaporkan kejadian vaksin untuk memastikan keamanan umum. ”

Buat memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba pada mesin pencari lain

Apa kata WHO?

Pola Kesehatan Dunia (WHO) mengutarakan tidak ada alasan buat menghentikan penggunaan vaksin virus corona buatan AstraZeneca.

Pernyataan WHO dikeluarkan tak lama sesudah Bulgaria serta Thailand mengikuti langkah tiga negara Skandinavia untuk membatalkan sementara penggunaan AstraZeneca dalam program vaksinasi virus corona.

Langkah itu ditempuh menyusul kematian sejumlah orang di Eropa akibat pembekuan pembawaan, walau belum ada informasi sahih bahwa kematian dipicu vaksin tersebut.

Juru kata WHO Margaret Harris mengutarakan vaksin AstraZeneca aman digunakan.

“Amatlah penting dipahami kalau pihak berwenang di sejumlah negara itu mengatakan manfaatnya lebih besar dibandingkan risikonya, dan itu sangat penting. Sekarang, satu-satunya alasan penundaan di sejumlah negara merupakan karena mereka meneliti sinyal-sinyal keamanan itu.

“AstraZeneca merupakan vaksin yang unggul, serupa seperti vaksin-vaksin lain yang sedang digunakan, dan semacam yang saya katakan, ana telah mengkaji data mair, sejauh ini tidak tersedia kematian yang diakibatkan oleh vaksinasi, ” tegasnya.

Pemerintah Indonesia, yang baru selalu menerima 1, 1 juta dosis vaksin AstraZeneca mencuaikan skema Covax, mengatakan mau tetap menggunakan vaksin tersebut karena “sudah dikaji terpaut keamanannya”.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat untuk vaksin ini di 22 Februari.

“BPOM sudah bahas bersama ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization) dan para ulung di bidangnya juga, ” kata juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmidzi dalam pesan singkat pada BBC News Indonesia.

Thailand tunda AstraZeneca

Sebelumnya, Pertama Menteri Thailand, Prayut Chan-o-Cha, dan para anggota kabinetnya mendadak batal disuntik vaksin AstraZeneca, 30 menit pra sesi penyuntikan berlangsung Jumat pagi (12/3), sebagaimana dilaporkan BBC Thailand.

Pembatalan acara tersebut terkait dengan laporan adanya kasus penggumpalan darah dengan dialami penerima vaksin itu di tiga negara Skandinavia, yakni Denmark, Norwegia, serta Islandia, dan kemudian disusul Bulgaria.

Pemerintah Thailand selanjutnya menyatakan bahwa mereka akan menunggu hasil investigasi sebelum menentukan apakah vaksinasi dengan AstraZeneca tetap berlanjut. Kloter pertama 117. 300 vaksin AstraZeneca tiba di Thailand pada 24 Februari & PM Chan-o-Cha dijadwalkan menjelma yang pertama menerima vaksin tersebut.

Prasit Watanapa, Dekat Fakultas Pengobatan dalam Rumah Sakit Siriraj, memastikan bahwa program imunisasi dengan AstraZeneca itu ditunda setelah ada kabar penangguhan berasaskan vaksin itu.

“AstraZeneca masih merupakan vaksin yang bagus. Namun, terkait apa yang telah terjadi… kementerian kesehatan berdasarkan pertimbangannya memurukkan untuk sementara waktu penerapan AstraZeneca, ” kata Kiattiphum Wongjit, pejabat senior Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand, laksana yang dikabarkan Reuters.

Di Filipina, pemerintah setempat menyatakan tidak alasan untuk menangguhkan vaksinasi AstraZeneca di negara tersebut. Namun lembaga-lembaga terkait tengah berkoordinasi dan memantau perkara tersebut, demikian yang dikabarkan kontributor BBC di Filipina.

Uni Eropa klaim tidak ada indikasi

Sebelumnya, Regulator Obat-obatan Uni Eropa (EMA) menyebut jumlah kasus pemekatan darah pada penerima vaksin Oxford-AstraZeneca tidak lebih agung dibandingkan kasus yang berlaku di populasi umum.

EMA mengeluarkan pernyataan tersebut sesudah sejumlah negara seperti Denmark dan Norwegia menangguhkan pemberian vaksin itu kepada masyarakat mereka.

Penangguhan itu diputuskan usai muncul laporan bahwa sejumlah orang mengalami pembekuan darah setelah menerima vaksin Oxford-AstraZeneca.

Ada juga masukan bahwa seorang laki-laki berumur 50 tahun yang mutakhir menerima vaksin itu meninggal setelah mengalami deep vein thrombosis (DVT) atau penggumpalan darah pada satu atau lebih pembuluh darah vena dalam.

“Saat ini tidak ada indikasi bahwa vaksinasi menyebabkan kondisi itu, yang tidak terdaftar sebagai buah samping dari vaksin itu, ” demikian pernyataan EMA, Kamis (11/03).

“Manfaat vaksin ini terus-menerus melebihi risikonya dan vaksin dapat tetap diberikan di saat analisis kasus penggumpalan daerah berlaku, ” tulis mereka.

Hingga saat ini disebut terjadi 30 kasus trombosis daripada total lima juta karakter di Eropa yang sudah menerima vaksin itu.

AstraZeneca menyebut sudah meneliti ketenteraman obat secara ekstensif di dalam tahap uji klinis.

“Regulator memiliki standar kemanjuran dan keamanan yang sahih serta ketat untuk pengesahan obat baru, ” cakap seorang juru bicara perusahaan bio farmasi itu.

Pada Inggris, Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan (MHRA) menyatakan tidak ada informasi bahwa vaksin itu menerbitkan persoalan. Mereka menyebut setiap orang harus tetap melakukan vaksinasi sesuai jadwal yang ditetapkan untuk setiap pribadi.

“Penggumpalan darah dapat terjadi secara alami dan tak jarang. Lebih dari 11 juta dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca sekarang telah dikasih di seluruh Inggris, ” kata Phil Bryan, pimpinan bidang keamanan vaksin dalam MHRA.

Keputusan menghentikan sementara mas vaksin AstraZeneca menjadi kebobrokan dalam program vaksinasi di Eropa yang terhenti, jarang lain karena penundaan pengiriman obat.

Namun, Kamis kemarin muncul perkembangan positif masa EMA menyetujui penggunaan vaksin dosis tunggal buatan Johnson & Johnson.

“Vaksin yang lebih aman & efektif tersedia ke pasar, ” kata Presiden Premi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, dalam akun Twitter miliknya.

Namun kaum laporan memperkirakan bahwa pengiriman vaksin Johnson & Johnson tidak akan bergulir tenggat April mendatang.

Kamis kemarin, sebuah penelitian juga mengungkap bahwa vaksin yang dibuat perusahaan Amerika Serikat, Novaxvac, 96% efektif dalam menghalangi bentuk awal Covid-19 & 86% efektif melawan mutasi terbarunya yang muncul baru kali di Inggris.

Merujuk kantor berita AFP, Novavax berencana mengajukan persetujuan penggunaan vaksin mereka ke pemerintah Inggris selama kuartal kedua tahun 2021.

Negeri mana yang tidak memakai vaksin AstraZeneca?

Denmark, Norwegia, dan Islandia untuk tatkala menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca. Sementara itu, Italia dan Austria menghentikan pemberian jenis tertentu dari vaksin tersebut sebagai tindakan pencegahan.

Penundaan di Italia dan Austria dilakukan terhadap sejumlah vaksin AstraZeneca yang berbeda.

Estonia, Latvia, Lituania, dan Luksemburg menangguhkan penggunaan kelompok vaksin yang sama dengan Austria.

Adapun Rumania menangguhkan penggunaan 4. 200 dosis dari kelompok vaksin dengan sama dengan Italia.

Dalam pernyataan sebelumnya, EMA membicarakan keputusan Denmark merupakan pencegahan yang diambil saat pengkajian atas laporan pembekuan pembawaan berlangsung.

EMA menyatakan, pengkajian itu juga mencakup satu kasus kematian seorang masyarakat Denmark yang baru selalu menerima vaksin AstraZeneca.

Otoritas Pengawas Obat Italia mengecap keputusan mereka adalah upaya pencegahan. Meski begitu, tenggat kini mereka belum menemukan hubungan antara vaksin AstraZeneca dengan efek samping benar-benar lainnya.

Dua warga Italia dilaporkan meninggal setelah menyambut vaksin AstraZeneca.

Sumber yang tidak disebutkan namanya berkata kepada kantor informasi Reuters bahwa kematian itulah yang mendorong penangguhan pemberian vaksin untuk sementara masa. Regulator obat-obatan Uni Eropa (EMA) menyatakan tidak ada indikasi bahwa vaksin Covid-19 yang diproduksi Universitas Oxford dan AstraZeneca dapat memajukan risiko pembekuan darah.

Austria, sementara itu, mengambil keputusannya setelah seorang perempuan meninggal 10 hari setelah menyambut vaksin AstraZeneca. Dia disebut meninggal karena “masalah pembekuan darah yang parah”.

Dosis vaksin yang dikasih Austria kepada masyarakatnya merupakan bagian dari satu juta dosis AstraZeneca, yang diidentifikasi sebagai ABV5300. Jenis vaksin ini dikirim ke 17 negara Eropa.

Apa yang dipelajari orang Eropa dari satu tahun Covid-19?

EMA menyebut komite keamanannya medium meninjau kasus kematian di Austria. Namun mereka mengecap bahwa “tidak ada isyarat bahwa vaksinasi adalah penyebab kemetian itu”.

Tidak tersedia rincian kematian yang terjadi di Denmark, tapi pejabat kesehatan setempat menyebut bahwa mereka menghentikan penggunaan vaksin itu selama 14 hari ke depan.

Gajah Kesehatan Denmark, Magnus Heunicke, menyebut keputusan itu sebagai tindakan pencegahan.

Baik belum ada hubungan yang dipastikan antara vaksin AstraZeneca dan kematian tersebut, Henicke berkata mereka harus menanggapi kejadian itu tepat zaman dan secara berhati-hati, datang kesimpulan nantinya dicapai.

Institusi kesehatan masyarakat Norwegia membuktikan akan mengikuti langkah Denmark untuk menghentikan semua penggunaan vaksin sampai kasus Denmark diselidiki.

“Kami menduduki informasi lebih lanjut untuk melihat apakah ada kaitan antara vaksin dan kejadian pembekuan darah ini, ” kata Geir Bukholm, pemimpin Institut Kesehatan Nasional Denmark.

Islandia juga menangguhkan penggunaan vaksin tersebut. Kepala terampil epidemiologi negara itu berkata kepada lembaga penyiaran terbuka, Ruv, tentang lebih cantik berhati-hati daripada membuat kealpaan.

Di sisi lain, Prancis dan Jerman menyatakan mau terus menggunakan vaksin AstraZeneca. “Manfaatnya lebih tinggi daripada risikonya, ” kata Gajah Kesehatan Prancis, Olivier Veran.

Seberapa signifikankah urusan kesehatan yang terjadi?

Anal i sis oleh Michelle Roberts, editor BBC untuk isu kesehatan

Para pejabat terkait mengucapkan telah menerima laporan pembekuan darah yang fatal ataupun mengancam jiwa pada sejumlah kecil orang yang baru-baru ini menerima vaksin Oxford-AstraZeneca.

Kejadian itu jadi terdengar mengkhawatirkan, tapi belum diketahui apakah ada hubungan antara kedua hal itu.

Investigasi lengkap terhadap kualitas vaksin itu kini pantas berlangsung. Namun klaim bahwa vaksin itu sedikit pun kurang dianggap tidak mungkin dikeluarkan.

Secara keseluruhan, 30 peristiwa pembekuan daerah telah dilaporkan dari total lima juta orang yang menerima vaksin AstraZeneca di sejumlah negeri Wilayah Ekonomi Eropa.

Setiap pengobatan yang disetujui, termasuk vaksin, membawa risiko efek samping bagi sebagian karakter. Meski begitu, dampak dengan muncul biasanya ringan.

Menetapkan juga dicatat bahwa pembekuan darah dapat terjadi dengan alami dan kondisi tersebut kerap terjadi. Kondisi itu diyakini dialami sekitar kepala dari setiap seribu karakter di Inggris setiap tahun.