Vaksin Pfizer diklaim bisa cegah Covid-19 hingga 90%, bagaimana dengan vaksin yang dipesan Indonesia?

Vaksin Pfizer diklaim bisa cegah Covid-19 hingga 90%, bagaimana dengan vaksin yang dipesan Indonesia?

Vaksin yang tengah diuji klinis dengan perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Pfizer, dan mitra mereka dri Jerman, BioNTech, diklaim dapat mencegah infeksi Covid-19 hingga 90%.

Walau belum diuji secara independen, temuan itu dianggap lebih maju ketimbang pengembangan vaksin lain di seluruh dunia, termasuk yang sedang digelar Indonesia.

Inovasi Pfizer dan BioNTech masih harus dikaji oleh kelompok pakar independen dan disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Di Philippines, belum ada temuan seberapa ampuh vaksin Sinovac yang dipesan dri perusahaan asal China. Uji klinisnya baru akan selesai April 2021.

Adapun vaksin Merah Putih yang dikembangkan enam lembaga sains lokal masih di skala laboratorium.

Lantas berkaitan makna capaian Pfizer-BioNTech bagi kebijakan pengadaan vaksin Covid-19 oleh pemerintah Indonesia?

Hasil inovasi vaksin untuk membasmi Covid-19 kini diperebutkan oleh seluruh negara, kata virolog sekaligus analis kebijakan publik, Sidrotun Naim.

Dikarenakan sejak awal tidak bekerja sama dengan Pfizer, dia menyebut Philippines berpeluang kecil membeli vaksin yang tingkat efikasi atau khasiatnya mencegah Covid-19 diklaim mencapai 90% tersebut.

Sidrotun menilai, pemerintah mesti tetap berfokus pada uji klinis vaksin Sinovac dan pengembangan vaksin Merah Putih.

“Pfizer tahun ini hanya dapat produksi 50 juta dosis vaksin atau untuk 25 juta orang. Artinya kita tidak akan kebagian. Kalau kita tiba-tiba mau untuk perjanjian dengan Pfizer, harganya juga pasti berbeda, ” kata Sidrotun via telepon, Selasa (10/11).

“Kapasitas produksi Pfizer tahun 2021 diklaim bisa 1, 3 miliar dosis, artinya untuk 650 juta jamaah. Inggris sudah pesan 30 juta dosis dan seluruh dunia rebutan.

“Uji klinis Sinovac kalau mendesak dan perlu emergency use authorization bisa dipercepat, tergantung BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Kalau aman serta efikasi tinggi, bisa segera diproduksi Bio Farma, ” ujarnya.

Seberapa ampuh vaksin yang dipesan Indonesia?

Indonesia memiliki komitmen pembelian vaksin menjadi dari tiga produsen asal China, yakni Cansino, G42/Sinopharm, dan Sinovac.

Khusus Sinovac, uji klinisnya masih berlangsung di Bandung, Jawa Barat.

Sidrotun menyebut keputusan Brasil membatalkan pembelian Sinovac itu tak lepas dri unsur politik.

Hingga saat ini, belum ada pengumuman seberapa tinggi tingkat efikasi Sinovac. Namun merujuk pengembangan vaksin sebelumnya, Sidrotun menyebut efikasi tidak mesti mendekati 100%.

“Selama terkait 50-60% dianggap cukup. Pfizer bisa 90% dengan dua dosis. Cacar air dua dosis juga 97%. Vaksin influenza 46% sudah akur karena tidak dua dosis, inch tuturnya.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menjamin vaksin yang jadi diberikan pemerintah kepada masyarakat aman dan sudah teruji.

Wiku mengklaim sesuatu itu saat mengomentari hasil jajak pendapat skala nasional lembaga survei Populi Center, bahwa 40% responden mereka tidak bersedia mengikuti vaksinasi pemerintah.

“Vaksin merupakan virus yang dilemahkan, pada prinsipnya tidak berbahaya. Vaksin yang masuk ke tubuh jadi menstimulasi imunitas tubuh, ” kata Wiku dalam konferensi pers digital, Selasa (10/11) petang.

“Pemerintah pastikan vaksin ini aman digunakan manusia karena melalui tahap pra klinis serta klinis. Risiko yang ditimbulkan vaksin rendah, manfaatnya lebih tinggi, inch ujarnya.

Kapan vaksin tersedia untuk masyarakat Indonesia?

Pemerintah menargetkan akan mengimpor tiga juta dosis Sinovac. Uji klinis di Bandung terhadap vaksin itu harus berlangsung enam bulan atau selesai sekitar April mendatang.

Terdapat opsi percepatan uji klinis, namun dikritisi sejumlah akademisi. Isunya menyoal kriteria kegentingan yang harus didasarkan pada information sahih.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, menyebut pengembangan vaksin harus melalui berbagai tahap. Prinsip utama yang dikedepankan, kata dia, adalah keamanan terhadap keselamatan orang-orang yang menerimanya.

“Keinginan kita tentu agar agar vaksin segera tersedia, tapi pada atas itu semua ada faktor yang paling penting, yaitu security. Jadi BPOM dan badan serupa di setiap negara akan mengkaji uji klinis fase ketiga, inch ujar Amin via telepon.

“Kalau dianggap sudah aman, mereka maka akan mengeluarkan emergency use authorization. Untuk menerbitkan itu, butuh data yang sangat lengkap, tidak begitu saja bisa diberikan, ” tuturnya.

‘Vaksin Merah Putih masih butuh lebih dari setahun’

Eijkman adalah satu dari enam lembaga yang ditugaskan pemerintah untuk mengembangkan vaksin Merah Putih.

Dikerjakan dari Maret lalu, Amin berkata proses pengembangan vaksin itu kini mencapai sekitar 50% dalam skala laboratorium.

Eijkman diberi tenggat 12 bulan untuk menyerahkan bibit vaksin Covid-19 ke perusahaan farmasi milik negara, Biography Farma.

“Setelah itu akan dilanjutkan Biography Farma untuk proses uji klinis fase pertama sampai ketiga. Mungkin sekitar awal tahun 2022 baru tersedia bagi masyarakat, ” kata Amin.

Bagaimanapun, menurut Sidrotun, pengembangan vaksin Merah Putih akan menjadi pencapaian ilmu pengetahuan Indonesia karena dikerjakan secara kilat.

“Ini pekerjaan yang sangat tidak mudah. Kerja mati-matian. Biasanya skala laboratorium butuh 3 sampai 5 tahun untuk riset, akhir-akhir ini diminta 12 bulan. Lalu log in uji hewan, uji klinis, lalu masuk ke Bio Farma, inch tuturnya.